Oleh Dr Siti Fatimah MPd
PERUBAHAN global yang ditandai krisis lingkungan, ketimpangan sosial, serta masifnya perkembangan teknologi menuntut dunia pendidikan tidak lagi sekadar berorientasi pada penguasaan konten, tetapi juga pada pengembangan kompetensi Abad Ke-21 yang berkelanjutan.
Sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan ebrkelanjutan, pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan memiliki kesadaran ekologis.
Generasi saat ini dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan sejumlah keterampilan yang terintegrasi dengan kesadaran terhadap keberlanjutan. Dalam kerangkan tersebut, pembelajaran sains berfungsi sebagai sarana penting dalam menumbuhkan pemahaman ilmiah serta kesadaran ekologis dan sosial peserta didik.
Tantangan Pendidikan Sains di Abad-21
Tantangan pendidikan sains Abad Ke-21 juga tidak dapat dilepaskan dari agenda global Sustainable Development Goals yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi pembangunan manusia berkelanjutan.
Kerangka ini menuntut integrasi nilai-nilai keberlanjutan dalam proses pembelajaran, yaitu adanya integrasi antara dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi. Oleh karena itu, pembelajaran sains perlu dirancang secara transformatif untuk menumbuhkan kemampuan peserta didik memahami kompleksitas persoalan global serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan sains tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan generasi Abad Ke-21 yang memiliki kapasitas intelektual, karakter, dan komitmen terhadap keberlanjutan.
Dalam menghadapi tantangan pendidikan sains Abad Ke-21 yang berkelanjutan, pemahaman terhadap hakikat sains menjadi semakin krusial. Secara esensial, sains mencakup tiga dimensi utama, yaitu sebagai produk (kumpulan konsep, prinsip, dan teori), sebagai proses (keterampilan inkuiri dan penerapan metode ilmiah), serta sebagai sikap (pengembangan rasa ingin tahu, objektivitas, dan keterbukaan terhadap bukti).
Ketiga dimensi itu perlu dikembangkan secara beriringan untuk menjawab kompleksitas persoalan global. Oleh karena itu, pembelajaran sains harus dirancang secara integratif agar tidak hanya memperkuat penguasaan konseptual dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, tetapi juga menumbuhkan sikap ilmiah yang mendukung kesadaran keberlanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan sains berperan strategis dalam membentuk generasi Abad Ke-21 yang adaptif, kritis, dan memiliki tanggung jawab ekologis serta sosial.
Urgensi Pengembangan Sustainability Literacy dalam Pembelajaran Sains
UNESCO menegaskan pentingnya setiap individu memiliki sustainability literacy yakni sebagai aspek penting dalam mewujudkan tujuan pembanguan berkelanjutan. Sustainability literacy dipahami sebagai pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir yang mendorong individu menjadi sangat berkomitmen untuk membangun masa depan berkelanjutan dan membantu antar individu untuk membantu keputusan yang tepat dan efektif untuk menuju masyarakat yang berkelanjutan.
Sterling menjelaskan makna sustainability adalah sebuah visi masa depan yang mengacu kepada lintas disiplin kehidupan yang saling terhubung yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Kerangka konseptual literasi berkelanjutan (Sustainability literacy) berakar pada gagasan literasi lingkungan yang diperkenalkan oleh Charles E. Roth pada tahun 1992. Menurut Roth Literasi lingkungan dipahami sebagai kapasitas individu untuk mengenali persoalan lingkungan, mengevaluasi dampaknya secara kritis sebelum bertindak, serta mengambil langkah nyata dalam penyelesaian masalah.
Namun, seiring berkembangnya paradigma pendidikan dari pendidikan lingkungan menuju pendidikan berkelanjutan, ruang lingkup literasi pun mengalami perluasan yang signifikan.
Adanya tantangan global yang semakin kompleks, sustainability literacy dipandang lebih esensial dibandingkan literasi lingkungan karena tidak hanya berfokus pada aspek ekologis, tetapi juga mengintegrasikan dimensi sosial dan ekonomi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
Literasi berkelanjutan membekali individu dengan kemampuan memahami keterkaitan antarsistem serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab bagi keberlangsungan generasi kini dan mendatang. Dengan demikian, meskipun literasi lingkungan merupakan fondasi penting, sustainability literacy menjadi kompetensi yang lebih komprehensif dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Ozdemir menyebutkan bahwa individu yang memiliki sustainability literacy mampu memahami hubungan simbiosis antara dimensi lingkungan, sosial, dan ekonomi dari pembangunan berkelanjutan, serta mampu menggabungkan pengetahuan yang sesuai dengan keterampilan dan lebih jauh lagi mengenali dan menghargai tindakan berkelanjutan yang dilakukan oleh orang lain.
Dijelaskan lebih jauh, pengukuran sustainability literacy melibatkan empat dimensi yaitu Sustainability Attitude (SA), Sustainability Behaviour (SB), Sustainability Knowledge (SK), dan Sustainability Perception (SP).
Sustainability attitude dimaknai sebagai kecenderungan psikologis individu dalam menilai dan merespons isu-isu serta informasi yang berkaitan dengan lingkungan dan keberlanjutan. Sustainability behaviour dimaknai sebagai tindakan nyata yang dilakukan individu dalam mendukung keberlanjutan. Sustainability knowledge berkaitan dengan pengetahuan yang membahas tentang isu-isu lingkungan. Sedangkan sustainability perception merupakan persepsi individu tentang lingkungan, sosial, dan ekonomi yang berkelanjutan.
