blank
Para anggota Bina Akses Jepara sedang mengukir. Foto: Dok BAJ.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Di sebuah sudut Pantai Kartini Jepara tepatnya di Jepara Wood Carving Galery, suara ketukan pahat bersahutan dengan semangat yang tak kalah kuat yaitu kemandirian.

Di balik aktivitas mereka, hadir salah satu paguyuban yang menaungi teman-teman difabel di Jepara yaitu Bina Akses Jepara. Leembaga ini  menjadi sebuah ruang tumbuh bagi teman-teman difabel untuk belajar, berkarya, dan menemukan kepercayaan diri Kembali.

blank
Budi Mulyo Ketua Bina Akses Jepara yang juga pemilik Budi Miniatur Galery. Foto: Dok BAJ.

Diketuai oleh Budi Mulyo, yang akrab disapa “Budi Miniatur”, Bina Akses bukan sekadar komunitas. Ia adalah rumah bersama yang memayungi beragam potensi dari pertukangan, permebelan, hingga menjahit dan tata boga.

“Di sini, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai kemampuan dan skill yang dimiliki,” ujar Budi, suatu siang di sela jadwal piketnya di Galery.

blank

Ditengah aktivitas menatahnya, Budi berkisah bahwa banyak anggota yang datang dengan keraguan. “Sebagian  belum percaya diri untuk berkarya, dan ada juga yang  masih merasa ragu-ragu nantinya kurang mendapatkan akses pekerjaan.

“Namun melalui pelatihan rutin mulai dari ukir, menjahit, hingga tata boga, perlahan rasa itu mulai berubah menjadi tekad untuk semakin mandiri dan berkarya,” ujar Budi.

Menurutnya, Bina Akses Jepara berusaha menjadi jembatan tidak hanya dengan memberikan pelatihan teknis, tetapi juga membangun mental kemandirian.

blank

Program yang dahulu berfokus pada bantuan alat, kini lebih diarahkan pada peningkatan keterampilan. Menurut Budi, sudah ada beberapa pelatihan yang dilakukan termasuk aktifitas mengukir seperti yang dilakukan bersama beberapa teman difabel saat ini.

“Kalau punya skill, mereka bisa mandiri dalam jangka panjang,” kata Budi yang juga pemilik Galeri Budi Miniatur Jepara yang terletak di Desa Pecangaan Kulon, Jepara.

Disamping itu, Bina Akses Jepara juga sebagai ruang berkumpul dan bertumbuh. Setiap bulan, para anggota berkumpul dalam pertemuan rutin. Di sana, mereka tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga berbagi informasi mulai dari kebutuhan alat bantu hingga peluang pelatihan.

Pertemuan itu menjadi ruang aman untuk saling mengenal, bertukar cerita, dan membangun semangat. Di sana pula, rasa percaya diri mulai tumbuh pelan tapi pasti. Yang mana rasa diterima dan tidak sendirian menjadi landasan rasa aman teman-teman untuk memulai berkarya.

blank

Bina Akses juga aktif mendampingi anggotanya dalam mengakses bantuan dari dinas terkait, khususnya alat bantu yang mendukung keterampilan mereka. Usaha untuk menyuarakan hak yang sama dengan Masyarakat sipil lainnya serta membantu membuka akses teman-teman difabel juag digalangkan terus menerus.

Peran yang Setara dan Berdaya dalam Publik

Peran Bina Akses tidak berhenti pada pemberdayaan ekonomi. Mereka juga aktif dalam advokasi dan edukasi publik, termasuk bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk sosialisasi pemilu bagi difabel.

“Teman-teman difabel juga punya suara,” tegas Budi. Baginya dan rekan-rekan, partisipasi politik kawan-kawan difabel adalah hak yang tidak boleh terabaikan.

Dari upaya itu, perubahan mulai terasa. Pelayanan publik di Jepara perlahan menjadi lebih inklusif untuk warga difabel. Tersedianya akses publik bagi tunanetra, hingga perhatian yang lebih besar terhadap kebutuhan difabel.

Budi juga menyampaikan harapannya tentang Seni Ukir sebagai jalan pemberdayaan teman-teman difabel khususnya di Jepara yang terkenal sebagai Kota Ukir. Sehingga pada 2025, sebanyak 10 difabel telah ikut serta dalam lomba ukir Jepara. Menurutnya, ini sebagai sebuah langkah kecil, namun bermakna besar.

Kedepannya mereka berharap lebih banyak kawan difabel bisa terlibat. “Tahun 2026 menjadi babak baru. Bina Akses Jepara menjalin kerja sama dengan Yayasan Pelestari Ukir Jepara untuk membuka peluang lebih luas bagi difabel dalam dunia ukir,” ujar Budi

blank

“Program ini sejalan dengan dorongan pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali industri ukir dan kerajinan sebagai identitas Jepara,” ujarnya di tengah kesibukan mengukir.

Bina Akses juga aktif bersinergi dengan berbagai komunitas, organisasi masyarakat, dan kelompok disabilitas lainnya di Jepara. Bagi mereka, kolaborasi adalah kunci untuk menciptakan perubahan yang lebih luas.

Di tengah suara pahat dan serpihan kayu, tersimpan cerita tentang harapan. Tentang bagaimana tangan-tangan yang dulu diragukan, kini mampu menciptakan karya. Dan tentang sebuah komunitas yang percaya, bahwa setiap orang bagaimanapun kondisinya berhak untuk berdaya.

Septiana W.