blank

Oleh:  Taufiq Nugroho N, M.Pd

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang meletakkan fondasi penting bagi lahirnya pendidikan yang memerdekakan. Peringatan ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk mengingat kembali perjuangan panjang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain Ki Hajar Dewantara, sejarah pendidikan Indonesia juga dibangun oleh tokoh-tokoh besar seperti Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari yang menghadirkan pembaruan pendidikan melalui sekolah, madrasah, dan pesantren yang hingga kini tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat.

Di tengah derasnya arus materialisme pendidikan dan euforia kemajuan yang belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan literasi serta numerasi, muncul pertanyaan penting: masihkah Hardiknas relevan bagi generasi hari ini? Penulis meyakini jawabannya adalah iya. Hardiknas tetap memiliki makna strategis sebagai ruang refleksi untuk meninjau kembali hakikat pendidikan, yakni sebagai jalan memajukan peradaban, menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, serta membangun manusia Indonesia yang berkarakter dan berdaya saing.

Pendidikan tidak sekadar soal angka, ijazah, atau capaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan adalah sarana membentuk cara berpikir, membangun kesadaran, dan memanusiakan manusia. Sebagaimana ungkapan Ali ibn Abi Talib bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Hal senada juga disampaikan Nelson Mandela yang menyebut pendidikan sebagai kunci pembuka berbagai kesempatan hidup. Karena itu, Hardiknas seharusnya menjadi “alarm kebangkitan” agar bangsa ini tidak terlena dalam rutinitas pendidikan yang kehilangan ruh dan arah.

Momentum Hardiknas tahun ini ditengah isu penghapusan atau penataan ulang program studi (prodi) yang tidak relevan dengan kebutuhan industri, termasuk didalamnya prodi keguruan. Di Hardiknas ini penulis  menghadirkan beragam suara, harapan, dan refleksi dari para pegiat pendidikan mulai dari guru besar, kepala sekolah, guru, mahasiswa, hingga murid. Suara-suara tersebut menjadi cermin kondisi pendidikan Indonesia sekaligus penanda arah yang ingin dituju.

Prof. Dr. H. Achmad Hilal Madjdi, M.Pd., Guru Besar UMK, menekankan pentingnya keikhlasan guru dalam mendidik. Menurutnya, keberkahan ilmu tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari ketulusan hati seorang pendidik. Sementara itu, Dr. Hardiwinoto, S.E., M.Si., Wakil Rektor UNIMUS Semarang, mengingatkan bahwa guru memiliki dua peran besar sekaligus: sebagai pendidik yang membentuk moral dan sebagai pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan. Keduanya harus berjalan seimbang agar pendidikan tidak kehilangan arah kemanusiaannya. Ia juga menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, ilmu merupakan jalan pengabdian kepada Allah SWT.

Pandangan yang lebih luas disampaikan Prof. Senowarsito, M.Pd., Guru Besar UPGRIS Semarang. Ia menilai pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata, tetapi juga harus membangun karakter, integritas, dan akhlak mulia. Nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, disiplin, dan tanggung jawab perlu menjadi fondasi utama pendidikan Indonesia. Menurutnya, pendidikan juga harus adaptif terhadap perkembangan zaman melalui pemanfaatan teknologi, pembelajaran berbasis proyek, serta penguatan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Di sisi lain, kesejahteraan guru dan akses pendidikan yang inklusif tetap menjadi perhatian penting.

Senada dengan itu, Prof. Dr. Suwandi, M.Pd., Guru Besar UPGRIS Semarang, menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan beriringan antara penguatan akademik, pembentukan karakter, serta penguasaan teknologi oleh guru. Kurikulum pun perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan dinamika dunia kerja agar pendidikan tidak tertinggal oleh perubahan.

