JEPARA (SUARA BARU.ID) – Upaya penanganan sampah pesisir dan pelestarian lingkungan terus digencarkan melalui kegiatan bertajuk Pengelolaan Sampah Pesisir dan Restorasi Hutan Mangrove yang melibatkan pemerintah desa, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), peneliti dari BRIN, serta organisasi lingkungan Nusa Bersih, diselenggarakan sebagai upaya bersama dalam mengatasi permasalahan sampah pesisir dan menjaga kelestarian ekosistem mangrove di Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, pada 4–6 Mei 2026.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya permasalahan sampah di wilayah pesisir yang berdampak pada kerusakan lingkungan, termasuk ekosistem mangrove yang memiliki peran penting sebagai pelindung alami pantai. Melalui sosialisasi, diskusi, dan praktik langsung, peserta diajak memahami dampak sampah serta teknik restorasi mangrove yang tepat dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Fauziah Rochman, M.E.Sc., PhD dari Nusa Bersih dan sekaligus peneliti BRIN menegaskan pentingnya pengelolaan sampah secara serius dan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menangani persoalan sampah dan menjaga ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

“Sampah dari Tanggul Tlare harus bisa menuju zero waste. Sampah sisa makanan kalau ditumpuk akan menghasilkan gas metana yang berbahaya dan bisa meledak,” ujarnya.
Perwakilan DLH, Nexson Hasiholan M, SP., dalam sambutanya juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat dalam keberhasilan program ini.
“Kami berharap masyarakat dapat menerima program ini dengan baik dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh agar lingkungan tetap lestari,” katanya.
Sementara itu, Petinggi Desa Tanggul Tlare, Kusnadi, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan desa.
Peneliti mangrove dari BRIN, Dr. Frida Sidik, M.Sc., menegaskan bahwa proses restorasi mangrove tidak hanya sebatas penanaman, tetapi juga harus memperhatikan kondisi lingkungan dan karakteristik geografis lokasi.
“Restorasi tidak hanya sekadar menanam, tetapi harus memperhatikan kondisi geografis. Jika ditanam di area yang terlalu depan, mangrove bisa hilang karena pasang surut. Namun jika terlalu ke belakang, tanaman mangrove dapat mati.” Jelasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Tanggul Tlare semakin sadar akan pentingnya pengelolaan sampah dan berperan aktif dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir, menuju lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Karena manusia bias mati karena terlilit hutang, tapi mangrove mati karena terlilit sampah.
Ika Putri Aprilia













