blank
Warga masyarakat Lingkungan Joho Lor, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Selasa sore (10/3/26), menggelar kenduri selamatan Selikuran.(Dok.Andreas S)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Diawali Selikuran, tradisi kenduri selamatan digelar pada malam-malam ganjil di akhir Bulan Ramadhan. Yakni pada malem datangnya Tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29. Masyarakat Jawa, menyebutnya sebagai kenduri Selikuran, Telulikuran, Selawe, Pitulikuran dan Sangalikuran.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, kenduri selamatan tersebut telah menjadi tradisi turun termurun di kalangan masyarakat Jawa. Itu menjadi wujud local wisdom (kearifan lokal). Harapannya, pada malam-malam tanggal ganjil tersebut, turun wahyu Lailatul Qadar. Yakni malam kemuliaan yang sangat istimewa di bulan Ramadhan, di mana ibadah di dalamnya bernilai lebih baik dari 1.000 bulan (setara dengan 83 tahun).

Pranoto, yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, menyatakan, Selikuran masuk dalam Bauwarna Adat Tata Cara Jawa. Yakni Buku karya Drs R Harmanto Bratasiswara, yang diterbitakan Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000, dan menjadi ensiklopedi Kejawen.

Penjelasan Selikuran, dituliskan pada halaman 702-703. Disebutkan, Selikuran menjadi upacara adat peringatan Nuzulul Quran pada Maleman Sriwedari, Surakarta. Dilaksanakan pada setiap datang malem tanggal 21 Ramadhan. Pelaksanaannya, diilhami oleh Serat Ambya, yang menyebutkan bahwa tanggal gasal (ganjil) sejak Tanggal 21 Ramadhan, Nabi Muhammad SAW turun dari Gunung Nur, setelah menerima ayat-ayat suci Al Quran.

Berkaitan itu, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sebagai Kerajaan Mataram Islam di Tanah Jawa, memperingati peristiwa besar itu dengan mengadakan upacara yang disebut Malem Selikuran. Yakni mengadakan prosesi kirab dari keraton menuju Kebon Raja Taman Sriwedari. Yang menyertakan Kereta Kencana Kiai Siswanda milik Sri Susuhunan Paku Buwana (PB) X, diiringi oleh para prajurit pembawa pusaka keraton, pembawa jodang berisi nasi kenduri dan beragam jajan pasar, yang dikawal oleh prajurit pembawa ting (penerangan berbahan bakar minyak tanah), dan beraneka macam lampion.

Tumpeng Sewu

Ini sekaligus untuk memperingati berdirinya berdirinya Kebon Raja Taman Sriwedari yang dibangun oleh Sri Sunan PB X. Pembangunan Kebon Raja Taman Sriwedari,ditangani oleh Arsitek Kanjeng Adipati Sosrodiningrat. Ditandai dengan Sengkalan Janma Guna Ngesthi Gusti. Untuk Maleman Sriwedari, pertamakali diselenggarakan pada Hari Rabu Wage (Budha Cemengan) Tanggal 28 Mulud Tahun Dal 1831 atau 17 Juli 1901. Diresmikan oleh PB X, bertepatan dengan perayaan tingalan (ulang tahun)-nya. Malem Selikuran di Taman Sriwedari dimulai Tahun 1982 oleh keraton dan dikelola panitia Maleman Sriwedari.

blank
Prosesi kirab Selikuran Keraton Kasunanan Surakarta berlangsung meriah, menjadi event wisata budaya di Kota Bengawan, berlangsung pada Senin malam (9/3/26), menyertakan beragam lampion, termasuk lampion PB XIV lengkap dengan lambang keraton.(Dok.Ist)

Berkaitan itu, Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat, telah menggelar tradisi Malem Selikuran Bulan Ramadhan 1147 H (2026 M) pada Senin malam (9/3/26). Acara wisata budaya ini, dimeriahkan dengan kirab tumpeng sewu (bermakna seribu bulan) dan beragam lampion, termasuk lampion berlambang Paku Buwono (PB) XIV. Menyertakan pula parajurit  pemikul jodang (rumah-rumahan tempat sesaji kenduri dan kelengkapannya).

Dimeriahkan dengan barisan prajurit dari berbagai bregada (pasukan), dengan menyertakan pembawa pusaka dan pataka panji-panji keraton, peleton korps musik barisan tambur dan peniup sangkakala, serta barisan pembawa obor. Mereka ini adalah para abdi dalem, sentana (kerabat) keraton dan prajurit. Prosesi ini, merupakan perpaduan nilai spiritual Islam dan budaya Jawa yang rutin dilakukan, sebagai bentuk rasa syukur.

Terlepas dari Selikuran yang diadakan Keraton Kasunanan Surakarta, masyarakat pada malem tanggal-tanggal ganjil setia mengadakan kenduri selamatan. Tradisi ini, digelar di rumah pemuka masyarakat, rumah Kepala Lingkungan, Balai Dusun atau di rumah Ketua Rukun Warga. Masing-masing warga membawa nasi kenduri beserta kelengkapan lauk pauknya, untuk dikumpulkan sebagai sarana berdoa bersama. Setelah usai berdoa, nasi kenduri kemudian dibagi-bagikan kepada semua yang hadir.

Itu sebagaimana dilakukan Selasa sore (10/3/26) di Lingkungan Joholor, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri. Masyarakat di masing-masing komunitas tingkat lingkungan, secara bergiliran menggelar kenduri selamat pada malem tanggal ganjil. ”Di Lingkungan kami, Tunggul, rencananya akan menggelar kenduri Malem Selawe Jumat sore Tanggal 13 Maret 2026 lusa,” tutur Agus dari Lingkungan Tunggul.

Penetuan malam-malam ganjil di penghujung Bulan Ramadhan 1447 (2026 M) kali ini tidak seragam. Keraton Kasunanan Surakarta menentukan Malem Selikuran jatuh pada Senin malam (9/3/26). Tapi masyarakat Kelurahan Giriwono, Kecamatan dan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, menentukan Selikuran jatuh pada Selasa malam (10/3/26). Perbedaan ini, terjadi karena penetapan awal Ramadhan yang ditetapkan Muhammadiyah dan pemerintah berselang sehari.(Bambang Pur)