Dari kalangan praktisi pendidikan, Dra. Puji Rahayu, M.Pd., Kepala SMA N 1 Jepara, memandang bahwa pendidikan modern tidak lagi sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses membangun keterampilan masa depan yang tetap berpijak pada nilai dan karakter. Dalam konteks ini, guru tetap menjadi figur sentral yang “digugu lan ditiru”. Dalam hidupnya. Senada Duhron Firadaus, M.Pd, Kepala SMP N 3 Welahan, menambahkan pentingnya pendidikan diiringi penguatan spiritual agar manusia tidak sombong

Sementara itu, Riki Endar Lestari, S.Pd., Guru SDN 1 Kuanyar sekaligus mahasiswa S2 PGSD UMK, mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar nilai rapor, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian, dan semangat belajar. Baginya, kebahagiaan seorang guru adalah ketika melihat murid tumbuh percaya diri dan mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Pendapat serupa disampaikan guru muda yang inovatif, Ika Anjani Rohmaniah, S.Pd., yang memandang Hardiknas sebagai momen refleksi untuk kembali mengingat tujuan luhur menjadi seorang guru di tengah berbagai tantangan profesi pendidikan hari ini.

Perspektif yang lebih kritis disampaikan Dimas Ghulam Istiqlal, S.Pd., Kepala SMP Muhammadiyah Pucang Gading Mranggen. Ia mengajak masyarakat menjadikan Hardiknas sebagai ruang perenungan yang jujur terhadap realitas pendidikan. Menurutnya, dunia pendidikan masih sering terjebak pada rutinitas administratif dan obsesi terhadap angka semata. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran Kuntowijoyo tentang humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai ruh pendidikan yang membebaskan manusia.

Kritik serupa juga disampaikan Itsna Nilam Salma El Daus, S.Pd., guru Ponpes Assyfa Muhammadiyah Blimbingrejo. Ia melihat kebijakan pendidikan di Indonesia masih kerap berubah dan kurang berkesinambungan. Dalam situasi seperti itu, guru dituntut tetap bijak, adaptif, dan mampu mendampingi peserta didik agar terus berkembang secara optimal.

Dari kalangan mahasiswa, muncul harapan tentang pendidikan yang lebih merata dan membumi. Silvia Rahma, mahasiswa Tadris IPS UIN SUKA Kudus, berharap pendidikan Indonesia tidak hanya kuat dalam teori, tetapi juga relevan dengan praktik kehidupan. Ia bercita-cita menjadi pendidik yang mampu menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus berdampak positif bagi peserta didik. Senada dengan itu, Zaydan Nasheer Firdaus, mahasiswa Tadris IPA UIN SUKA Kudus, menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas namun tetap terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.

Suara yang paling jujur justru datang dari para murid. Tiara Kanaya Putri, siswi SMP N 3 Welahan, bermimpi menjadi sarjana pertama di keluarganya dan bercita-cita menjadi penerjemah. Sementara Anang menilai bahwa pendidikan bukan hanya tentang sekolah, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan cara berpikir. Di sisi lain, Darwisy T. Noor, santri Ponpes Muhammadiyah Kudus, menyampaikan rasa terima kasih kepada guru dan orang tua sebagai pendidik pertama dalam hidupnya, sembari berharap dimudahkan dalam menempuh perjalanan pendidikan dan meraih cita-cita.

Berbagai suara tersebut menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar sistem administratif, melainkan harapan kolektif seluruh elemen bangsa. Pendidikan harus mampu menghadirkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, karakter, dan spiritualitas. Literasi, numerasi, serta akhlakul karimah harus menjadi fondasi utama dalam membangun generasi masa depan. Pada saat yang sama, kesejahteraan guru, relevansi kurikulum, dan kebijakan pendidikan yang berpihak kepada peserta didik juga perlu terus diperjuangkan.

Sebagaimana disampaikan Abdul Mu’ti dalam momentum Hardiknas tahun ini, tema besar yang diusung adalah “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema tersebut mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

Dalam sebuah hadis, Muhammad bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga bagian dari ikhtiar spiritual manusia.

Penulis mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk para guru, murid, mahasiswa, dosen, orang tua, dan semua yang mencintai dunia pendidikan. Semoga guru Indonesia  semakin sejahtera . Pada akhirnya, Hardiknas bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen bersama dalam menghadirkan pendidikan yang bermakna pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga memuliakan akhlak, membebaskan cara berpikir, dan mengantarkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik.

Penulis adalah Ayah dari seorang Anak lelaki, Guru Bahasa Inggris di SMP N 3 Welahan, alumni Pendidikan S2 Bahasa Inggris UPGRIS Semarang