blank
Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Bapelkum Kementerian Hukum, tampil sebagai fasilitator yang tidak sekadar menyampaikan materi, melainkan membangun pengalaman belajar.. Foto: Hadepe

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Suasana kelas virtual dari ruang widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang terasa hidup Rabu, 8 April 2026. Sepuluh peserta Pelatihan Dasar (Latsar) dari berbagai daerah mengikuti sesi yang bukan hanya informatif, tetapi juga inspiratif. Transformasi penyuluhan pertanian kian menemukan momentumnya ketika nilai dasar ASN BerAKHLAK tidak lagi sekadar jargon, melainkan diinternalisasi secara kreatif dalam praktik lapangan.

Dr. Muh Khamdan, widyaiswara Bapelkum Kementerian Hukum, tampil sebagai fasilitator yang tidak sekadar menyampaikan materi, melainkan membangun pengalaman belajar. Ia menekankan bahwa penyuluh pertanian masa kini harus melampaui pendekatan konvensional. “Adaptif dan harmonis adalah kunci. Tanpa itu, penyuluhan hanya akan menjadi rutinitas administratif,” ujarnya, membuka diskusi yang langsung mengundang antusiasme peserta.

Peserta berasal dari beragam wilayah strategis pertanian, mulai dari Konawe di Sulawesi Tenggara, Sigi di Sulawesi Tengah, Seruyan di Kalimantan Tengah, Muara Enim di Sumatera Selatan, hingga Bojonegoro di Jawa Timur. Latar geografis yang beragam itu justru memperkaya perspektif, menghadirkan mozaik tantangan dan peluang penyuluhan yang nyata di lapangan.

blank
Dr Muh Khamdan bersama peserta pelatihan. Foto: Hadepe

Metode pembelajaran yang digunakan terasa segar, meliputi brainstorming interaktif, benchmarking virtual, serta visualisasi tokoh teladan hasil penelusuran mandiri peserta. Pendekatan ini mendorong peserta untuk tidak hanya memahami nilai BerAKHLAK, tetapi juga merasakannya sebagai praktik nyata dalam konteks penyuluhan pertanian.

Diskusi pun berkembang dinamis. Topik swasembada pangan kembali mengemuka, namun dengan sudut pandang baru, bagaimana menjadikannya gerakan yang “keren” bagi generasi muda. Minat petani muda, agribisnis modern, hingga rekayasa genetika pertanian menjadi bahasan yang mengalir, menunjukkan bahwa penyuluhan kini bersentuhan erat dengan inovasi dan teknologi.

Satriani, peserta dari Sigi, Sulawesi Tengah, membagikan kisah menarik tentang geliat petani muda di wilayahnya. Ia menuturkan bagaimana pendekatan digital dan komunitas kreatif mampu menarik minat generasi milenial untuk kembali ke sektor pertanian. “Kita tidak bisa lagi hanya bicara sawah, tapi juga branding dan kebanggaan menjadi petani,” katanya.

blank
Peserta berasal dari beragam wilayah strategis pertanian, mulai dari Konawe di Sulawesi Tenggara, Sigi di Sulawesi Tengah, Seruyan di Kalimantan Tengah, Muara Enim di Sumatera Selatan, hingga Bojonegoro di Jawa Timur. Foto: Hadepe

Sementara itu, Pangestin Setyo Winastuti, peserta asal Pati yang kini bertugas di Sigi, mengungkap dinamika penyuluhan di kawasan lumbung pangan Sulawesi. Ia menyoroti pentingnya komunikasi yang harmonis antara penyuluh dan petani, terutama dalam mengawal target hasil panen optimal. Baginya, keberhasilan penyuluhan bukan hanya soal produksi, tetapi juga kepercayaan.

Nilai adaptif tampak nyata ketika peserta didorong untuk merancang pendekatan penyuluhan berbasis konteks lokal masing-masing. Tidak ada satu formula tunggal. Penyuluh dituntut peka terhadap perubahan, baik teknologi, iklim, maupun perilaku sosial petani. Inilah wajah baru penyuluhan yang mesti fleksibel, responsif, dan inovatif.

Pada saat yang sama, nilai harmonis dan kolaboratif menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar. Penyuluhan tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai aktor, yaitu pemerintah daerah, komunitas petani, akademisi, hingga pelaku usaha. Kolaborasi ini membuka ruang bagi lahirnya ekosistem pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Di penghujung sesi, satu pesan menguat: masa depan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia di baliknya. Penyuluh pertanian yang adaptif, harmonis, dan kolaboratif akan menjadi motor penggerak perubahan. Dari ruang virtual di Semarang, semangat itu menjalar ke berbagai penjuru negeri, membawa harapan bahwa pertanian Indonesia bisa tampil lebih modern, inklusif, dan, seperti yang digaungkan peserta, semakin “keren” di mata generasi muda.

Hadepe