Pendidikan Tinggi Motor Penggerak Sustainability Literacy
Pendidikan tinggi memegang peran strategis sebagai motor penggerak sustainability literacy dalam menyiapkan generasi Abad Ke-21 yang adaptif, kritis, dan berkesadaran global. Di tengah kompleksitas persoalan lingkungan, sosial, dan ekonomi, perguruan tinggi tidak lagi cukup berfungsi sebagai pusat transmisi pengetahuan, tetapi harus bertransformasi menjadi ruang pembentukan pola pikir kritis dan tanggung jawab keberlanjutan. Sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals, pendidikan tinggi dituntut untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam kurikulum, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik, tetapi juga kemampuan memahami keterkaitan antarsistem serta keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan bumi dan kemanusiaan.
Pentingnya pengembangan sustainability literacy dalam pendidikan tinggi dikuatkan dari hasil analisis riset internasional bahwa sustainability literacy memiliki keterkaitan yang kuat dengan pembangunan berkelanjutan di pendidikan tinggi. Bahkan Literasi berkelanjutan dalam pendidikan tinggi menjadi salah satu rekomendasi yang diajukan oleh banyak peneliti di dunia, salah satunya adalah dengan memasukan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi.
Gambar 1. Tren Topik dalam penelitian internasional tentang sustainability literacy
Rekomendasi pengembangan sustainability literacy dalam pendidikan tinggi dilatarbelakangi rendahnya sustainability literacy yang dimiliki oleh mahasiswa. Hasil riset menunjukkan profil literasi berkelanjutan sebanyak 156 calon guru sekolah dasar masih perlu ditingkatkan khususnya pada aspek sustainable attitude and behaviour. Kedua aspek tersebut berkaitan erat dengan sikap calon guru terhadap konsep keberlanjutan.
Aspek sustainable attitude terdapat locul of control yang berperan penting dalam membentuk kesadaran berkelanjutan dan berpengaruh terhadap sikap individu yang pro-lingkungan. Rendahnya sikap terhadap konsep berkelanjutan berdampak kepada minimnya kesadaran calon guru akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang menjadi ujung tombak dalam perkembangan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu dibekali untuk memahami pentingnya memiliki sustainability literacy sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang berkelanjutan.
Inovasi Pembelajaran Sains dalam Memfasilitasi Sustainability Literacy
Implementasi inovasi pembelajaran sains menjadi kunci utama dalam memfasilitasi sustainability literacy di tengah tuntutan pendidikan Abad Ke-21 yang semakin kompleks. Inovasi tidak cukup dimaknai sebagai pembaruan metode atau pemanfaatan teknologi semata, tetapi harus diarahkan pada desain pembelajaran yang mampu mengintegrasikan dimensi ilmiah, sosial, dan ekologis secara utuh.
Sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals serta visi pendidikan berkelanjutan yang dikembangkan oleh UNESCO, pembelajaran sains perlu dirancang secara kontekstual dan transformatif agar peserta didik dan mahasiswa tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga mampu membangun kesadaran kritis serta mengambil peran aktif dalam menjawab persoalan keberlanjutan.
Salah satu inovasi pembelajaran sains dalam memfasilitasi sustainability literacy adalah menggunakan model pembelajaran Argument-Driven Inquiry yang Terintegrasi Ethno-STEM. model pembelajaran Argument-Driven Inquiry (ADI) yang terintegrasi dengan EthnoSTEM. Model ADI merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Sampson & Glein. Model ini dirancang untuk menyusun penyelidikan ilmiah untuk mengembangkan argumen yang digunakan dalam mendukung penjelasan pertanyaan penelitian.
Model ADI terintegrasi Ethno-STEM adalah pembelajaran multidisiplin yang menciptakan tantangan bagi mahasiswa untuk meninjau keberlanjutan adalah sebagai sesuatu yang berada di luar disiplin ilmu mereka sehingga membentuk berpikir kritis dan pemecahan masalah bagi mahasiswa dan memiliki pola pikir keberlanjutan.
Hasil riset menunjukkan bahwa model Argument-Driven Inquiry (ADI) yang diintegrasikan dengan EthnoSTEM mampu meningkatkan sustainability literacy mahasiswa secara signifikan. Melalui pembelajaran yang memfokuskan pada pengamatan fenomena alam berbasis kearifan lokal, mahasiswa tidak hanya dilatih berpikir kritis dan menyusun argumen ilmiah, tetapi juga dibiasakan merefleksikan dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Fenomena yang disajikan dirancang kontekstual dan menantang, sehingga mendorong pelajar dan mahasiswa melakukan investigasi lebih mendalam sekaligus menumbuhkan kepedulian ekologis.
Dengan model pembelajaran ini, pelajar dan terlebih mahasiswa tidak hanya belajar sains, tetapi juga memahami bagaimana kearifan lokal diwariskan dari generasi ke generasi untuk menjaga alam sekaligus melestarikan budaya.
Penulis Alumni Program Doktoral Pendidikan IPA UNNES dan Dosen IAINU Kebumen.













