blank

Oleh : M. Shohibul Itmam

Hari terakhir bblankulan ramadan semua aktivitas muslim akan ditutup dengan adanya hari raya idul fitri yang pada saat malam sore hingga subuh jelang sholat idul ftri diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mensucikan setiap pribadi yang masih bernyawa.

Tradisi demikian sudah berjalan spiritnya sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang, berkembang ke berbagai negara di dunia dengan ragam varian praktik masing-masing, termasuk di Indonesia.

blank

Rangkaian aktivitas ibadah selama Ramadan yang diakhiri dengan zakat fitrah dan sholat idul fitri bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai muslim yang senantiasa bertaqwa dan beramal sholih baik secara individual maupun secara sosial menjadi manusia yang suci lahir batin.

Menjadi muslim sholih yang meraih kesucian Idul Fitri lahir batin adalah doa dan harapan setiap ummat Islam. Namun capain kesucian tersebut terkadang atau bahkan  mungkin sering terabaikan oleh ummat muslim sehingga di akhir ramadan yang tersisa hanya mendapat kenangan lapar dan dahaga serta amalan ibadah lain yang sifatnya hanya ritual semata.

blank

Kandas atau gagalnya  meraih predikat menjadi muslim sholih dengan kesucian Idul Fitri lahir batin menurut pandangan agama sebagaimana dijelaskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib disebabkan adanya lima hal.

Pertama, setelah ramadan selesai semangat belajar menurun dan cenderung menerima keadaan sebagai manusia yang bodoh dan tidak punya progress untuk terus belajar terutama peningkatan ilmu agama yang dibutuhkan.

blank

Kedua,  setelah ramadan selesai semangat dan ambisinya tidak hanya berorientasi materi dan duniawi semata melainkan membangun keseimbangan aktivitas duniawi dan ukhrowi sehingga harta dan aset yang dimilikinya lebih banyak didistribusikan untuk kepentingan sosial keagamaan.

Ketiga, setelah ramadan selesai maka mereka akan senantiasa menjaga dan meningkatkan rasa malunya tidak hanya kepada allah semata melainkan kepada sesama manusia, malu untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan nilai dan norma agama sosial dalam berbangsa dan bernegara sehingga tercipta tatanan birokrasi yang tertib jujur dan adil untuk semua.

Keempat, setelah ramadan selesai mereka senantiasa memberikan harta kekayaan yang dimilikinya untuk kepentingan bersama tanpa merasa eman eman terlebih untuk kepentingan pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan umum. Semangatnya selalu berbagai untuk sesama sebagai jalan yang diyakini mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kelima setelah ramadan selesai mereka tidak pernah merasa menjadi manusia yang paling berpengaruh, paling penting serta paling bagus ide dan gagasanya melainkan selalu menyadari bahwa hidup dalam Islam adalah semangat berbagai ide gagasan dan musyawarah serta senantiasa mengedepankan aspirasi publik untuk kemajuan bersama.

Dari pandangan agama diatas, dapat dipahami bahwa muslim sholih yang bisa meraih kesucian Idul Fitri lahir dan batin adalah mereka yang setelah ramadan selesai masuk bulan syawal tetap mempunyai semangat beragama yang stabil bahkan cenderung meningkat dalam menjaga pendidikan, ekonomi, harga diri, membangun relasi sosial yang baik serta terhindar dari sifat sombong ke-aku-an merasa paling berpengaruh dan paling penting dalam kehidupan.

Semoga kita bersama meraih predikat muslim idul fitri, kembali kepada fitrah sebagai manusia yang suci lahir bathin dalam ridha dan ampunan Allah SWT, Amiin.

 Shohibul Itmam adalah Wakatib Syuriah PWNU Jawa Tengah dan Kepala Pusat Studi Pesantren UIN Sunan Kudus