blank
Dalam bekerja sebagai kusir delman, Supriyanto, setia mengenakan beskap landung dan blangkon khas Kasultanan Yogyakarta, yang ada mondolannya di bagian belakang.(SB/Bambang Pur)

YOGYAKARTA (SUARABARU.ID) – Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja. Mengendarai kuda supaya baik jalannya. Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk
Tuk tik tak tik tuk tik tak suara spatu kuda…………..

Lagu Naik Delman adalah nyanyian populer anak-anak, ciptaan Pak Kasur, salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Soerjono atau yang biasa dipanggil Pak Kasur, adalah sosok yang begitu akrab di telinga anak-anak sejak era 1970-an.

Delman atau andong, adalah kereta kuda yang sekarang menjadi ikonik wisata di Kota Yogyakarta. ”Kalau ke rumah produksi kue Bakpia, taripnya seratus ribu. Tapi bila keliling sampai keraton Rp 250 ribu,” kata kusir delman (andong) Supriyanto. Pria berusia 65 tahun ini, mengaku telah menekuni sebagai kusir selama kurang lebih 15 tahun.

Warga pendatang dari Tasikmasdu, Surakarta, ini beristri dengan wanita Prambanan Yogyakarta. Dia memiliki 3 anak dan menjadi kakek dari 5 cucu. Biasa mangkal di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta. Delmannya ditarik satu kuda. ”Kuda ini, dulu saya beli Rp 45 juta, saat usianya masih 1,5 tahun,” tuturnya. Bodi kereta delmannya, kosongan (belum dilengkapi dengan asesories), harganya juga Rp 45 juta.

Supriyanto, menyatakan senang menjadi warga Yogyakarta. ”Ngarso dalem Hamengku Buwono (Gubernur DIY) itu orang baik, peduli terhadap pentingnya melestarikan delman,” pujinya. Dia menyatakan sangat berkesan, tatkala Ngarso Dalem menggelar tingalan dalem (ulang tahun) Ke-80.  Sebanyak 145 pedagang angkringan diborong, untuk memberikan layanan gratis makan minum bagi warga Yogyakarta, termasuk para kusir delman. ”Makan di tempat, tidak boleh dibawa pulang,” jelas Supriyanto.

Delman adalah kereta kuda tradisional, beroda empat, yang awalnya merupakan kendaraan eksklusif bagi para bangsawan Keraton Mataram (Islam) di Tanah Jawa. Baru memasuki Abad Ke-20, moda angkutan darat tradisional ini, pemakaiannya mulai dibuka untuk kalangan umum. Keberadaannya, kini menjadi kendaraan wisata yang ikonik dengan wisata Yogyakarta.

Belanda

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono (HB) VII, delman edisi mewah hanya digunakan oleh keluarga keraton. Rakyat jelata dilarang menggunakannya, dan hanya diperbolehkan memakai gerobak sapi.

Secara mekanis, memiliki roda empat. Roda depan, berukuran lebih kecil, dibandingkan dengan roda bagian belakang. Roda depan mempunyai jeruji 12 dan roda belakang 14 jeruji. Mempunyai nama-nama komponen, seperti buntutan, palangan, per, as roda, bos mangkokan, gulungan, cincin, ruji, bengkok, pelah ban karet dan roda.

Bahan utama kerangkanya dari kayu dan besi. Yakni dari kayu Jati (Tectona grandis) atau kayu Waru (Hibiscus tiliaceus) berkualitas. Pada Abad Ke-20, di masa Sultan HB VIII, penggunaannya diperluas untuk masyarakat umum. Seiring berkembangnya zaman, kini beralih fungsi menjadi transportasi wisata. Yang ngetem (menanti penumpang) di tempat strategis, menyambut para wisatawan dan siap mengantarkan untuk rekreasi ke Keraton Yogyakarta. Atau menyusuri sepanjang Jalan Malioboro yang legendaris. Siap pula mengantar ke rumah produksi Bakpia, kue khas Yogyakarta, dan menikmati menu kuliner Gudeg Yogya.

Pemerintah DIY memberikan proteksi agar andong atau delman tetap lestari. Kata Supriyanto, Yogya memiliki sekitar 450 delman. Bahkan Yogya punya Kampung Andong. Lokasinya di kawasan Bantul, tepatnya di Kampung Kenalan, Padukuhan Nglaren, Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

Menurut sejarahnya, kereta kuda ini pertama kali dicetuskan oleh Insinyur Belanda yang bernama Charles Theodore Deelman. Ia merupakan seorang ahli irigasi Belanda, yang bertugas untuk membangun sejumlah objek strategis di Jakarta. Konon, istilah “delman,” berasal dari kata “Deelman,” nama belakang Charles.(Bambang Pur)