blank
Belasan mahasiswa KKN UPGRIS merevitalisasi Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang berada di Dusun Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. foto : istimewa

UNGARAN (SUARABARU.ID) – Sebanyak 17 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang bertugas di Desa Keji menunjukkan aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat dengan merevitalisasi Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang berada di Dusun Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa dalam mendukung optimalisasi lahan produktif yang sebelumnya kurang terawat.

Alih-alih membangun taman baru, para mahasiswa memilih melakukan pembenahan dan pelengkapan pada taman TOGA yang telah ada.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk keberlanjutan program serta upaya menjaga potensi lokal agar tetap bermanfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Revitalisasi dimulai dengan proses pembersihan lahan secara menyeluruh. Ketujuh belas mahasiswa tersebut bahu-membahu membersihkan area taman dari rumput liar, sampah organik, serta tanaman pengganggu yang berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman obat.

Zarima, anggota divisi kesehatan dan lingkungan KKN UPGRIS Desa Keji, menjelaskan bahwa proses pembersihan lahan merupakan tahapan paling krusial dalam kegiatan tersebut.

“Kami tidak ingin sekadar menanam tanpa persiapan. Fokus utama kami justru pada pembersihan lahan terlebih dahulu, karena jika rumput liar tidak diangkat hingga ke akar, bibit baru yang kami tanam tidak akan tumbuh maksimal. Kami ingin taman ini benar-benar terlihat rapi dan ‘hidup’ kembali, bukan hanya dipenuhi tanaman liar,” katanya.

Setelah lahan dinyatakan bersih dan siap tanam, mahasiswa kemudian menambahkan berbagai jenis bibit tanaman obat untuk melengkapi koleksi yang telah ada sebelumnya.

Beberapa tanaman yang ditanam di antaranya adalah jahe, jeruk purut, binahong, dan kencur. Penambahan ini bertujuan agar taman TOGA semakin variatif dan dapat memenuhi kebutuhan warga akan bahan obat alami.

Santika, yang juga tergabung dalam divisi kesehatan dan lingkungan, menambahkan bahwa kelengkapan jenis tanaman menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan taman TOGA.

“Intinya kami ingin warga tidak kesulitan lagi mencari bahan obat alami. Jika pilihannya lengkap, maka manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Keberadaan taman TOGA memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian kesehatan keluarga. Tanaman seperti jahe dan kencur dapat dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal untuk menjaga daya tahan tubuh, sementara binahong dan jeruk purut dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan lainnya.

Dengan adanya revitalisasi ini, warga Dusun Keji, Suruhan, dan Setoyo kini memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber obat tradisional yang mudah dijangkau.

Meskipun seluruh proses pembersihan dan penanaman dilakukan oleh mahasiswa, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian warga dalam merawat fasilitas yang telah tersedia.

Mahasiswa KKN UPGRIS berharap taman yang telah dibersihkan dan dilengkapi tersebut dapat terus dijaga serta dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Program revitalisasi TOGA ini menjadi salah satu program unggulan KKN UPGRIS Desa Keji dalam mendukung kemandirian kesehatan masyarakat berbasis lingkungan.

Selain memperindah kawasan dusun, kegiatan ini juga memperkuat kesadaran akan pentingnya pemanfaatan lahan secara produktif dan berkelanjutan.

Melalui aksi nyata ini, mahasiswa KKN UPGRIS menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dimulai dari hal besar, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah sederhana yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Revitalisasi taman TOGA di Desa Keji diharapkan menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan lingkungan sekaligus penguatan budaya hidup sehat berbasis potensi lokal,” pungkasnya.

Hery Priyono