blank
Poster Festival Kupat Lepet 1447H. Foto: Disparbud.

JEPARA (SUARABARU.ID) — Kabar gembira bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Acara bertajuk Festival Kupat Lepet 1447 H akan segera digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertempat di Pantai Kartini Jepara.

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda budaya yang dinanti setiap tahunnya, terutama dalam suasana pasca lebaran yang kental dengan nuansa tradisi dan kebersamaan.

blank

Acara akan digelar setelah Kirab Pelarungan Kepala Kerbau yang akan dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan TPI Ujung Batu Jepara pada pukul 06.00 dan akan finish di Pantai Kartini pada pukul 08-00.

Bertempat di Lapangan Pantai Kartini, tradisi khas Jepara yang penuh makna ini direncanakan akan berlangsung meriah dengan menyuguhkan lepet sebanyak 1447 buah sesuai dengan tahun Hijriah saat ini.

Panitia penyelenggara, Disparbud Jepara dalam akun isntagramnya menyampaikan bahwa Festival Kupat Lepet tahun ini akan dimeriahkan dengan berbagai rangkaian acara menarik.

blank

Mulai dari pentas musik yang menghadirkan nuansa hiburan kekinian, hingga pertunjukan seni tradisional khas Jepara yang menggambarkan kekayaan budaya lokal. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati Pameran Kopi Jeparanan yang menampilkan ragam cita rasa kopi lokal hasil karya pelaku usaha daerah Kabupaten Jepara.

Kupat dan lepet sendiri bukan sekadar hidangan khas Lebaran. Di balik anyamannya, tersimpan filosofi mendalam tentang persatuan, saling memaafkan, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini yang ingin terus dihidupkan melalui festival, agar tetap relevan bagi generasi penerus turun temurun.

blank

Mengacu pada catatan yang ditulis oleh Hadi Priyanto, salah satu Budayawan di Jepara, tradisi Kupat Lepet di Jepara telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam perayaan Syawalan.

Menurutnya dalam pesta Lomban di Jepara, ada tradisi budaya yang terus diperbarui secara dinamis sesuai dengan perkembangan masyarakat. Bermula dari kemunculan ide, untuk menggunakan kupat lepet sebagai simbol dari pengakuan atas kesalahan, kekurangan dan kilaf, baik dalam dimensi  hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama.

Hadi Priyanto menekankan, “kerendahan hati dan pengakuan atas ketidak-sempurnaan yang  senantiasa mewarnai suasana Idul Fitri inilah yang  menjadi latar belakang munculnya Festival Kupat Lepet pada Lomban Jepara.”

Sebuah tradisi yang berkaitan erat dengan budaya masyarakat pesisir. Dimana menjadikan momen Lebaran sebagai waktu untuk mempererat tali silaturahmi dan ungkapan rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa.

blank

Dalam perkembangannya dimulai sejak tahun 2006, tradisi tersebut kemudian dikemas dalam bentuk festival agar lebih menarik dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Dengan perpaduan antara tradisi dan kreativitas, Festival Kupat Lepet 1447 H diharapkan mampu menjadi magnet wisata budaya sekaligus memperkuat identitas lokal Jepara.

Sehingga masyarakat diundang untuk hadir dan merasakan langsung hangatnya suasana penuh budaya, di mana setiap anyaman kupat dan lepet membawa cerita tentang kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.

Septiana W