Oleh : Taufiq Nugroho N, M.Pd
Bulan April selalu menghadirkan suasana istimewa, terutama bagi masyarakat Jepara. Sebab pada tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari lahir Raden Ajeng Kartini seorang tokoh perempuan yang tidak hanya dikenang melalui simbol kebaya, tetapi juga melalui gagasan besar tentang pendidikan, literasi, dan kemajuan bangsa.
Kartini lahir di Mayong, Jepara, pada 21 April 1879. Ia merupakan putri dari Bupati Jepara, RM Adipati Ario Sosroningrat, dan M.A. Ngasirah. Dari garis ayah, Kartini berasal dari kalangan priyayi, sementara dari jalur ibu, ia memiliki latar belakang santri. Kakeknya, K.H. Madirono dari Teluk Awur, dikenal sebagai seorang ulama. Perpaduan dua latar belakang ini membentuk karakter Kartini yang unik: religius, kritis, sekaligus terbuka terhadap pemikiran modern.
Untuk memahami kompleksitas sosial yang melingkupi kehidupan Kartini, kita dapat merujuk pada pemikiran Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java. Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga kategori: abangan, santri, dan priyayi. Meskipun kategorisasi ini menuai kritik dan tidak sepenuhnya relevan dalam konteks kekinian, kerangka tersebut membantu kita melihat bagaimana Kartini hidup di persimpangan budaya, agama, dan kekuasaan. Ia bukan sekadar produk zamannya, tetapi juga seorang pemikir yang melampaui batas-batas tersebut.
Dalam peringatan Hari Kartini, simbol yang paling sering diangkat adalah kebaya. Busana tradisional ini memang merepresentasikan identitas perempuan Jawa pada awal abad ke-20 tertutup, anggun, dan sarat nilai budaya. Namun, jika peringatan Kartini hanya berhenti pada lomba berkebaya atau sekadar perayaan seremonial, maka kita kehilangan substansi perjuangan Kartini itu sendiri.
Kartini sejatinya adalah seorang pembaharu. Ia menolak tradisi yang membatasi perempuan hanya sebagai “konco wingking” sekadar pelengkap di belakang laki-laki. Ia menggugat kebiasaan yang mengharuskan perempuan berjalan jongkok di hadapan kaum bangsawan atau laki-laki yang lebih tinggi derajatnya. Dalam pemikiran modern, apa yang dilakukan Kartini ini sejalan dengan gagasan emansipasi berbasis pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan adalah alat untuk memerdekakan manusia, bukan sekadar membentuk kepatuhan sosial.
Lebih dari itu, kegelisahan intelektual Kartini juga tampak dalam kritiknya terhadap pembelajaran agama pada zamannya. Ia melihat bahwa Al-Qur’an lebih banyak dihafalkan tanpa dipahami maknanya. Dalam sebuah kisah yang juga diangkat dalam film Jejak Langkah 2 Ulama, Kartini pernah meminta kepada Kiai Sholeh Darat untuk menerjemahkan tafsir Al-Fatihah. Permintaan ini bukan hal sederhana, sebab pada masa itu, penjajah Belanda melarang penerjemahan Al-Qur’an. Di sinilah tampak bahwa Kartini bukan hanya memperjuangkan emansipasi perempuan, tetapi juga mendorong literasi keagamaan yang lebih bermakna.
Latar belakang keluarga, akses pendidikan, serta jejaring sosial yang luas termasuk persahabatannya dengan Abendanon membentuk wawasan Kartini yang progresif. Ia bahkan sempat mendapatkan kesempatan belajar ke Eropa, meskipun akhirnya batal karena tradisi pingitan. Namun keterbatasan itu tidak menghentikannya. Kartini tetap berkontribusi dengan mendirikan sekolah bagi perempuan di Jepara sebuah langkah konkret yang membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang yang paling dekat.
Dalam konteks kekinian, sosok Kartini perlu dimaknai ulang. Kartini milenial bukanlah mereka yang terjebak dalam simbol atau perdebatan sempit soal gender. Ia adalah perempuan yang berdaya, memiliki literasi tinggi, dan mampu mengembangkan profesionalisme serta keterampilan hidup. Dalam perspektif ini, pemikiran Mukti Ali menjadi relevan: bahwa perempuan, setinggi apa pun posisinya di ruang publik, tetap memiliki peran strategis dalam keluarga sebagai ibu sebuah peran yang tidak bisa direduksi, tetapi juga tidak boleh membatasi potensi dirinya.
Namun demikian, penting juga untuk membedakan antara emansipasi ala Kartini dengan gerakan Women Liberation Movement di Barat yang dalam beberapa konteks memosisikan laki-laki sebagai lawan. Kartini justru menawarkan harmoni: perempuan dan laki-laki sebagai mitra yang saling menguatkan. Dalam hal ini, pemikir pendidikan modern seperti Paulo Freire menegaskan bahwa pembebasan sejati bukanlah menggantikan dominasi, tetapi membangun kesadaran kritis yang memanusiakan semua pihak.
Di era literasi yang terus digaungkan saat ini, semangat Kartini menjadi semakin relevan. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, mengkritisi, dan memaknai realitas. Kartini telah mencontohkan hal itu jauh sebelum istilah literasi menjadi populer.
Akhirnya, memperingati Hari Kartini bukan sekadar mengenakan kebaya, tetapi merawat api pemikiran dan keberanian. Kartini masa kini adalah mereka yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Mereka memahami agama tidak sekadar sebagai dogma, tetapi sebagai nilai yang hidup dan membebaskan.
Spirit emansipasi Kartini harus terus dihidupkan bukan hanya untuk perempuan, tetapi untuk seluruh bangsa. Sebab, sebagaimana yang telah ditunjukkan Kartini, kemajuan sebuah bangsa tidak mungkin tercapai tanpa pendidikan, literasi, dan keberanian untuk berpikir merdeka.Orang bijak berkata bahwa negara yang kuat ditopang oleh wanita hebat yang bermartabat”.
Penulis adalah Guru Bahasa Inggris SMPN 3 Welahan, alumni SI Dakwah UIN Walisongo Semarang, SI PBI UMK dan S2 PBI UPGRIS Semarang.













