blank
Padato Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat di Pendopo Kab. Jepara. Foto: Hadepe.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Forum Sejarah dan Budaya Ratu Kalinyamat bertajuk “Kepemimpinan Perempuan untuk Masa Depan Bangsa” digelar di Pendopo Kartini Jepara pada Rabu (25/2/2026).

Dihadiri Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat yang menyatakan forum ini ini sebagai salah satu upaya mengangkat kembali martabat Ratu Kalinyamat yang dalam proses panjang sejarahnya.

blank
Sambutan Bupati Kab. Jepara Witiarso Utomo. Foto: Hadepe.

Turut hadir pula Bupati Jepara Witiarso Utomo, dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Manggar Sari Ayuati. Manggar Sari Ayuati menyatakan dukungan terhadap penguatan kajian sejarah. Termasuk pelestarian warisan budaya di Jepara.

Sedang Bupati Jepara yang akrab disapa Mas Wiwit menyatakan forum ini bertujuan menjadi ruang refleksi untuk meneladani keberanian dan integritas Ratu Kalinyamat dalam memimpin. “Yang menjadi pertanyaan buat diri saya sendiri, apakah saya juga berani seperti beliau melawan diri saya sendiri untuk bisa mensejahterakan masyarakat Jepara,” ujarnya.

blank
Foto bersama setelah forum. Foto: Oficial.

Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Lestari Moerdijat dalam forum tersebut, Bahwa perjuangan menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional tidaklah mudah. Beliau menyampaikan bahwa dalam perjalanannya, Epos Kalinyamat justru memunculkan stigma berabad-abad. Stigma dengan label erotik dalam lakon-lakon ketoprak hingga narasi konflik pesisir dan pedalaman.

Timnya bersama Pemerintah Kab. Jepara sebenarnya telah mengusulkan gelar Pahlawan Nasional sejak 2007. Namun dengan banyak pertimbangan, gelar tersebut baru bisa didapat pada tahun 2023.

“Kita berbahagia telah berhasil memperjuangkan Ratu Kalinyamat mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan nasional,” ujar Lestari saat berpidato di forum.

blank
Suasana saat forum. Foto: Oficial.

Lestari menyebut bahwa nama Ratu Kalinyamat kenyataannya telah lama dilekatkan dengan citra negatif yang sebenarnya tidak selaras dengan sejarah Ratu Kalinyamat. Salah satunya melalui judul lakon ketoprak yang populer di Pesisir Pantai Utara Jawa.

Menurutnya, ketika tim mencari referensi akademik, yang didapat justru narasi tentang erotisme yang lekat dengan lakon-lakon pertunjukan di masyarakat. Sosoknya kerap digambarkan mistis dan tidak rasional.

Lestari menilai data-data yang tidak selaras dengan sejarah itu tidak lepas dari dinamika politik masa lalu. Termasuk perpindahan pusat kekuasaan dari pesisir ke pedalaman serta bagaimana praktik politik pecah belah yang terjadi pada masa kolonial.

Dalam proses pengusulan gelar, tim peneliti telah membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat bukan hanya mitos. Walau kesulitan menemukan bukti primer di wilayah Jepara sendiri menjadi sebuah kendala. Sehingga tim kemudian menjalin kerja sama akademik yang menemukan delapan sumber primer di University of Porto, Portugal. Dokumen tersebut berupa laporan misionaris kepada Raja Portugis pada abad ke-16.

Dalam catatan tersebut, Armada Ratu Kalinyamat mencapai sekitar 300 kapal dengan prajurit yang berjumlah sekitar 15.000 orang. Dalam data tersebut juga disampaikan Ratu Kalinyamat memimpin empat ekspedisi ke Malaka pada 1551 hingga 1568.

“Kami membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat itu bukan dongeng dan bukan mitos,” kata Lestari menjawab tantangan dari para sejarawan. Selain memimpin perlawanan bersenjata, Ratu Kalintamat dinilai mampu membangun aliansi dari Aceh hingga Hitu.

Pada masa kepemimpinannya, justru Jepara berkembang sebagai bandar dagang yang penting. Jejak akulturasi juga terlihat di Masjid Mantingan dengan bangunan yang memadukan unsur Islam, Hindu, dan Tiongkok.

Di ahir kata, Lestari menilai bahwa sangat benar bahwa kepemimpinan perempuan mampu melahirkan peradaban.

Septiana W.