blank
Ketua DPW PKB Jawa Tengah Sarif Abdillah ketika memberikan sambutan di acara Muscab DPC PKB Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Ketua DPW PKB Jawa Tengah Sarif Abdillah meminta DPC PKB Wonosobo, harus mulai bergegas menata langkah partai ke depan. Setidak ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh pengurus dan kader PKB.

“Yakni terus berupaya memperkuat basis kaderisasi, meningkatkan kualitas pelayanan politik, menjaga komitmen terhadap prinsip-prinsip kebangsaan dan keumatan sehingga tetap relevan dan dipercaya sebagai salah satu kekuatan politik yang berpengaruh di tingkat lokal,” tegasnya.

Penegasan tersebut disampaikan Sarif Abdillah di sela-sela pelaksanaan Muscab DPC PKB Wonosobo yang digelar di Hotel Horison, Jl Raya Dieng Tambi Kejajar. Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD Jateng itu, juga menjabat sebagai Ketua DPC PKB Wonosobo.

Menurutnya, ada hal-hal pokok yang harus disikapi terkait dengan dinamika politik yang terjadi. Tapi PKB juga harus sadar terhadap kekuatan dan kelemahan yang ada.

Maka dari itu, lanjutnya, dalam menata langkah PKB Wonosobo ke depan, dibutuhkan strategi dan komitmen perjuangan yang termanifestasikan dalam tiga hal.

Pertama, katanya, harus ada sinergitas total antara PKB-NU. PKB Wonosobo harus mengimplementasikan secara nyata hubungan NU dan PKB sebagaimana dirumuskan terdahulu bersifat historis, kultural dan aspiratif.

“Itu artinya bahwa PKB dan NU mengakui hubungan kesejarahan di antara keduanya. Di mana PKB dibentuk dan dibidani kelahirannya oleh PBNU. PKB juga mewakili kekhasan kultural NU di mana ajaran ahlussunnah wal jama’ah menjadi karakter dasarnya,” tegas Sarif.

Garap Gen Z

blank
Ketua DPW PKB Jawa Tengah Sarif Abdillah ketika diwawancarai wartawan. Foto : SB/Muharno ZarkaKetua DPW PKB Jawa Tengah Sarif Abdillah ketika diwawancarai wartawan. Foto : SB/Muharno Zarka

Seluruh aspirasi warga NU, tambah politisi asal Desa Lipursari Leksono Wonosobo itu, akan menemukan saluran politiknya melalui kiprah PKB sebagai partai politik dan wakil-wakilnya di badan legislatif, pusat maupun daerah.

“Dengan demikian, jelas bahwa NU dan PKB tidak bisa dipisah-pisahkan, meski keduanya memiliki peran dan fungsi yang berbeda. NU adalah organisasi dan komunitas sosial keagamaan, sementara PKB adalah sayap politik yang memperjuangkan aspirasi-aspirasi warga NU,” tutur dia.

Dikatakan, kesadaran hubungan yang semacam ini penting untuk terus-menerus diteguhkan di masing-masing pihak, sehingga sinergi antara gerakan NU dan gerakan PKB akan mudah terwujud.

“Kedua, pengurus baru harus merangkul kembali tokoh-tokoh PKB Wonosobo yang dulu pernah berkiprah, baik dari generasi awal sampai generasi terkini, terlepas dari apapun. Hal ini harus dilakukan mengingat para tokoh pendahulu ini juga memiliki jasa yang besar dalam mengembangkan PKB di Wonosobo,” pintanya.

Maka dari itu, lanjut Sarif, pengurus PKB Wonosobo harus meluaskan hati dan melapangkan maaf untuk kembali bersama-sama menatap masa depan PKB Wonosobo yang semakin bermanfaat bagi kemaslahatan ummat.

“Ketiga, membentuk dan memperluas jaringan pendidikan politik baru di kalangan pemilih Gen Z. PKB Wonosobo harus juga menyusun grand design sistem kaderisasi partai yang diseusaikan dengan kecenderungan alam bawah sadar dan pelibatan peran Gen Z dalam politik,” paparnya.

Sarif merasa yakin, jika tiga hal mendasar ini bisa dilakukan dengan baik, maka peran dan kiprah politik PKB Wonosobo ke depan akan semakin nyata dalam melayani ibu pertiwi.

Muharno Zarka