Oleh: Amir Machmud NS
// kiblat yang terluka/ itukah Italia?/ : ketika genap tiga kali beruntun/ gagal ke perhelatan dunia/ adakah alasan lain/ kecuali reformasi struktural?/ dunia berkembang dinamis/ dan, Italia bagai berhenti berinovasi//
(Sajak “Kemuraman Calcio Italia”, 2026)
PEMBICARAAN tentang sepak bola Italia — calcio Italia — masih terus bergulir. Muncul banyak analisis dalam keserbabingungan: apa yang sesungguhnya terjadi? Berbagai dugaan muncul dalam pemetaan: apa yang sejatinya dialami? Sarat saran dalam mendiagnosis persoalan: harus apakah langkah mereka ke depannya?
Ya, karena yang gagal lolos ke Piala Dunia untuk kali ketiga berturut-turut adalah Italia, dari 2018, 2022, hingga 2026. Karena dia adalah tim nasional Italia.
Bukankah dalam sepak bola dunia, setidak-tidaknya tercatat tiga kiblat? Pertama, Brazil. Kedua, Italia. Dan, ketiga Inggris.
Argentina, Spanyol, Prancis, Belanda, Portugal, atau Kroasia memang punya tempat tersendiri, namun Brazil, Italia, dan Inggris menempati kasta yang istimewa.
Brazil disebut-sebut sebagai “tanah suci sepak bola”, tempat olahraga ini menjadi serasa “agama” dalam kehidupan warganya. Sepak bola adalah kultur yang menjadi bagian dari seni dan daya hidup.
Italia menjadi patron skema sepak bola defensif dengan sistem pertahanan gerendel catenaccio-nya. Inggris, yang belakangan punya kompetisi liga terbaik, dikenal dengan pola dasar permainan kick and rush, juga pengembang sepak bola modern yang “khas Inggris Raya”.
Maka, ketika putaran final Piala Dunia tanpa menyertakan satu dari tiga negara tersebut, apalah jadinya? Tentu bakal terasa hambar…
Dan, inilah realitanya: Piala Dunia 2026 takkan dihadiri Italia, sama dengan dua event sebelumnya, yakni 2022 dan 2018. Dalam tiga kualifikasi selama 12 tahun terakhir, juara dunia empat kali itu tersingkir lewat play off dari Swedia, Makedonia Utara, dan yang terkini: Bosnia Herzegovina.
Kisah personal Alessandro Bastoni juga belum usai. Dia dituding sebagai penyebab kegagalan Italia dalam play off, karena menerima kartu merah pada menit ke-41. Orang berandai-andai, apabila Bastoni tidak diusir, kemungkinan tidak akan ada drama adu penalti karena Italia unggul 1-0.
Bastoni dihujat, keluarganya diteror. Akan tetapi, saran bahwa dia harus berkarier di liga lain di luar negeri rupanya tidak menggoyahkan pemain Inter Milan itu. Daya tahannya cukup tangguh untuk tetap bertahan di Italia.
Ya, inikah paradoks dari calcio Italia yang besar? Inilah muram di langit Liga Serie A yang mendunia?
Tiga Tokoh
Di Piala Dunia nanti, setidak-tidaknya tiga tokoh sepak bola Italia akan hadir mendampingi tim.
Pertama, Carlo Ancelotti. Dia mengarsiteki Brazil. Penunjukan Ancelotti ini adalah sebuah anomali: ketika Brazil yang dikenal dengan tokoh-tokoh bola luar biasa justru memercayakan tim nasional kepada orang Italia, orang Eropa.
Ancelotti adalah simbol puncak dari ketidakberdayaan Brazil memilih calon pelatih Selecao. Ancelotti menjadi pilihan terakhir setelah tidak ada nama lain yang dipertimbangkan dari dalam negeri sendiri.
Nama kedua, kapten tim juara dunia 2006 dan peraih Ballon d’Or 2006 Fabio Cannavaro, yang akan mendampingi Uzbekistan, dan Vincenzo Montella mantan penyerang AS Roma yang mengarsiteki Turki.
Tiga Italiano itu mengisyaratkan, betapa arsitektur calcio masih lekat dan dipercaya. Juga kehebatan sentuhan magis para tokoh di sana. Kita lihat saja nanti seperti apa performa Uzbekistan dan Turki di Piala Dunia.
Apa pun hasil yang diraih ketiga allenatore itu di Piala Dunia 2026, ketiganya menggambarkan produktivitas Negeri Pizza itu dalam melahirkan tokoh-tokoh arsitek sepak bola berpengaruh. Lalu, ketika ketiganya dipercaya untuk membawa tim nasional negara lain berkiprah di Piala Dunia, bagaimana dengan aset sumberdaya pelatih untuk mengarsiteki Gli Azzurri?
