SUKOHARJO (SUARABARU.ID) – Kajian Ahad kelima (Ke-5) Ba’da Magrib, menyampaikan materi mengenal Kalender Hijrah Global Tunggal (KHGT). Acara ini, sekaligus mengawali kegiatan Bulan Syawal 1447 H (2026 M) di Masjid Al-Falah Kampung Madyorejo, Kelurahan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota, Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah.
Ketua Takmir Masjid Al-Falah Ir H. Rudy Setyohadi melalui Bidang Dahwah dan Pendidikan, Muhammad Anis SPd, sebagaimana disampaikan tokoh masyarakat Begug SW, menyebutkan, kajian kali ini digelar dengan mengundang Ustadz Bimawan Syamsudin SP. Mengambil tema “Mengenal Kalender Hijriyah Global Tunggal.”
Ustadz Bimawan Syamsudin, dalam tauziahnya menyampaikan materi kajian dengan tema ”Mengenal KHGT” bisa dipakai untuk pengajian, halaqah atau diskusi. KHGT, tandas Bimawan, adalah sistem kalender Islam yang disepakati memberlakukan satu tanggal hijriah yang sama untuk seluruh dunia. ”Atau lebih tepatnya satu dunia-satu hari-satu tanggal yang sama,” tandasnya.
Diharapkan, dengan adanya KHGT, umat Islam mengawali dan mengakhiri Ramadhan, termasuk nanti dalam ber-Idul Adha pada hari yang sama. Selama ini terjadi perbedaan awal bulan karena perbedaan metode. Yakni adanya rukyat lokal, hisab lokal, kriteria berbeda antar negara.
KHGT, tambah Ustadz Bimawan, menggunakan prinsip satu matla’ global (wilayatul hukmi). Artinya, jika hilal terlihat di satu titik bumi, maka berlaku untuk seluruh dunia. Dengan menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan terlihatnya hilal) yang disepakati secara ilmiah. ”Bukan sekadar rukyat mata di tiap negara,” paparnya.
Akurat
Ini yang menjadi dasar pemikiran KHGT. Pertama, Dalil Syar’i Hadits “Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal” (HR. Bukhari Muslim) dipahami berlaku global, bukan lokal. Prinsip persatuan umat, umat Islam itu satu tubuh. Kedua, Dalil Ilmiah, hisab astronomi modern sudah mampu memprediksi posisi hilal secara akurat. ”Bumi itu satu, bulan juga satu, maka penanggalan mestinya satu,” tambah Ustadz Bimawan,
Aspek KHGT sistem lokal (misal MABIMS) Matla’ Global (satu dunia) Lokal (per negara/wilayah), kriteria imkanur rukyat global, Imkanur rukyat lokal (2°/3°/8 jam). Hasil Satu tanggal sedunia bisa berbeda antar negara.
Keutamaan/tujuan KHGT, mewujudkan persatuan umat Islam dalam ibadah, menghilangkan kebingungan perbedaan hari raya, memudahkan kalender global (pendidikan, haji, ekonomi syariah). Itu dilakukan dengan menggabungkan hisab dan rukyat secara proporsional.
Adapun tantangan penerapan KHGT, Pertama, saat ini baru 60 negara yang menerapkan KHGT. Kedua, negara masih berpegang pada otoritas lokal. Ketiga, adanya perbedaan metode (hisab vs rukyat murni).
”Jadi KHGT bukan mengganti syariat, tapi metode penerapan syariat agar lebih maslahat dan menyatukan,” tandas Ustadz Bimawan. Muhammadiyah, tambahnya, telah mengadopsi KHGT sejak 2024. Harapannya, dapat menjadi langkah menuju kalender Islam pemersatu dunia. Usai pengajian, dilanjutkan shalat Isya berjamaah.(Bambang Pur)













