JEPARA (SUARABARU.ID) – Di bawah langit pagi yang masih teduh, kawasan Desa Wisata Tegalsambi perlahan mulai hidup. Embusan angin yang sejuk menyapu pepohonan di sekitar taman, sementara langkah-langkah ringan para pengunjung terdengar bersahutan di jalur jogging. Dari kejauhan, tawa anak-anak yang bermain ayunan dan seluncuran berpadu dengan suara obrolan warga yang menikmati akhir pekan.
Beberapa gazebo tampak dipenuhi keluarga yang beristirahat selepas berolahraga. Di sisi lain taman, kolam ikan menjadi sudut tenang yang sesekali mengundang pengunjung berhenti sejenak, memandangi riak air dan ikan-ikan yang berenang pelan. Suasana santai itulah yang membuat kawasan Desa Wisata Tegalsambi terasa lebih dari sekadar tempat rekreasi. Pagi di sana seperti ruang kecil bagi warga untuk melepas penat.
Di antara deretan kedai yang mulai ramai melayani pembeli, Kedai Moms Milka tampak sibuk sejak pagi. Aroma nasi uduk dan jajanan hangat menguar dari dalam ruko sederhana milik Karina (37), seorang ibu rumah tangga asal Bangsri yang sejak November 2025 mencoba membuka usaha di kawasan wisata tersebut.
“Ini usaha pribadi, cuma rukonya saya sewa,” ujar Karina saat ditemui Fokuspers, Sabtu (9/5/2026).
Setiap hari, kedai itu buka mulai pukul 07.00 hingga 20.00 WIB. Namun, aktivitas Karina sudah dimulai jauh sebelum matahari terbit. Seusai salat subuh, ia menyiapkan dagangan sebelum menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari rumah menuju Tegalsambi.
Rutinitas itu tidak pernah ia keluhkan. Bagi Karina, berjualan di kawasan wisata justru menghadirkan suasana berbeda dibandingkan tempat lain. Di sela kesibukan melayani pembeli, ia kerap menikmati suasana taman yang asri.
“Jualan di sini rasanya jadi lebih enjoy dan menyenangkan. Kadang saya suka duduk di pinggir kolam sambil lihat ikan berenang,” katanya sambil tersenyum.
Meski begitu, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Ada hari-hari ketika kawasan wisata ramai dipadati pengunjung, tetapi ada pula waktu sepi, terutama menjelang akhir bulan.
“Kalau lagi sepi biasanya pas tanggal tua, omzetnya sekitar Rp60.000 sampai Rp70.000 per hari,” ujarnya. Namun saat pengunjung ramai berdatangan, dagangannya bisa habis lebih cepat dibanding hari biasa.
Karina memilih menjalani semua itu dengan santai. Baginya, usaha kecil yang ia bangun bukan hanya soal keuntungan, melainkan tentang ketekunan dan rasa syukur.
“Cukup dijalani dengan percaya diri saja. Insyaallah hasilnya berkah,” tuturnya.
Di pagi yang terus bergerak itu, para pengunjung silih berganti datang ke Kedai Moms Milka. Sebagian membeli minuman setelah berolahraga, sebagian lagi memilih sarapan sambil menikmati suasana taman.
Shakira, salah satu pengunjung yang pagi itu mampir selepas jogging, mengaku menyukai suasana sarapan di kawasan Desa Wisata Tegalsambi.
“Biasanya habis jogging saya lapar. Enak banget kalau sarapan di sini sambil menikmati pemandangan taman,” ungkapnya.
Pagi di Tegalsambi akhirnya bukan hanya tentang olahraga atau wisata. Di balik keramaian taman dan riuh anak-anak bermain, ada cerita sederhana tentang orang-orang yang menggantungkan harapan melalui usaha kecil, sekaligus menghadirkan kehangatan bagi siapa saja yang datang menikmati suasana.
Septiana W – Adelia













