
Oleh : Hadi Priyanto
Jepara adalah kota dengan potensi pariwisata yang sangat kaya dan beragam. Bukan saja sumber daya alam yang melimpah di pegunungan, daratan maupun lautan tetapi juga memiliki potensi wisata sejarah dan budaya yang terbentuk karena perjalanan panjang peradaban Jepara. Jepara juga memiliki Karimunjawa, icon baru pariwisata nasional. Semua potensi ini dapat diubah menjadi kekuatan riil pembangunan daerah.
Karena itu menarik mencermati apa yang disampaikan oleh Bupati Jepara Witiarso Utomo saat menggelar silaturahmi dengan insan Pers Jepara, di pendapa R.A. Kartini Jepara menjelang buka puasa bersama beberapa waktu lalu. Bupati yang dikenal visioner ini melontarkan gagasannya ingin menjadikan pariwisata sebagai fokus perhatian dan sekaligus menjadikannya sebagai lokomotif pembangunan daerah pada tahun 2027. Tentu setelah penataan infrastuktur dirampungkan tahun ini.

Harapannya bukan saja agar dapat mengurangi beban fiskal yang sangat berat dalam menggerakkan operasional pemerintahan dan pembangunan daerah pasca kebijakan efesiensi yang dilakukan pemerintah pusat dengan memperbesar PAD, tetapi tentu ingin mendapatkan manfaat dari “Trickle Down Effect” atau dampak aliran manfaat ekonominya dapat dirasakan semakin banyak oleh masyarakat.
Memang kebijakan efisiensi telah menyebabkan anggaran transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat mengalami penurunan yang signifikan. Akibatnya dana di kantong kas daerah semakin tipis. Padahal dalam lima tahun terakhir porsi porsi TKD terhadap total pendapatan daerah masih sangat dominan dengan rata-rata nasional mencapai 84-87 persen. Sedangkan sumbangan pendapatan asli daerah (PAD) baru pada angka 13-16 persen. Ini berarti setiap penurunan 1 persen TKD bisa menggerus ruang fiskal daerah hingga ratusan miliar rupiah.

Karena itu keinginan Bupati Jepara bersama DPRD meramu strategi untuk memperbesar pundi – pundi PAD melalui pengembangan sektor pariwisata harus didukung secara kritis oleh semua fihak dan disambut optimistis. Tujuannya untuk mencari jalan keluar kemungkinan tersendatnya pembangunan akibat semakin berkurangnya kemampuan kas daerah.
Jalan Penunjuk Arah
Tidak mudah tentu merealisasikan gagasan Bupati Witiarso Utomo. Apalagi Jepara belum memiliki peta jalan sebagai penunjuk arah pengembangan pariwisata dalam lima tahun kedepan. Padahal dokumen ini sangat dibutuhkan agar dapat mensinergikan secara padu semua pemangku kepentingan dalam program ini. Contoh riil adalah kasus tambak udang di Karimunjawa yang justru bertentangan dengan esensi pembangunan pariwisata di kawasan tersebut. Atau pengabaian pelestarian seni ukir yang menjadi kekuatan budaya daerah di tengah pengembangan industri furniture dan manufaktur Jepara. Atau seni tradisi yang semakin terpinggirkan.

Karena itu perlu segera disusun peta jalan pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Jepara. Peta jalan ini memuat visi, misi, kebijakan, dan program prioritas yang dirancang untuk meningkatkan daya saing destinasi, memperluas pangsa pasar, serta memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan. Pentingnya penyusunan peta jalan ini semakin penting di tengah tumpang tindih dan arogansi sektoral
Apalagi saat ini telah terjadi perubahan preferensi wisatawan, persaingan antar destinasi, dan tuntutan pembangunan berkelanjutan menuntut adanya perencanaan yang matang, adaptif, dan inklusif. Tanpa peta jalan yang baik, pengembangan pariwisata dapat menjadi tidak terarah, berisiko merusak lingkungan, dan gagal memberikan dampak ekonomi yang merata.

Penyusunan peta jalan ini juga merupakan wujud integrasi lintas sektor antara pariwisata, lingkungan hidup, infrastruktur, pendidikan, dan budaya. Selain itu, dokumen ini menjadi acuan bagi pengambilan kebijakan, penentuan alokasi anggaran, dan evaluasi kinerja pemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata.
Fokus utamanya adalah memastikan bahwa pengembangan pariwisata berjalan seimbang antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu pelibatan masyarakat secara kritis dan partisipasi dunia usaha dalam merancang peta jalan ini sangat diperlukan. Bukan sebatas serimoni adminstratif seperti yang selama ini sering terjadi.
Pentingnya Petan Jalan
Peta jalan yang tersusun secara baik akan sangat bermanfaat untuk mewujudkan visi pariwisata daerah yang berkelanjutan dan kompetitif. menyelaraskan peran pemangku kepentingan mulai pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat, mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam, budaya, dan infrastruktur secara efisien, meningkatkan kapasitas kelembagaan dan tata kelola distinasi serta meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD)
Sedang manfaat peta jalan dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat berdasarkan data dan analisis, koordinasi antar lembaga dan sektor menjadi lebih efektif dan sinergis, mempermudah penggalangan investasi melalui kejelasan arah pembangunan, monitoring dan evaluasi kinerja program menjadi terukur dan berorientasi hasil serta meningkatkan kesiapan daerah menghadapi tantangan dan perubahan global.
Jika peta jalan pengembangan pariwisata telah tersusun baik, maka dapat dipetakan pula sistem pendanaan mulai sumber dana pemerintah baik pusat maupun daerah, investasi swasta dan Public Private Partnership, serta sumber pembiayaan kreatif seperti penggalangan dana berbasis komunitas melalui crowdfunding lokal, serta optimalisasi dana CSR dari perusahaan sekitar kawasan destinasi.
Diharapkan dengan peta jalan ini ada pemandu jalan yang disepakati bersama untuk mengembangkan sektor pariwisata. Sebab jika tidak, bisa saja kita tersesat di jalan yang terang atau berjalan di jalan terjal tanpa penunjuk arah
Penulis adalah Wartawan SUARABARU.ID dan Pegiat Budaya Jepara













