blank
Kepala Perwakilan BI Jateng, Mohamad Noor Nugroho, memberikan keynote speech di acara Road to PUSAKA Jateng 2026, Rabu 11 Maret 2026. foto: hp

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah menggelar forum diskusi Road to PUSAKA Jateng 2026 dan Call for Paper guna merumuskan rekomendasi kebijakan strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi global.

Langkah ini diambil guna mendukung target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada tahun 2029 yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto melalui visi Asta Cita.

​Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, menyatakan bahwa meskipun target tersebut cukup menantang, pencapaian ekonomi Jawa Tengah yang impresif pada akhir tahun 2025 menjadi modal optimisme yang kuat.

​Dalam pemaparannya, Mohamad Noor Nugroho mengungkapkan bahwa ekonomi Jawa Tengah pada triwulan terakhir tahun 2025 mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 5,84% (yoy).

Angka ini membawa pertumbuhan tahunan Jawa Tengah secara keseluruhan di tahun 2025 mencapai 5,37%.

​”Ini adalah angka yang sangat impresif. Dari sisi permintaan, pendorong utamanya adalah investasi yang tinggi serta konsumsi rumah tangga yang tetap solid. Sementara dari sisi penawaran, sektor industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan menunjukkan performa yang kuat,” ujar Noor Nugroho, Rabu 11 Maret 2026.

​Meski tren pertumbuhan positif, Bank Indonesia memberikan catatan khusus terkait ketidakpastian global.

Proyeksi pertumbuhan dunia dari lembaga internasional yang semula optimis di angka 3,3% untuk tahun 2026 dan 2027, kini terancam oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

​”Risiko downside saat ini cukup besar. Konflik di Timur Tengah dapat mengganggu jalur distribusi utama di Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak, dan meningkatkan biaya logistik global. Sebagai negara dengan perekonomian terbuka, hal ini berdampak langsung pada nilai tukar Rupiah dan tekanan inflasi,” jelasnya.

​Terkait inflasi di Jawa Tengah, pada Februari 2026 tercatat kenaikan sebesar 0,76% (mtm) atau 4,43% (yoy). Angka ini berada di atas sasaran target 2,5% ± 1%. Namun, Noor Nugroho menjelaskan bahwa lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh faktor base effect dari kebijakan diskon listrik tahun lalu dan optimis angka tersebut akan melandai pada Maret atau April mendatang.

​Proyeksi 2026 dan Rekomendasi Kebijakan
​untuk sepanjang tahun 2026, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Jawa Tengah akan tumbuh pada kisaran 5,1% hingga 5,9%.

Melalui forum seminar dan Call for Paper ini, diharapkan muncul ide-ide spesifik dan terobosan dari para pakar dan akademisi.

​”Kita membutuhkan extra effort yang luar biasa. Kami mengajak seluruh pihak untuk menggali ide, apa yang harus dilakukan secara spesifik di daerah untuk mendukung pertumbuhan tinggi menuju 8% di tengah guncangan global,” katanya.

Hery Priyono