blank
Foto bersama seluruh siswa-siswi SMA N 1 Pecangaan dan Para Guru Pembina. Foto: Kanal B.

JEPARA (SUARABARU.ID) — Pagi itu, Gedung Sasana Kridhawiyata tak sekadar menjadi ruang pertemuan. Ia berubah menjadi panggung besar tempat cerita, warna, dan emosi bertemu. Di antara hiruk-pikuk siswa yang berlalu-lalang dan deretan stand yang tertata rapi, Gelar Karya Tugas Akhir Kelas XII SMA Negeri 1 Pecangaan resmi digelar dengan mengusung tema “Menyulam Rasa dalam Karya yang Penuh Makna”, Kamis, 16 April 2026.

blank
Penampilan drama musikal kelas XII. F10 dalam Gelar Karya SMAN ! Pecangaan. Foto: Kanal B.

Tema tersebut terasa hidup sejak langkah pertama memasuki area pameran. Setiap stand seperti memiliki napasnya sendiri—menampilkan ukiran, lampu hias, hingga karya visual yang tak hanya enak dipandang, tetapi juga menyimpan cerita di balik proses panjang pembuatannya. Warna-warna yang dipilih, bentuk yang dirancang, hingga detail kecil yang mungkin luput dari perhatian, semuanya menjadi bagian dari ungkapan rasa para siswa.

Di sisi lain, panggung pertunjukan menjadi magnet yang tak kalah kuat. Alunan musik mengiringi gerak tari yang energik, disusul drama musikal yang memadukan seni peran dengan lantunan nada. Sesekali, nuansa sastra klasik menyelinap dalam dialog dan narasi, menghadirkan dimensi makna yang lebih dalam. Penonton tak hanya menyaksikan, tetapi seolah diajak masuk ke dalam cerita yang dibangun.

Namun, di balik keindahan yang tersaji, Gelar Karya bukan sekadar perayaan kreativitas. Kegiatan ini adalah titik penting dalam perjalanan akademik siswa kelas XII. Ia menjadi bagian dari ujian praktik seni, sekaligus salah satu penentu kelulusan. Setiap karya yang dipajang, setiap gerak yang ditampilkan di atas panggung, adalah hasil dari proses belajar yang dinilai secara nyata.

Di sinilah makna “menyulam rasa” menemukan konteksnya. Bukan hanya tentang menggabungkan seni tari, rupa, dan sastra, tetapi juga tentang menyatukan usaha, waktu, dan harapan. Proses yang tidak selalu mudah—membagi waktu antara belajar dan berkarya, menghadapi keterbatasan, hingga belajar bekerja sama—menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan ini.

Salah satu perwakilan Komite Dewan Kesenian Daerah (DKD) Jepara bidang sastra, Ashari, melihat kegiatan ini sebagai ruang penting bagi tumbuhnya kreativitas generasi muda.

Menurutnya, Gelar Karya bukan hanya ajang tampil, tetapi juga sarana menyampaikan gagasan melalui bentuk karya yang lebih luas.

“Kegiatan ini sangat baik sebagai media penyampaian ide kreatif, sekaligus menjadi bagian penting dalam mengasah pengetahuan serta mendorong kemajuan sastra di Indonesia melalui pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat,” ujarnya.

Kehadiran perwakilan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Jepara serta para komite semakin menambah semarak suasana. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga saksi dari proses panjang yang telah dilalui para siswa. Interaksi yang terjalin di setiap stand memperlihatkan bagaimana karya mampu menjadi jembatan komunikasi antara pencipta dan penikmatnya.

Menjelang akhir acara, suasana perlahan berubah menjadi lebih hangat. Penampilan dari tim musik Nada Tunggal menutup rangkaian kegiatan dengan lagu-lagu yang mengalun ringan, seakan menjadi penutup yang pas untuk sebuah perjalanan panjang.

Gelar Karya 2026 akhirnya bukan hanya tentang apa yang terlihat hari itu. Ia adalah tentang proses yang tidak selalu tampak, tentang kerja sama yang terbangun, dan tentang keberanian untuk mengekspresikan diri. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penanda—bahwa di balik setiap karya, ada cerita, ada perjuangan, dan ada langkah awal menuju masa depan.

Septiana W – Suarasmanca