SRAGEN (SUARABARU.ID) – Atap ruang kelas MTs Muhammadiyah 4 di Dukuh Bulu, Desa Karanganyar, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, ambrol Selasa (12/5/2026) Pukul 07.45 Ambrolnya atap berukuran sekitar 8m x 10 m di ruang kelas 1 itu menimpa tujuh siswa dan seorang guru, Eka Nurul Ismiyati (35).
Tujuh siswa dan seorang guru yang mengalami luka-luka dilarikan ke Puskesmas Sambungmacan 1, namun kemudian 6 siswa dirujuk ke RSUD dr.Soehadi Prijonegoro untuk menjalani perawatan dan seorang siswa dirujuk ke RSI Amal Sehat.
Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari turun langsung meninjau lokasi ambrolnya atap ruang kelas di MTs Muhammadiyah (MTsM) 4 Sambungmacan, Selasa (12/5) siang.
Di tengah puing-puing material yang berserakan, terungkap fakta miris, bangunan yang menimpa delapan korban. “Itu bangunan tua, sudah lama tidak tersentuh renovasi,” tuturnya.
Mengenakan seragam dinas, AKBP Dewiana mengamati kayu kuda-kuda penyangga yang lapuk. Gedung tersebut pertama kali berdiri pada 1978 dan terakhir kali mendapatkan sentuhan renovasi pada tahun 2000.
“Artinya sudah 26 tahun bangunan ini berdiri tanpa renovasi lagi. Kalau dilihat tadi, bagian atapnya memang sudah lapuk semua. Inilah yang diambil tim Satreskrim sebagai barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut,” tegas AKBP Dewiana di lokasi kejadian.
Perwira menengah itu meminta pihak sekolah untuk segera memulangkan seluruh siswa. Upaya itu diambil bukan sekadar untuk menjaga status quo Tempat Kejadian Perkara (TKP), namun demi kesehatan mental para siswa yang menyaksikan langsung kengerian tersebut.
Pulihkan Kondisi Psikis
“Kalau melihat itu anak-anak syok dan trauma. Biarkan mereka istirahat di rumah dulu untuk memulihkan kondisi psikisnya,” tuturnya dengan nada penuh empati.
Terkait tujuh siswa dan seorang guru yang kini masih dirawat di rumah sakit, AKBP Dewiana memastikan pihak kepolisian akan terus memantau perkembangan medis mereka.
Setelah dari lokasi, ia bergegas menuju rumah sakit untuk memberi dukungan moral langsung kepada para korban dan keluarga.
Kapokres sudah berkomunikasi dengan pihak Yayasan. “Mereka menyatakan akan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya pengobatan para korban,” tuturnya.

Kapolres menekankan agar pengurus cabang maupun yayasan lebih proaktif dan bertanggung jawab dalam pemeliharaan fasilitas pendidikan. Jangan sampai, gedung sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk menimba ilmu, justru berubah menjadi ancaman nyawa.
Ke depan harus ada mapping kembali. Sekolah-sekolah yang kondisinya sudah tidak layak harus segera didata dan diajukan untuk tindak lanjut. Jangan sampai ada kejadian serupa yang terulang.
Hingga siang ini, garis polisi masih melintang di area kelas MTsM 4 Bulu. Penyelidikan mendalam masih berlangsung untuk menentukan apakah ada unsur kelalaian dalam pemeliharaan gedung sekolah.
Anind













