blank
Menu spesial sup buntut yang ada di Dieng Kledung Pass Restaurant Wonosobo terasa gurih dan nikmat. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-  Wisata kuliner kini sedang jadi trend di tengah masyarakat. Saat ini wisatawan tidak sekadar berburu tempat wisata alam tapi juga coba mengulik menu khas di daerah wisata yang dikunjungi.

Wonosobo merupakan daerah wisata yang punya view indah alam pegunungan. Sebagai destinasi wisata alam, daerah ini juga menyimpan khasanah wisata kuliner yang cukup beragam.

Salah satu wisata kuliner khas daerah tersebut berada di Dieng Kledung Pass Restaurant Wonosobo. Menu tersebut, yakni Sup Buntut dan Sate Jamur. Dua menu itu punya cita rasa yang gurih dan enak dinikmati.

Restaurant yang berada di wilayah perbatasan Temanggung-Wonosobo itu, menyatu dengan Hotel. Jadi tamu bisa sekalian menginap di hotel atau hanya sekadar untuk wisata kuliner menikmati menu khas yang ada.

Owner Dieng Kledung Pass Hotel dan Restaurant Wonosobo Eunike Martanti mengatakan menu sup buntut merupakan menu istimewa yang rasanya sungguh sangat nikmat. Sekali nyantap, langsung paham kenapa jadi langganan wisatawan atau pengunjung di resto dan hotel ini.

“Kunci sup buntut ada di bumbu rempah. Caranya mengolahnya, buntut sapi direbus 3-4 jam sampai kolagen dan sumsumnya lumer. Hasilnya, kuah bening tapi _nendang_, gurihnya tebal dan nempel, di langit-langit mulut. Beda sama sup ayam yang lebih ringan rasa dan mulut,” jelas Mbak Nike.

Dipaparkan, daging di sup terasa empuk dan penuh urat dan lemak. Kalau masaknya pintar, tinggal sedot sedikit langsung lepas dari tulang. Teksturnya lembut tapi masih ada _bite_ dari uratnya. Sensasi _gelatinous_ dari kolagen bikin mulut berasa “licin dan enak”.

“Nggak cuma gurih. Sup buntutnya, ada aroma rasa segar dari pala, cengkeh dan kayu manis yang anget di badan. Ditambah wortel, kentang, tomat, daun bawang seledri yang bikin rasanya _balance_. Asem sedikit dari tomat/ sambal dan jeruk nipis bebas eneg,” ucapnya.

Menurut Mbak Nike, aroma rempah yang mewah begitu terasa
waktu mangkok datang, kecium wangi pala dan kaldu sapi yang _rich_. Aromanya beda sama soto atau rawon. Lebih elegan, cocok buat acara spesial. Sumsum dapat diseruput langsung dari tulang buntut. Gurih, creamy, legit. Inilah “caviar”-nya sup buntut.

“Ada pula kolaborasi daging empuk, wortel kentang, bawang goreng kriuk dan emping melinjo yang terasa kriuk-kriuk enak. Mau tambah pedas tinggal ulek sambal rawit, mau segar tambah peras jeruk nipis, mau asin sedikit ditambah kecap asin,” katanya.

Diceritakan, kuah bening-keruh, rempah pala-cengkeh dominan, ada irisan tomat dan daun bawang bikin segar dan wangi. Kuah bisa lebih gelap, jika disirami kecap manis dan ada taburan bawang goreng.

“Sup buntut bisa ditemani pasangan wajib nasi putih panas. Kuah sup buntut bisa disiram ke nasi panas. combo maut. Kombinasi emping melinjo, rasanya bisa memotong gurihnya kuah sup buntut. Sambal rawit dan jeruk nipis dapat menambah dimensi pedas serta segar sup buntut ini,” ujar dia.

Sate Jamur

blank
Menu spesial sate jamur yang ada di Dieng Kledung Pass Restaurant Wonosobo sangat enak dinikmati. Foto : SB/Muharno Zarka

Ditambahkan Mbak Nike, adapun cita rasa sate jamur menjadi bukti kalau “sate” di restaurant ini nggak harus berbahan daging. Buat yang vegetarian, diet atau sekadar pengen jajan sehat, rasanya sate jamur bisa bikin nagih di lidah.

“Jamur, apalagi jamur tiram dan jamur kancing, itu gudangnya rasa umami alami. Pas dibakar, umaminya keluar makin kuat. Gurihnya mirip daging tapi lebih ringan dan nggak bikin eneg,” kisahnya membuka “rahasia” olahan menu sate jamur miliknya.

Cara mengolahnya, tambah dia, jamur tiram disuwir, kenyal kayak suwiran ayam, tapi lebih _juicy_ karena nyimpen air. Jamur kancing utuh, pas digigit _crunch_ di luar, _juicy_ di dalam. Kalau pake jamur merang, lembut dan lebih lumer.

“Jamur itu pori-porinya gede, jadi bumbu marinasi gampang nyerep. Pas dibakar arang, dapet aroma _smokey_ khas bakaran. Bumbu kecap manis-pedas bikin karamelisasi di pinggir jamur legit,” kisah Mbak Nike.

Karena basic-nya jamur itu _mild_, menurutnya, sate jamur butuh temen, yakni sambal kecap rawit, sambal kacang, atau sambal matah. Ditambah timun dan tomat biar segar serta nggak _flat_.

“Varian bumbu kecap rasanya cukup manis, gurih dan pedas. Ada karamel bakaran dan pedas cabe rawit. Ada pula bumbu kacang terasa gurih, legit dan kremes. Mirip sate ayam Madura tapi lebih ringan. Tak ketinggalan rasa asin, gurih dan pedas jeruk nipis,” ungkapnya.

Yang bikin beda sama sate daging, kisah dia, adalah sate jamur lebih ringan di perut. Tidak ada kolesterol dan rendah lemak. Habis 10 tusuk tetep nggak _begah_. Sate jamur juga tidak ada bau prengus seperti sate daging kambing atau sate daging sapi.

“Aromanya wangi jamur bakar dan bukan amis daging. Sangat cocok bagi penganut aliran vegetarian dan bisa untuk diet. Harganya merakyat karena 1 porsi 10 tusuk hanya Rp 10 sampai 15 ribu saja,” sebut dia.

Menurutnya, pasangan wajib agar sate jamur makin mantap, yakni lontong atau nasi dan bumbu kacang. Terdapat sambal kecap dan irisan cabe rawit serta bawang merah. Bisa dipadu dengan jeruk limau, diperes di atas sate jamur agar terasa lebih segar.

“Cita rasa sate jamur gurih umami, kenyal juicy, ada aroma smokey bakar dan pedas manis bumbu. Rasanya _comforting_ tapi nggak bersalah. Cocok buat temen nongkrong sore di alun-alun Wonosobo pas suasana udara dingin,” ungkapnya.

Jamur paling enak buat sate, kata dia, yakni jamur tiram. Karena teksturnya mirip daging dan nyerap bumbu. Kalau mau premium, pake jamur shitake, lantaran umaminya paling tebal.

Jika masih penasaran dengan cerita dan rasa yang ada, sebaiknya wisatawan atau siapapun bisa segera bergegas di Dieng Kledung Pass Restaurant. Restaurant ini berada di perlintasan jalan raya Kledung-Reco perbatasan Temanggung-Wonosobo. Ayo buruan segera saja berkunjung di resto ini.

Muharno Zarka