blank
Keramaian salah satu kedai kopi (Kedai Kopi Ejaan) di Jepara. Foto: Septi.

Oleh: Septiana Wibowo.

Langit siang di Jepara masih terasa hangat ketika pintu-pintu rumah mulai tertutup perlahan. Aroma opor dan ketupat belum sepenuhnya hilang dari ruang makan, sementara canda keluarga masih terngiang di kepala. Hari pertama Lebaran berjalan sebagaimana mestinya—khidmat, hangat, dan penuh silaturahmi.

Namun, menjelang sore, ritme itu perlahan berubah. Ponsel-ponsel mulai menyala lebih intens. Pesan singkat bermunculan seperti, “Nongkrong di mana?”, “Jam berapa berangkat?”. Wujud tradisi baru yang diam-diam mengambil alih setelah tradisi lama ditunaikan, Halal bi Halal bersama keluarga besar.

blank

Bagi banyak anak muda Jepara, Lebaran tak lagi berhenti di ruang tamu. Di salah satu sudut kota, deretan kedai kopi mulai ramai, salah satunya di Ejaan Kopi, tempat dimana saya sedang mampir mencari tempat untuk sekedar mencari angin.

Kursi-kursi yang biasanya lengang di pagi hari kini terisi oleh kelompok-kelompok anak muda. Sebagian masih mengenakan baju koko atau gamis, sebagian lain sudah berganti dengan pakaian kasual. Mereka datang dengan satu tujuan sederhana yaitu melanjutkan kebersamaan juga Halal bi Halal bersama teman-teman.

blank
Pengunjung mengantri pemesanan kopi. Foto: Septi.

Di meja-meja kayu itu, percakapan mengalir tanpa sekat dengan segelas Americano, atau es kopi susu yang segar. Mereka berbincang tentang pekerjaan di kota rantau, rencana masa depan, hingga cerita lama yang dihidupkan kembali.

Ada yang baru pulang setahun sekali, ada pula yang hanya berbeda jadwal sibuk. Namun tetap lebaran menjadi sebuah titik temu yang hangat dengan gelak tawa yang akan mereka rindukan setelahnya.

“Kalau siang buat keluarga, malam buat teman,” kata Dian, sambil tersenyum. Ia baru tiba dari Bandung sehari sebelumnya. Baginya, kedai kopi menjadi tempat netral yang bukan milik siapa-siapa, tetapi terasa milik bersama.

blank

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Dalam beberapa tahun terakhir, kedai kopi di Jepara tumbuh pesat, mengikuti denyut gaya hidup generasi muda. Ruang-ruang yang menawarkan lebih dari sekadar minuman, ada suasana, identitas, dan pengalaman.

Interior yang estetik, alunan musik indie, hingga koneksi internet menjadi bagian dari ekosistem baru yang akrab dengan kehidupan anak muda. Di sinilah mereka membangun jejaring sosial, mengekspresikan diri, bahkan merayakan momen-momen penting termasuk Lebaran.

“Tanpa disadari, kedai kopi memang telah menjadi ruang tamu kedua, banyak customer yang datang memang untuk menemui teman lama, atau sekedar meeting pekerjaan,” ujar Yusuf Barista Ejaan Kopi di tengah kesibukannya meracik kopi untuk para pelanggan.

blank

Meski begitu, perubahan ini tidak serta-merta menggeser nilai lama. Justru, keduanya berjalan beriringan. Pagi hingga siang tetap diisi dengan tradisi keluarga yaitu sungkeman, ziarah, dan saling memaafkan. Sementara sore hingga malam menjadi ruang bagi pertemuan yang lebih santai dan lebih hangat bersama teman-teman lama yang mudik dan berkumpul.

Tampak semacam keseimbangan yang tercipta di antara yang sakral dan yang kasual, di antara yang diwariskan dan yang diciptakan. Sering obrolan semakin hangat tercipta tentang nostalgia pertemanan masa kecil atau sendau gurau masa sekolah.

Di tengah gelak tawa dan denting cangkir kopi, Lebaran menemukan bentuk barunya di kalangan anak muda Jepara. Bukan pengganti, melainkan pelengkap. Sebab pada akhirnya, baik di ruang tamu maupun di kedai kopi, yang dicari tetap sebuah kebersamaan yang kemudian hari akan dirindukan.

Penulis adalah Penulis Buku “Bukan Kartini” serta Wartawan Suara Baru.