Oleh : H. Nur Hidayat
Pendahuluan: Darurat Kualitas di Kota Ukir
Jepara bukan sekadar pusat industri furnitur dunia dan salah satu pusat industri garmen Indonesia. Ia adalah tanah kelahiran Kartini, sang pionir emansipasi dan pendidikan. Namun, tantangan pendidikan di Jepara saat ini melampaui sekadar akses fisik. Kita menghadapi disparitas kualitas antara wilayah perkotaan dan pelosok, serta tantangan relevansi kurikulum dengan kearifan lokal. Mewujudkan “Pendidikan Bermutu untuk Semua” bukan hanya tugas Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga melainkan sebuah *Gerakan Partisipasi Semesta*.
Dalam bukunya The Fifth Discipline, Peter Senge menekankan pentingnya Systems Thinking. Pendidikan di Jepara adalah sebuah ekosistem. Jika industri ukir lesu, angka putus sekolah di tingkat SLTA cenderung naik karena anak-anak dipaksa bekerja. Tantangan Utama di Jepara:
Pertama, Akses vs Kualitas; Angka Partisipasi Murni (APM) mungkin tinggi, tetapi apakah kompetensi lulusan sesuai dengan standar global?
Kedua; Digital Divide; Kesenjangan infrastruktur teknologi antara Jepara kota dengan wilayah seperti Karimunjawa atau lereng Muria.
Ketiga; Kultural: Paradigma masyarakat yang terkadang masih melihat pendidikan hanya sebagai sarana mencari ijazah, bukan pengembangan karakter dan life skills.
Dalam upaya membangun pendidikan bermutu, kita harus merujuk pada prinsip-prinsip pendidikan transformatif. Paulo Freire (Pedagogy of the Oppressed): Pendidikan harus membebaskan. Di Jepara, ini berarti kurikulum harus berbasis potensi daerah (misal: seni ukir, desain kreatif, maritim, dan pariwisata) agar siswa tidak menjadi asing di tanahnya sendiri.
Ki Hadjar Dewantara telah meletakkan Konsep Tri Pusat Pendidikan yang terdiri dari Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat sebagai pondasi dari partisipasi semesta yang diperkuat oleh Standard ISO 21001:2018 dimana Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan yang menekankan pada fokus pembelajar dan kepemimpinan visioner.

Strategi Solutif: Menuju Pendidikan Inklusif di Jepara
Revitalisasi Kolaborasi Pentahelix
Pemerintah Kabupaten Jepara tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh kolaborasi yaitu pertama, Akademisi: Riset terapan untuk pemetaan mutu sekolah. Kedua, Bisnis: Perusahaan mebel dan tekstil besar di Jepara harus mengalihkan CSR mereka dari sekadar bantuan fisik ke beasiswa guru dan pengembangan laboratorium vokasi. Ketiga, Komunitas: Penggerak literasi di desa-desa. Keempat Media: Menjadi pengawas sekaligus penyebar inspirasi keberhasilan pendidikan.
Digitalisasi Berbasis Keadilan
Membangun Jepara Smart Education bukan hanya soal membagi laptop, tapi membangun ekosistem pembelajaran digital yang dapat diakses luring (offline) bagi wilayah yang minim sinyal, menggunakan teknologi mesh network atau server lokal desa.
Penguatan Karakter Berbasis “Kearifan Kartini”
Sudah saatnya menjadikan pemikiran dan gagasan Kartini sebagai kurikulum muatan lokal yang substantif tentang kemandirian, literasi, dan keberanian berpikir kritis.
Aksi Nyata: Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mewujudkan pendidikan bermutu memerlukan langkah konkret diantaranya:
Pertama, Orang Tua Berhenti menyerahkan 100% tanggung jawab pendidikan ke sekolah. Terlibatlah dalam komite sekolah secara substantif.
Kedua, Guru: Terus melakukan Continuous Professional Development (CPD). Mengutip Linda Darling-Hammond dalam The Right to Learn, kualitas sistem pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya.
Ketiga, Pemuda/Mahasiswa: Jadilah relawan pengajar di desa-desa melalui gerakan “Jepara Mengajar”.
Keempat, Siswa. Siswa adalah subyek sekaligus obyek pendidikan yang harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan karakter, kecerdasan, mind-set dan life-skillnya sehingga siswa mampu kreatif dan inovatif dalam menatap masa depan.
Kesimpulan: Pendidikan sebagai Investasi Peradaban
Pendidikan bermutu untuk semua di Kabupaten Jepara bukanlah utopia jika kita mampu mengonversi energi individual menjadi energi kolektif. Saat setiap bengkel ukir, setiap kantor pemerintah, dan setiap ruang tamu rumah tangga menjadi tempat belajar, saat itulah partisipasi semesta terwujud.
Mari berhenti mengutuk kegelapan, mulailah menyalakan lilin pendidikan dari ujung utara Pulau Jawa, Jepara.
Penulis adalah Ketua Komisi C DPRD Kab. Jepara dan dari Fraksi Nasdem













