blank
Temu kangen mantan remaja GM 28 Semarang, berfoto bersama usai acara. Foto: spr

SUASANA hangat penuh kenangan, menyelimuti kegiatan Temu Kangen Mantan Remaja Gang Macan (GM) 28 Tegalsari, Semarang, yang digelar Sabtu (2/5/2026), di kawasan rumah makan Jalan Menteri Supeno, Semarang.

Dalam kegiatan ini, sekitar 30 orang lebih mantan remaja GM 28, yang kini sebagian besar telah memasuki usia paruh baya, larut dalam suasana penuh canda, peluk haru, hingga kisah-kisah lama yang kembali dihidupkan.

Sejak awal acara, suasana terasa cair. Tawa pecah di berbagai sudut ruangan, diiringi pelukan erat antarsahabat, yang telah lama tak bersua.

BACA JUGA: Satgas TMMD Sragen Bersama Warga Bangun RTLH, Cerminkan Kuatnya Kebersamaan TNI-Masyarakat

Beberapa bahkan tampak saling menatap penuh ragu, mencoba mengenali wajah yang telah berubah dimakan waktu, sebelum akhirnya disambut seruan akrab dan tawa lepas.

Eeh… sopo yo kowe? Aku kok lali…”, celetuk Saryono dengan logat bahasa Jawa, yang langsung disambut gelak tawa peserta lain.

Namun di balik riuh canda, terselip suasana haru yang tak bisa disembunyikan. Saat itu dibacakan sebuah puisi kenangan oleh Sigit Pramono, yang juga ketua panitia temu kangen Remaja GM 28 Semarang.

BACA JUGA: Dan SST Rachmad Jelang Tekankan Pentingnya Apel Pagi, Kunci Disiplin dan Sukses Pekerjaan Lapangan

Pembacaan puisi itu, membuat semua yang hadir seolah kembali ke masa remaja saat berada di Gang Macan 28, sebuah gang sederhana yang ternyata menyimpan begitu banyak cerita.

“Di ruang ini…
kita bukan siapa-siapa hari ini…
kita hanyalah cerita lama…
yang dipanggil pulang oleh rindu…”

Baris demi baris puisi itu mengalir, mengingatkan kembali pada masa ketika mereka adalah remaja penuh semangat, liar, bebas, dan penuh tawa. Nama-nama lama pun kembali disebut pada puisi itu.

BACA JUGA: Ketua DPW PPP Jateng Suyono, Minta Kader Bangun Soliditas

Sosok Joko Kadet, yang dulu dikenal bandel, kini dikenang sebagai sumber tawa. Mas Pung, dengan kebaikan tulusnya, Yono Kambali yang piawai mengutak-atik mesin, hingga Kokok yang dulu dikenal sebagai “playboy kampung”, dengan segudang cerita soal perempuan yang pernah didekati.

Tak ketinggalan, sosok Iin yang dulu dikenal galak, kini justru menjadi pribadi lembut dan menenangkan. Perubahan itu menjadi bukti, waktu bukan hanya mengubah rupa, tetapi juga membentuk hati.

Di tengah riuh kenangan, nama Yusak juga disebut dalam puisi itu, sebagai sosok yang membawa kesejukan saat dia mengaji, sementara Yayuk Basuki dikenang sebagai figur keibuan yang selalu menjadi tempat pulang bagi para remaja, yang sering “lupa arah”.

BACA JUGA: Harlah ke-92 GP Ansor, Banser Kudus Diminta Berani Tegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sigit Pramono menyampaikan, Gang Macan 28 bukan sekadar tempat, tapi rumah bagi kenangan para remaja di daerahnya. Acara ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga ruang untuk memungut kembali serpihan kenangan para mantan remaja, yang kini tinggal di berbagai daerah.

“Dulu bahagia itu sederhana, cukup bersama, cukup tertawa. Semoga ke depan kita tetap terhubung, walau hanya lewat pesan singkat,” ungkap Sigit.

Suasana acara kembali menghangat, ketika ada sesi kata kenangan. Satu per satu peserta saling menceritakan suka dan duka waktu remaja.

Sebelum acara ditutup, salah seorang alumni Bambang Sutikno mengatakan, agar persaudaraan terus terjalin di antara mantan remaja GM 28. Tidak perlu menunggu puluhan tahun, namun setiap saat bisa untuk bertemu, meskipun hanya dengan acara sederhana.

Sigit Pr