blank
Psikolog Muhammad Machbub Aozai. yang menjabat Direktur Majelis Mulazamah Mahasiswa Mush'ab bin Umar, Associate Psikolog Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia, saat memberikan kajian tentang parenting di Masjid Al-Falah, Madyorejo, Jetis, Sukoharjo.(Dok.Begug SW)

SUKOHARJO (SUARABARU.ID) – Kondisi sebagian anak dan remaja sekarang, cukup memprihatinkan. Karena mereka mengalami krisis identitas, kurang adab dan empati. Banyak yang pintar bicara karena ponsel (HP), tapi lemah adab kepada orang tua dan guru.

Nada bicara mereka tinggi, mudah membantah, kurang sungkan. Empati tipis karena terbiasa berinteraksi lewat layar ponsel, bukan tatap muka. Diantara mereka, mengalami krisis identitas dan pergaulan, mudah ikut tren tanpa filter. Ini tercermin dalam tutur bahasa dan perilaku dalam bergaya, serta berani pacaran dini. Ingin diakui teman, jadi ikut-ikutan meski salah. Batas halal-haram kabur karena semua teman begitu.

Demikian dikemukakan Psikolog Muhammad Machbub Aozai SPsi. MPsi. yang menjabat Direktur Majelis Mulazamah Mahasiswa Mush’ab bin Umar, Associate Psikolog Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia.

Muhammad Machbub, warga Kauman Klewer Solo yang juga menjadi Dosen Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta ini, menyampaikan hal tersebut Minggu sore (5/4/26), saat tampil tampil menjadi pembicara dalam Kajian Ahad sore ba’da Magrib Bulan Syawal 1447 H (2026 M), di Masjid Al-Falah Kampung Madyorejo, Jetis, Kecamatn dan kabupaten Sukoharjo.

Tokoh masyarakat Sukoharjo, Begug SW, mengabarkan, kajian itu berlangsung selepas sholat Magrib. Acara ini, diawali kata pembukaan yang disampaikan Ketua Takmir Masjid Al-Falah Ir H Rudy Setyohadi melalui sie Bidang Dahwah dan Pendidikan Muhammad Anis SPd. Kajian kali ini, mengusung tema “Islamic Parenting: Menjaga Amanah Terindah.”

Parenting adalah proses pengasuhan anak yang melibatkan berbagai aspek, mulai dari pemenuhan kebutuhan fisik hingga pengembangan emosional dan sosial. Setiap elemen dalam parenting, seperti kedislipinan dan kasih sayang, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan anak.

Anugerah

Dalam tauziahnya, Muhammad Machbub Aozai S.Psi. M.Psi. Psikolog, Dosen Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta, Direktur  Majelis Mulazamah Mahasiswa Mush’ab bin Umar, Associate Psikolog Lembaga Advokasi Keluarga Indonesia yang bertempat tinggal di  Kauman Klewer Solo, menyatakan, anak adalah anugerah yang datang sepaket dengan tanggung jawab. Disebutkan, anak jadi penyejuk kalau kita didik dengan sabar. Tapi jadi ujian bila kita lalai, dan jadi amal jariyah kalau kita berhasil menanamkan iman.

Namun, tambah Muhammad Machbub Aozai, yang sering terlupa karena memperlakukan anak sebagai anugerah bukan untuk dibanggakan di depan orang. ”Tapi untuk dijaga agar selamat dunia akhirat baik dirinya, termasuk kita sebagai orang tuanya, jelasnya.

Disebutkan, pola pikir atau cara pandang kepada anak dalam Islam, sebaiknya menempatkan anak adalah amanah, bukan aset, bukan investasi hari tua yang harus membalas jasa, tapi titipan Allah yang akan ditanya pertanggungjawabannya. ”Kita merawat bukan agar anak berbakti, tapi karena Allah memerintahkan. Singkatnya, pandang anak dengan kasih sayang yang bertanggung jawab, bukan dengan tuntutan dan ego,” paparnya.

Kalau kemudian sekarang ditemukan anak krisis adab dan empati serta mengalami krisis identitas, itu akar masalahnya bukan anaknya nakal. Tapi karena orang tua sibuk, parenting diserahkan ke HP dan sekolah, Lingkungan teman dan tontonan, lebih kuat pengaruhnya dari rumah. Teladan minim, aturan tidak konsisten,

Semua itu, tandas Muhammad Machbub Aozai, melahirkan kondisi mereka menjadi cermin dari cara kita memperlakukan amanah itu selama ini. Inti dari parenting dalam Islam, bukan sekadar punya kita. Artinya, kita tidak berhak memperlakukan anak semaunya, membentak karena lelah, menuntut karena ego, atau membentuk mereka sesuai ambisi kita. Sebab, anak menjadi titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. ”Artinya, Allah yang memberi, Allah yang akan mengambil dan menanya,” jelasnya.(Bambang Pur)