JEPARA (SUARABARU.ID) – Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H di Masjid Ahbabul Muhsinin. Kedung Rejo, Sinanggul Jepara berlangsung khitmad Sabtu (21/3-2026). Acara yang diikuti ratusan Jemaah ini dimulai dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh ustadz Fahrurrozi, dilanjutkan sambutan Muhammad Muhlis selaku pengurus masjid serta salat idulfitri dengan imam salat H. Hasyiem.
Sedangkan bilal oleh Sholeh dan khotib dalam salat idul fitri ini adalah Latifun yang membawakan khotbah dengan tema Idul Fitri di Tengah Krisis Kemanusiaan.
Menurut Latifun, saat umat Islam merayakan Idul Fitri, kita kembali pada kesucian hati dan hari mencapai kemenangan. Sebab atas rahmat Allah kita berhasil memperbaiki diri dengan cara mengendalikan hawa nafsu selama bulan ramadan sehingga membuat jiwa dan hati kita menjadi bersih dan suci kembali.
“Semoga kebersihan dan kesucian hati kita sebagai dampak dari keberhasilan kita mengalahkan hawa nafsu ini bisa kita pertahankan di bulan-bulan berikutnya,” pintanya

Namun Latifun mengingatkan, saat umat Islam dari berbagai belahan dunia sedang merayakan Idul Fitri, dunia sedang menyaksikan krisis kemanusiaan. “Di Palestina, khususnya di Gaza, ribuan kaum Muslimin, termasuk anak-anak dan perempuan menjadi korban konflik bersenjata yang berkepanjangan,” ungkapnya. Juga ketegangan geopolitik yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah, peperangan semakin sulit dihindarkan dan korbannya lagi-lagi adalah masyarakat sipil yang mayoritas umat Islam, tambahnya
Konflik ini menunjukkan satu kenyataan pahit bahwa dunia masih jauh dari perdamaian. “Ketika kepentingan politik dan kekuatan militer lebih dominan ketimbang nilai-nilai kemanusiaan, maka yang terjadi adalah kekerasan massal dengan rakyat kecil yang tak berdosa sebagai korban utamanya,” urainya.

“Dalam situasi seperti ini, Idulfitri mengingatkan kita pada pesan dan ajaran Islam bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati dan dijaga keselamatannya,” ujar Latifun. Tidak ada ideologi atau kepentingan politik apa pun yang dapat membenarkan penghancuran kehidupan manusia secara sewenang-wenang. Dari sinilah, Idul Fitri juga mengajarkan kita tentang pentingnya empati dan persaudaraan antar sesama manusia yang biasa disebut dengan istilah Ukhuwah Basyariyah, tegas Latifun.
Dalam kondisi yang memprihatinkan ini kita sebagai umat Islam dituntut untuk memiliki tanggung jawab moral dengan menunjukkan empati dan simpati terhadap saudara-saudara kita yang dilanda konflik dan peperangan tersebut.

Langkah yang paling sederhana untuk menunjukkan empati dan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang dilanda konflik, menurut Latifun adalah berusaha menciptakan kedamaian, keamanan dan ketenangan di kampung kita dan di negara kita. “Kalau kita mampu menghadirkan kedamaian dan keamanan di negeri kita maka kita bisa memiliki kesempatan dan peluang menggalang kekuatan untuk memberikan bantuan dan santunan, baik secara materiil maupun moril, kepada saudara-saudara Muslim yang dilanda bencana kemanusiaan,” paparnya
Sebaliknya, kalau kita sendiri tidak mampu membangun perdamaian dan keamanan di negeri kita sendiri; di rumah kita sendiri; maka mustahil kita mampu menunjukkan empati, kepedulian dan bantuan pada saudara-saudara kita di belahan negara lain. “Bagaimana kita bisa menolong orang lain kalau negeri kita sendiri tidak aman, tidak damai dan hancur berantakan?”, ujarnya

Latifun juga menegaskan, Idulfitri adalah hari kemenangan spiritual, tetapi kemenangan ini harus diwujudkan dalam kehidupan sosial. Kemenangan kita dalam melawan hawa nafsu harus kita wujudkan dalam bentuk pembelaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan berdasarkan kasih sayang dan persaudaraan.
“Di tengah konflik dunia hari ini, umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pembela kemanusiaan. Kita mungkin tidak terlibat perang secara langsung, tetapi kita dapat melakukan banyak hal seperti mendoakan, menyumbangkan sebagian harta kita melalui pajak yang kita bayarkan, membantu melalui solidaritas kemanusiaan dan menyuarakan keadilan,” pungkas anggota DPRD Jepara ini mengakhiri khotbahnya
Hadepe













