blank
Kapolres Wonosobo, AKBP M Kasim Akbar Bantilan, SIK MM saat memberikan keterangan pada wartawan. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)- Kasus ledakan petasan pada awal ramadan di wilayah Kertek Wonosobo menjadi sorotan aparat kepolisian setelah menimbulkan korban dengan luka serius.

Insiden ini tidak hanya berdampak pada keselamatan individu, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap maraknya peredaran bahan peledak ilegal di masyarakat.

Kapolres AKBP M. Kasim Akbar Bantilan, SIK MM menegaskan bahwa petasan memiliki risiko tinggi karena efek ledakannya sulit dikendalikan, terutama jika dirakit secara mandiri tanpa standar keamanan.

“Kita bisa lihat korban-korbannya semuanya itu dalam kondisi luka yang sangat parah. Untuk informasi terakhir sudah membaik,” ungkapnya.

Meski demikian, Kapolres Wonosobo menyebut kondisi korban terakhir dilaporkan mulai membaik setelah mendapatkan perawatan medis.

Kepolisian kini fokus menelusuri asal bahan petasan yang beredar di masyarakat.

Salah satu temuan awal menunjukkan bahwa bahan tersebut diduga diperoleh melalui transaksi daring, sehingga memperluas jalur distribusi yang sulit diawasi. Dan itu tentu diperoleh rata-rata melalui media online.

Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap rantai pasokan hingga pihak yang menjual bahan berbahaya tersebut, termasuk kemungkinan adanya jaringan distribusi lintas daerah.

Sebagai langkah pencegahan, kepolisian meningkatkan patroli rutin terutama pada waktu rawan antara tengah malam hingga menjelang sahur.

Patroli dilakukan secara intensif melalui kegiatan kepolisian yang ditingkatkan dengan melibatkan seluruh jajaran kepolisian sektor.

Kunjungan Warga

blank
Lokasi meledaknya produksi mercon di Pandansari Kertek Wonosobo. Foto : SB/dok Humas Polres

Jam dini hari dipilih karena aktivitas masyarakat cenderung meningkat pada waktu tersebut, termasuk potensi penggunaan petasan oleh kelompok tertentu.

Selain patroli, polisi juga melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat melalui program kunjungan warga untuk memberikan edukasi terkait bahaya petasan dan keamanan lingkungan.

“Kami ada program Sobo Wargo yang akan kita lakukan terus turun bertemu dengan masyarakat langsung,” sebutnya.

Selain petasan, aparat juga memberi perhatian terhadap potensi peredaran minuman keras selama bulan puasa.

Penjualan miras dinilai berpotensi memicu gangguan keamanan, sehingga pengawasan dilakukan bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya.

Sementara itu, memasuki periode Lebaran, kepolisian akan menggelar operasi pengamanan dengan mendirikan tujuh pos di titik rawan kemacetan dan kawasan wisata.

“Kita Polri khususnya di Wonosobo akan mendirikan beberapa pos, 7 Pospam,” katanya.

Untuk rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara situasional apabila terjadi kepadatan kendaraan, terutama di jalur wisata dan pusat kota.

Tradisi menerbangkan balon udara setelah Lebaran juga menjadi perhatian aparat karena berpotensi mengganggu penerbangan jika dilepas secara bebas.

Polisi meminta masyarakat mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah daerah melalui kegiatan resmi dengan sistem balon ditambatkan.

“Kami berpesan kepada seluruh masyarakat agar betul-betul mentaati segala peraturan yang ada terkait dengan penerbangan balon,” pungkas Kapolres.

Muharno Zarka