SEMARANG (SUARABARU.ID) – Ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana untuk membentuk ketakwaan kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Zaenal Musta’in dalam Kajian Ramadan Kantor Wilayah Kementerian Hukum (Kanwil Kemenkum) Jawa Tengah yang berlangsung di Masjid Al Hikmah Kantor Wilayah, Kamis (12/3/2026).
Sebagaimana termaktub dalam Surah Al Baqarah ayat 183, Ustadz Zaenal Musta’in menjelaskan bahwa ayat tersebut diawali dengan panggilan kepada orang-orang yang beriman dan diakhiri dengan tujuan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah SWT.
“Perintah puasa diawali dengan panggilan ‘_wahai orang-orang yang beriman’_. Artinya, yang mampu menerima panggilan tersebut adalah mereka yang memiliki keimanan. Setelah iman tertanam, barulah Allah mewajibkan ibadah puasa dengan tujuan agar kita menjadi orang yang bertakwa,” jelasnya.
Ia mengibaratkan hubungan antara iman, puasa, dan ketakwaan seperti sebuah sistem pada perangkat _sound system_. Menurutnya, iman merupakan input, ibadah puasa menjadi proses _mixing_, dan hasil akhirnya adalah ketakwaan sebagai output.
“Iman adalah input, puasa adalah prosesnya, dan outputnya adalah ketakwaan. Tanpa keimanan, seseorang tidak akan mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik,” terang Ustadz Zaenal.
Ia menegaskan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk hubungan langsung antara manusia dengan Allah SWT yang dilandasi oleh keimanan. Berbeda dengan ibadah lain yang dapat terlihat secara lahiriah, puasa adalah ibadah yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT.
“Puasa itu ibadah yang sangat personal. Kita tidak pernah tahu siapa yang benar-benar berpuasa dan siapa yang tidak. Karena itu, puasa adalah ibadah yang benar-benar mengajarkan kejujuran dan keikhlasan kepada Allah,” ungkapnya.
Ia juga menggambarkan bagaimana orang yang menjalankan puasa akan sangat berhati-hati, bahkan terhadap hal-hal kecil seperti setetes air yang dikhawatirkan dapat membatalkan puasa.
Menurutnya, inilah yang menjadi spirit Ramadan, yaitu membentuk rasa takut hanya kepada Allah SWT sehingga setelah Ramadan berakhir diharapkan setiap muslim mampu menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
“Spirit Ramadan mengajarkan kita untuk takut hanya kepada Allah SWT. Harapannya setelah Ramadan kita benar-benar menjadi orang yang bertakwa kepada Allah SWT,” pungkasnya.
Ning S













