Oleh Ky Hisyam Zamroni
NUZULUL Qur’an bukan sekadar fragmen sejarah yang diperingati setiap 17 Ramadan. Ia adalah titik balik peradaban manusia. Ketika Jibril menyampaikan wahyu pertama di Gua Hira, alam semesta sedang menyaksikan turunnya Rahmah (kasih sayang) dalam bentuk teks suci.
Namun, teks tersebut tidak dimaksudkan untuk berhenti di atas lembaran kertas (mushaf), melainkan untuk bersemayam di dalam dada dan mewujud dalam perilaku sehari hari umat manusia.
Konsekuensinya, turunnya Al-Qur’an adalah bentuk kasih sayang Gusti Allah Ta’ala yang paling konkret bagi eksistensi mahluk. Prof. M. Quraish Shihab (2012), Dalam Tafsir Al-Misbah, beliau menekankan bahwa Al-Qur’an disebut rahmat karena ia memberikan petunjuk yang membawa kemaslahatan. Rahmat ini bersifat universal, tidak terbatas pada umat Muslim, tetapi mencakup seluruh ekosistem kehidupan (manusia, hewan, dan lingkungan).
Seyyed Hossein Nasr (1994), Beliau berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah “kehadiran sakral” di dunia. Kesucian Al-Qur’an menjaga harmoni antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta). Tanpa wahyu, manusia kehilangan kompas moral untuk menjaga bumi.
Transformasi Diri: Hati adalah Mushaf yang Hidup
Esensi dari Nuzulul Qur’an adalah “turunnya” nilai-nilai tersebut ke dalam hati. Jika Al-Qur’an turun ke Bumi melalui Nabi Muhammad SAW, maka tugas setiap Mukmin adalah memastikan Al-Qur’an “turun” ke dalam sanubarinya.
Dari sana kita menemukan; pertama, dialektika Hati dan Wahyu yaitu Hati sebagai Wadah; Syech Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa hati yang bersih adalah syarat mutlak agar cahaya Al-Qur’an bisa masuk.
Tanpa kebersihan hati, ayat hanya akan sampai di tenggorokan. Kedua, Internalisasi Nilai; Menurut Prof. Fazlur Rahman (1980), Al-Qur’an memiliki “semangat moral” yang harus ditangkap oleh akal dan hati manusia untuk kemudian diaplikasikan sesuai konteks zaman.
“Perilakumu adalah Al-Qur’an”: Meneladani Moralitas Nabawiy
Puncak dari pemahaman Nuzulul Qur’an adalah ketika seseorang mencapai derajat Ahlaqul Karimah. Merujuk pada jawaban Sayyidah Aisyah RA saat ditanya tentang ahlaq Rasulullah SAW : “Ahlaq beliau adalah Al-Qur’an.” Moralitas Al Qur’an tersebut diatas, dapat dimplementasikan dalam ranah Sosial yang berbentuk keadilan dan kejujuran yaitu salah satunya menjadi pribadi yang jujur (Siddiq) sebagai bentuk nyata dari mempraktikkan ayat ayat Al Qur’an tentang integritas.
Di sisi lain, Al Qur’an membentuk Kesantunan Sosial. Prof. Hamka (1982) dalam Tafsir Al-Azhar sering menekankan bahwa kesalehan ritual harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Orang yang mencintai Al-Qur’an tidak mungkin menjadi pribadi yang kasar atau pemecah belah.
Olehnya, Al Qur’an yang hidup adalah manakala kita mampu mengintegrasikan antara Teks dan Konteks dalam realitas kehidupan. Dalam hal ini, Prof. Toshihiko Izutsu (2002) berpendapat bahwa Al-Qur’an menciptakan pandangan dunia (worldview) baru yang mengubah struktur perilaku manusia dari jahiliyah menuju tauhid. Disisi lain, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengatakan; Al-Qur’an harus dipahami dengan kegembiraan sebagai rahmat, sehingga implementasinya dalam perilaku tidak terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan. Sedangkan Abdullah Yusuf Ali Menekankan bahwa ritme Al-Qur’an seharusnya menggetarkan jiwa dan memperbaiki estetika perilaku manusia sehari-hari.
Penutup
Nuzulul Qur’an merupakan sebuah ajakan untuk melakukan revolusi spiritual sekaligus prilaku. Kita ditantang untuk tidak hanya mengkhatamkan bacaan demi bacaan dalam Al Qur’an, akan tetapi juga “meng-khatamkan dan menghilangkan” sifat-sifat dan prilaku buruk dalam diri kita.
Olehnya, menjadikan al Qur’an sebagai cerminan dan cahaya dalam hati dan perilaku kita adalah cara terbaik mensyukuri Rahmat Gusti Allah Ta’ala yaitu mensyukuri datangnya Al Qur’an yang turun pada 14 abad silam.
Ky Hisyam Zamroni adalah Sekretaris Pemgurus Syu’biyah Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyyah Kabupaten Jepara













