blank
Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Percepatan MBG Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, memberikan keterangan kepada awak media, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Senin 13 April 2026. (Foto: Diaz A Abidin)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Provinsi Jawa Tengah masih banyak dibangun tanpa instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Artinya, limbah hasil produksi dan operasional MBG masih dibuang di lingkungan sekitar.

Pembuangan dilakukan di saluran irigasi, sungai, dan tanah-tanah kosong di lingkungan sekitar.

Nur, warga di salah satu desa di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, mengakui hal tersebut.

Terdapat Dapur MBG di lingkungan tempat tinggalnya. Akan tetapi limbah air cucian tempat makan MBG dibuang di sungai sekitar.

“Sungai jadi kotor dan bau,” kata dia, Jumat 17 April 2026.

Padahal menurut Nur, pengusaha Dapur MBG memiliki lahan yang seharusnya bisa dibuat IPAL.

“Bayangkan setiap hari ada ribuan tempat makan yang dicuci,” ucapnya.

Sebelumnya, Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang menemukan Daour MBG di Desa Samban, Kecamatan Bawen, yang juga tak memiliki IPAL.

Air sisa operasional langsung dialirkan ke sungai dan memicu pencemaran lingkungan.

Terpisah, Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) MBG Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, mengakui adanya Pengusaha MBG yang membangun Dapur SPPG tanpa dilengkapi IPAL.

Dia bilang, sesuai standar operasional prosedur (SOP), seharusnya setiap Dapur MBG dilengkapi dengan IPAL.

“Nah, itu SOP-nya sudah ada. Jadi mungkin  salah satu atau dua (SPPG) mungkin kurang tertib ya,” ucapnya.

Dia meminta tim pengawas untuk berkeliling memastikan pembangunan Dapur MBG sesuai dengan standar. Termasuk ketersediaan IPAL.

“Iya, kita pokoknya bekerja dengan baiklah, positiflah. Ya mungkin satu kurang-kurangnya itu pasti ada,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, di provinsi Jawa Tengah yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi ini telah berdiri sebanyak 3.741 SPPG. (*)

Diaz A Abidin