
Perubahan memang harus dilakukan, tetapi banyak yang enggan keluar dari zona nyamannya. “Manusia menjadi kurang nyaman saat harus berubah. Banyak yang berada dalam kenyamanannya, meski di dalam kenyamanan itu mereka kmmenikmati kesalahannya,” ujar Pdt. Didik.
Deklarasi Allah menyatakan syalom dalam Paskah, adalah untuk membangun kembali relasi yang terhambat, untuk menunjukkan integritas untuk memulai hal baru di dunia. “Tuhan mengembalikan harmonisasi relasi dengan sesame dan ciptannya,” kata dia.
Hoaks Pemuka Agama Yahudi
Di tengah deklarasi syalom oleh Allah itu, ternyata ada juga upaya untuk mendegradasi syalom itu. “Itu tampak dari upaya para pemimpin agama Yahudi yang menyuap para prajurit penjaga makam, agar menyampaikan hoaks pada orang-orang bahwa mayat Yesus telah dicuri para murid. Padahal sejatinya Yesus telah bangkit dengan bukti batu yang terguling dan makam yang kosong,” ujar Pdt. Didik.
Dia berharap, dalam keseharian jemaat setelah Paskah harus melakukan perubahan. “Sekadar pada perayaan Natal dan Paskah tetapi makin rajin ke gereja, rajin menggeluti dirman Tuhan. Syalom tak sekadar diucapkan. Tetapi dinyatakan dengan membalut yang luka, melakukan rekonsiliasi,” ujarnya.
Dia mengingatkan juga, agar relasi yang dibangun Kembali itu, tak hanya relasi dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga dengan segala ciptaannya.
“Berkaitan dengan masalah lingkungan, ketika kita minum menggunakan tumbler dan mengurangi botol plastik, jangan berpikir apakah ada artinya, apakah ada dampaknya. Tetapi ini merupakan wujud kepedulian terhadap lingkungan, Karena dengan peduli pada ciptaan Tuhan, merupakan wujud kita kembali membangun relasi dengan ciptaan,” ujar Pdt. Didik.

Pada ibadah ini tampil Paduan Suara Efrata yang mempersembahkan lagu “S’bab Dia Hidup”. Seusai ibadah, Ketua Majelis GKJ Semarang Barat Baskara Dewayana membagi-bagikan telur Paskah pada jemaat yang berulang tahun.
Majelis juga meletakkan telur Paskah di seputar gereja, dan memberikan kesempatan kepada segenap jemaat untuk mencarinya. “Mengingatkan pada masa kecil kita dulu, mencari telur Paskah. Telur itu dimaknakan sebagai ketemu sedulur, bertemu saudara. Dan yang disediakan telur asin, sebagai symbol kita harus menjadi garam bagi dunia. Dan setelah kita keluar dari ruang gereja, silakan menikmati hidangan yang sudah disediakan,” ujar Penatua Baskara.
R. Widiyartono













