blank
Pelatihan untuk membangun dan mewujudkan persatuan lewat literasi digital yang digelar Kesbangpol Wonosobo dan KJW. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Di era ketika informasi bisa diakses hanya lewat genggaman tangan, tantangan baru muncul bagi masyarakat, terutama dalam memilah dan memanfaatkan informasi secara bijak.

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Wonosobo bekerja sama dengan Komunitas Jurnalis Wonosobo (KJW) menggelar pelatihan bagi organisasi (ormas), Rabu (22/4) hingga Kamis (23/4/2026), di Dewani Resto and Caffee, Wonosobo.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) serta penguatan kelembagaan agar organisasi masyarakat di Wonosobo semakin adaptif terhadap perkembangan zaman.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Ari Sunandar (DiswayJateng) dan Erwin Abdillah (Kabar Wonosobo) yang menyampaikan materi tentang citizen journalism serta teknik penulisan press release.

Materi tersebut dinilai penting agar organisasi masyarakat mampu menyampaikan informasi kegiatan secara mandiri, akurat, dan layak publikasi di media. Personil Ormas saat ini bisa berperan seperti wartawan untuk menyampaikan informasi melalui media sosial.

Sementara itu, Ronaldo Bramantyo B Jati (TV One) dan Hendra Septa Hersana (TVRI) membawakan materi terkait pembuatan konten video yang edukatif dan informatif. Hal ini menjadi relevan di tengah tren konsumsi informasi berbasis visual di media sosial yang semakin meningkat.

Kepala Kesbangpol Wonosobo, Agus Kristiono, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan insan pers dalam membangun komunikasi publik yang transparan dan akuntabel.

“Media memiliki peran strategis sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat. Selain menyebarluaskan kebijakan, pers juga berfungsi sebagai edukasi publik, kontrol sosial, serta menjaga stabilitas daerah melalui penyampaian informasi yang akurat dan berimbang,” ujarnya.

Agus juga menambahkan bahwa kerja sama yang sehat antara pemerintah dan media harus tetap menjunjung tinggi independensi dan profesionalisme.

“Sinergi ini bukan berarti menghilangkan sikap kritis. Justru dengan jurnalisme yang profesional, transparansi dan akuntabilitas pemerintah dapat terus terjaga,” tambahnya.

Dampak Negatif

blank
Wakil Ketua DPRD Wonosobo Mugi Sugeng saat diwawancarai wartawan usai memberikan materi. Foto : SB/Muharno Zarka

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Wonosobo, Mugi Sugeng, menyoroti pesatnya arus informasi di era digital yang harus diimbangi dengan pemahaman masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak.

“Sekarang masyarakat sangat mudah menerima dan menyebarkan informasi. Namun, jika tidak disertai pemahaman yang baik, hal ini bisa menimbulkan dampak negatif, bahkan berpotensi disalahgunakan,” ungkapnya.

Dia juga mengingatkan bahwa rendahnya literasi digital dapat berdampak pada berbagai persoalan sosial, termasuk penyebaran informasi yang menyesatkan hingga potensi terpapar paham-paham negatif.

“Karena itu, penting bagi kita semua untuk terus belajar, memahami, dan menggunakan media sosial secara benar agar tidak terjebak dalam arus informasi yang merugikan,” lanjutnya.

Mugi menambahkan, perubahan pola pikir masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi memang tidak mudah, namun tetap bisa dilakukan dengan komitmen bersama.

“Dengan niat, semangat, dan konsistensi, kita bisa mengubah kebiasaan yang kurang baik menjadi lebih positif. Kegiatan seperti ini diharapkan mampu membawa perubahan tersebut,” pungkasnya.

Sebagai penutup, Agus menegaskan bahwa sinergi yang sehat antara pemerintah daerah dan lembaga jurnalistik merupakan kunci keberhasilan pembangunan daerah.

“Media yang kuat akan menciptakan masyarakat yang terinformasi dengan baik serta mendorong lahirnya pemerintahan yang berintegritas,” tandasnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan organisasi masyarakat di Kabupaten Wonosobo dapat terus berkembang menjadi lebih adaptif, profesional, serta berdaya saing dalam menghadapi tantangan ke depan.

Muharno Zarka