Gennaro Gattusso telah gagal, sebelumnya pada 2018 Gian Piero Ventura gagal dalam play off melawan Swedia, lalu pada 2022 Roberto Mancini tersisih melawan Makedonia Utara. Padahal sebelumnya, pada 2020 dia sukses mengantar Squadra Azzurra menjuarai Euro.
Gattusso menjadi pilihan FIGC setelah sebelumnya, Luciano Spalletti meraih hasil buruk di Euro 2024 dan awal Pra-Piala Dunia 2026, antara lain kalah 0-3 dari Norwegia.
Dia bukan pilihan utama, dan suka atau tidak suka, rekam jejak para allenatore mematok keberanian untuk menangani Azzurri setelah nama-nama besar Enzo Bearzot, Arrigo Sacchi, Roberto Mancini, dan Marcello Lippi. Nama-nama lain yang sempat beredar memberi warna adalah Roberto Donadoni, Cesare Prandelli, Gian Piero Ventura, Luigi di Bagio, dan Luciano Spalletti.
Stuktural
Tampaknya, sepak bola Italia butuh perombakan besar. Tiga kali beruntun gagal ke Piala Dunia jelas memperlihatkan ada masalah besar bagi juara dunia empat kali ini. Simaklah apa komentar tokoh sepak bola Italia, Fabio Capello. Dia mendesak Italia untuk melakukan perombakan besar.
“Ada kesalahan struktural. Sejak juara pada 2006, mereka mengalami penurunan drastis dengan tersingkir di fase grup 2010 dan 2014,” kata Capello yang pernah menangani tim nasional Inggris pada 2007-2012.
Gelar juara Piala Eropa 2020 dianggap anomali dan mengaburkan problem besar. Italia masih lambat dalam mengembangkan sepak bolanya, yang mencolok adalah pada infrastruktur dan pengembangan pemain usia muda.
“Ini bukan cuma soal hasil-hasil, ini struktural. Italia perlu menemukan jati dirinya lagi. Kita mesti menyatukan para ahli, menganalisis apa yang terjadi, dan mulai merekonstruksi dari fondasi,” ungkapnya dikutip Football Italia (detik.com, 4 April 2026).
“Akan sangat sulit pulih dari ini, tetapi saya percaya ini akan menjadi awal dari pembaruan sesungguhnya”.
Jika menyimak analisis Capello, apakah ada permasalahan struktural yang membuat Liga Serie A kini tak mampu bersaing dengan Liga Primer, La Liga, Bundesliga, dan Ligue 1?
Sudah sejak awal 1990-an, Liga Italia seperti mandek dalam stagnasi peredaran pemain asing, dan justru tidak melahirkan bintang-bintang muda dari akademi klub-klub. Berbeda dari Liga Primer dan La Liga produktif dengan pemunculan pemain muda.
Liga Champions musim ini bisa menjadi parameter. Tak satu pun klub Italia yang lolos ke fase gugur. Klub-klub elite seperti Inter Milan, AC Milan, Juventus, atau Napoli kini berada di bawah bayang-bayang klub-klub dari liga negara lainnya. Media global juga lebih banyak mem-publish dinamika Liga Primer, La Liga, dan Ligue 1.
Bagaimanapun, ketika tiga kali gagal menuju putaran final Piala Dunia, pastilah ada kemunduran yang dialami.
Apakah dunia rela kehilangan salah satu kiblat yang menjadi ciri khas sepak bola, terutama dengan karakter defensifnya?
Tentu tidak, karena catenaccio identik, sangat identik dengan Italia. Konsep pertahanan gerendel Italia menjadi antitesis dari permainan menyerang yang sekarang banyak dianut di Belanda, Spanyol, dan klub-klub yang berfilososi attacking football dan possession football. Dulu, pada dasawarsa 1990-an, Italia punya trade mark permainan defensif yang menjadi “budaya taktik” bagi klub-klub Serie A-nya.
Apakah budaya sepak bola Italia itu pelan-pelan memudar secara struktural, dan yang menanggung beban adalah transformasi kultural di tim nasional? Dinamika sepak bola Eropa dan dunia, rasanya juga bergerak cepat dengan kebutuhan Italia untuk beradaptasi. Tak bisa selamanya, mereka hanya terlelap menjadi kiblat, dan tidak bergerak untuk berinovasi.
Dengan menyimak pendapat Fabio Capello tentang masalah struktural, saatnya stakeholder sepak bola Italia mengupas semua persoalan yang dirasakan. Masalahnya tidak memusat ke kesalahan Alessandro Bastoni. Dia hanya menjadi bagian dari elemen romantika kegagalan tersebut…
— Amir Machmud NS, wartawan Surabaru.Id —













