SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaannya untuk menyikapi kemungkinan terjadinya ancaman bencana banjir susulan. Bencana banjir Rabu (15/4/26) melanda sejumlah kabupaten dan kota di wilayah Solo Raya. Yakni Kabupaten Wonogiri dan Sukoharjo serta Kota Solo.
Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), menyatakan, kemunculan cuaca ekstrem yang ditandai turunnya hujan berkepanjangan tersebut, diprediksi masih dapat terjadi dalam kurun waktu sepekan mendatang. Itu dipengaruhi oleh dinamika atmosfer dalam skala global, regional dan lokal.
Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral. Secara regional, pengaruh Monsun Australia tampak semakin kuat dan diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa hari ke depan.
Penguatan ini, mendorong masuknya massa udara yang relatif kering dari Australia ke Indonesia. Di sisi lain, pola angin zonal yang didominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, memunculkan dinamika atmosfer yang berperan dalam mendukung potensi hujan.
Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo melalui Kasi Humas Polres AKP Anom Prabowo, Rabu (15/4/26), menyatakan, banjir Kali Wiroko telah merendam ruas jalan antar kecamatan dan antar provinsi. Membuat macet akses hubungan darat Wonogiri (Jateng)-Pacitan (Jatim). Ruas jalan di Karangturi, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, dinyatakan membahayakan untuk keselamatan berlalu lintas.
Penanganan banjir di lokasi, dilakukan oleh jajaran Polri, TNI, BPBD, para relawan, Perangkat Desa, aparat dari instansi terkait serta masyarakat. Banjir dipicu oleh tingginya curah hujan yang turun tanpa henti sejak Selasa malam (14/4/26). Ketika hujan reda, luapan banjir pun berangsur-angsur surut dan akses hubungan darat kembali normal.
Diliburkan
Dari Kabupaten Sukoharjo, banjir akibat luapan anak Sungai Bengawan Solo merendam permukiman warga, jalan, hingga puluhan sekolah. Dampak paling terasa terjadi di sektor pendidikan. Belasan SD dan SMP terendam banjir, dan memaksa agenda belajar mengajar diliburkan sementara hingga kondisi dinyatakan aman.
Banjir di Kabupaten Sukoharjo, tersebar di tiga kecamatan terdampak parah, yakni Kecamatan Baki, Grogol, dan Kecamatan Gatak. Air tidak hanya menggenangi halaman sekolah, tetapi juga masuk ke ruang kelas hingga ruang guru.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo, Havid Danang Purnomo Widodo, telah turun langsung meninjau lokasi terdampak. Di Kecamatan Baki, sekolah yang terdampak antara lain SDN Bakipandeyan 01, SDN Purbayan 02, SDN Duwet 02, SDN Duwet 01, SDN Gentan 02, dan SDN Gentan 01.
Sementara di Gatak, banjir merendam SDN Krajan 02, SDN Blimbing 01, SDN Krajan 01, dan SDN Sraten 01. Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Grogol, dengan sejumlah sekolah terdampak seperti SDN Sanggrahan 01, SDN Cemani 05, SDN Langenharjo 03, SDN Madegondo 03, SDN Telukan 03, dan SDN Sanggrahan 02. Kondisi terparah terjadi di SDN Duwet 02 dan SDN Gentan 01. Ruang kelas siswa dan kantin sekolah terendam air cukup tinggi.
Sementara itu, Wali Kota Solo, Respati Ardi, Rabu (15/4/26), meninjau sejumlah lokasi banjir, termasuk di Kecamatan Laweyan. Warga terdampak dipastikan aman di pengungsian. Bersama itu, dilakukan langkah koordinasi untuk memperlancar distribusi bantuan makanan, obat-obatan, selimut dan tikar. Kepada BPBD dan Dinsos Kota Solo, diminta untuk memprioritaskan dipriroitaskan pemenuhan kebutuhan warga.
Banjir di Kota Solo mulai terjadi sekitar Pukul 21.42, terjadi di wilayah Kecamatan Serengan, Pasar Kliwon dan Kecamatan Laweyan. Di beberapa kelurahan di Kecamatan Laweyan, meliputi Pajang, Bumi, Sondakan dan Panularan. Kemudian Kelurahan Joyosuran di Kecamatan Pasar Kliwon. Kelurahan Kratonan, Kelurahan Tipes, Kelurahan Joyontakan di Kecamatan Serengan. Akibatnya, ratusan rumah warga tergenang dan warga mengungsi ke tempat aman.(Bambang Pur)













