SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dalam menyikapi cuaca ekstrem yang terjadi waktu belakangan ini. Sebab, dampaknya dapat berpotensi memunculkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang.
Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, kondisi cuaca tersebut, identik dengan situasi iklim yang terjadi pada siklus Mangsa Kasanga (IX) dan Mangsa Kasadasa.
Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, menyebutkan, Mangsa Kasanga berlangsung mulai Tanggal 1 sampai dengan 25 Maret 2026. Kemudian berlanjut pada Mangsa Kasdasa (X), berlangsung mulai Tanggal 26 Maret sampai tanggal 18 April 2026 mendatang.
Dalam Buku Horoskop Jawa Misteri Pranata Mangsa (Karya Ki Hudoyo Doyodipuro Occ), Mangsa Kasanga berada dalam naungan Dewa Betara Bayu (putra Betara Guru dengan Dewi Uma), memiliki candra (sesebutan) Wedharing Wacana Mulya (tersiarnya berita bahagia). Ini ditandai buah duku dan buah jeruk mulai dipanen. Terjadi hujan turun dengan lebat disertai petir. Angin berhembus dari selatan dengan kekuatan kencang.
Kemudian mulai Tanggal 26 Meret sampai 18 April 2026, masuk dalam siklus Mangsa Kasadasa (X). Memiliki sesebutan Gedhong Minep Jroning Kayun (Pintu gerbang tertutup di dalam hati). Berada dalam naungan Resi Bisma. Menjadi pertanda datangnya Naga Jati Ngarang. Tiba waktunya mulai memasuki musim Mareng. Yakni pergantian musim dari penghujan ke awal musim kemarau. Sering ditandai kemunculan angin kencang dengan suara mendesau-desau. Mulai terdengar suara hewan Garengpung, burung Manyar membuat sarang, padi di sawah mulai menguning, pertanda mulai dapat dipanen.
Pranata Mangsa adalah ilmu titen (pengamatan) tradisional Jawa, tentang perhitungan musim yang membagi dalam siklus satu tahun menjadi 12 mangsa, dengan mendasarkan pada gejala alam. Sistem kalender surya ini, digunakan sebagai pedoman bagi petani dan nelayan untuk menentukan waktu tanam, panen, hingga melaut, agar sesuai dengan perubahan cuaca dan ekosistem
Siklon Tropis
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, Jumat (27/3/26), menyatakan, terkait cuaca ekstrem masyarakat diseru untuk menghindari aktivitas di luar ruangan saat terjadi hujan lebat dan angin kencang. Tidak berteduh di bawah pohon atau bangunan yang berpotensi roboh, meningkatkan kewaspadaan di daerah rawan bencana, selalu memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD.
Berdasarkan informasi terbaru dari Badan Metereologi Klimatologi Geofisikan (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, Siklon Tropis Narelle saat ini telah keluar dari Area of Monitoring (AoM) TCWC Jakarta. Meskipun sistem siklon sudah menjauh dari wilayah Indonesia, dampak tidak langsung masih dirasakan di wilayah Jawa, termasuk Jawa Tengah dan Kabupaten Wonogiri.
Kata Fuad, dampak itu berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang berpotensi disertai kilat/petir, dan angin kencang sesaat. ”Karena itu, masyarakat di wilayah Kabupaten Wonogiri perlu mewaspadai dampak yang mungkin terjadi,” tegas Fuad. Yakni banjir dan genangan air, tanah longsor di wilayah perbukitan, pohon tumbang akibat angin kencang, dan gangguan aktivitas transportasi.
Masyarakat menuturkan, beberapa hari terakhir ini terjadi hujan lebat disertai petir. Guyuran hujan lebat dilaporkan merata turun di hampir seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri. Tempo hujan turun ada yang sampai berlangsung sekitar 2 jam. Mengguyur di waktu lewat tengah malam dengan intensitas sangat deras.
Berkaitan hujan deras tersebut, Kepala BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menyatakan, sejauh ini belum diterima laporkan mengenai dampak yang ditimbulkan. ”Sejauh ini aman-aman saja. Kami belum menerima dampak bencana yang ditimbulkan,” tegasnya.(Bambang Pur)













