JEPARA (SUARABARU.ID) — Perayaan Hari Teater Sedunia bertajuk Jepara Hatedu 2026 di Kabupaten Jepara melahirkan sebuah buku kumpulan naskah teater berjudul “KOL”. Buku tersebut memuat 13 naskah teater bertema seni ukir yang ditulis oleh para pegiat teater Jepara.
Peluncuran buku KOL menjadi penutup rangkaian acara Jepara Hatedu 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak Jumat, 3 April 2026, di kawasan Pantai Bandengan, Jepara.

Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Jepara, Kustam Erey Kristiawan, mengatakan penerbitan buku kumpulan naskah teater ini merupakan langkah penting untuk memperluas peredaran naskah teater di daerah tersebut. Selama ini, menurut dia, produksi naskah teater di Jepara masih tergolong minim.
“Dengan dibukukan seperti ini, maka akan menambah peredaran naskah teater. Selama ini yang terjadi di Jepara khususnya, kawan-kawan pegiat teater menulis naskah teater hanya untuk kepentingan pementasan kelompoknya sendiri. Kalau dibukukan seperti ini, sangat mungkin kelompok-kelompok teater lainnya juga akan ikut mementaskannya,” ujar Kustam, Senin, 6 April 2026.
Sebelumnya, naskah-naskah yang terhimpun dalam buku KOL telah dipentaskan dalam Festival Teater Jepara (Festera) 2025. Ke-13 naskah tersebut mengangkat tema seni ukir, yang menjadi identitas budaya Jepara sendiri.
Beberapa di antaranya adalah naskah “Warisan Bapak” karya Reza Agnes yang mengisahkan seorang anak yang enggan melanjutkan usaha ukir peninggalan orangtuanya. Ada pula “Pahat Rani” karya Asyari Muhamad yang bercerita tentang seorang anak yang memilih menjadi pengukir untuk meneruskan profesi keluarga dibanding bekerja di pabrik. Selain itu, naskah “Ki Badar Duwung” karya Riski Sawo mengangkat kisah asal-usul seni ukir di Jepara.
Kustam menilai, kehadiran buku ini merupakan bentuk nyata pelestarian seni ukir melalui medium teater. “Buku kumpulan naskah teater bertema seni ukir ini adalah aksi nyata upaya pelestarian seni ukir yang dilakukan kawan-kawan pegiat teater melalui cerita dalam bentuk naskah dan pertunjukan panggung,” katanya.
Sementara itu, Asa Jatmiko Penerbit Iniibubudi yang juga menerbitkan buku KOL mengapresiasi kerja kreatif para pegiat teater Jepara dalam menghadirkan karya yang tematik dan khas daerah.
Ia menuturkan, selama ini naskah teater kerap hanya dekat dengan pelaku teater saat proses produksi pertunjukan, namun menjadi jarang diakses setelahnya. “Dengan dibukukan, naskah-naskah tersebut dapat lebih diabadikan sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih luas bagi pembaca,” ujarnya.
Menurutnya Buku KOL yang telah diperjuangkan ini menjadi sangat penting kehadirannya. Karena ia akan berjejak, dan niscaya akan menumbuhsuburkan proses kreatif orang-orang teater di Jepara, dalam segala bentuk dan caranya masing-masing. Kami selalu mendukung upaya-upaya semacam ini,” ujar Asa.
Melalui peluncuran buku ini, Jepara Hatedu 2026 tidak hanya menjadi ruang perayaan seni pertunjukan, tetapi juga memperkuat ekosistem literasi teater di tingkat lokal.
Septiana W.











