Oleh Nia Samsihono
BULAN Ramadan selalu datang dengan suasana yang lembut sekaligus khusyuk. Masjid ramai, ayat-ayat suci dilantunkan, dan tema-tema keagamaan memenuhi ruang publik.
Di tengah atmosfer itu, berbagai kegiatan digelar: lomba ceramah keagamaan, lomba tilawat Al-Qur’an, lomba menulis esai keagamaan, lomba menulis atau membaca puisi keagamaan. Oleh karena bertepatan dengan bulan Ramadan, tentu saja agama Islam yang menjadi fokus kegiatan.
Sekilas, semua tampak indah—sebuah upaya menyemarakkan ibadah melalui literasi. Tema yang diangkat pun mulia: berkaitan dengan keagamaan, Islam. Syarat mengikuti kegiatan ringan, yang penting terlaksana. Hadiahnya berjuta pun diumumkan dengan cukup menggoda.
Di mata masyarakat awam, ini terlihat sebagai kegiatan religius yang inspiratif. Ramadan identik dengan pahala berlipat, sehingga siapa pun yang terlibat dalam kegiatan bertema keagamaan dianggap sedang menanam kebaikan. Namun di sinilah ironi bisa muncul: ketika simbol-simbol kesalehan dipakai sebagai latar untuk tujuan yang tidak sepenuhnya bersih.
Secara filosofis, agama bukan sekadar tema, melainkan praksis etis. Jika sebuah kegiatan dengan mengacu pada hal keagamaan diiringi manipulasi—misalnya dengan motivasi utama yang berpusat pada uang—maka yang terjadi adalah kontradiksi mendasar. Membicarakan manfaat ibadah sambil mengabaikan nilai kejujuran adalah paradoks etis.
Humanisme mengajarkan bahwa setiap tindakan yang memanfaatkan kepercayaan publik adalah pelanggaran terhadap martabat manusia.
Ramadan adalah bulan ketika masyarakat lebih terbuka, lebih percaya, dan lebih mudah tersentuh oleh ajakan kebaikan. Menggunakan momentum ini untuk kepentingan tersembunyi berarti memanfaatkan kepercayaan kolektif.
Masyarakat mungkin tidak menyadari mekanisme di balik layar. Mereka melihat angka hadiah, melihat tema, dan percaya bahwa semuanya berjalan lurus.
Ramadan semestinya menjadi ruang penyucian niat. Setiap aktivitas yang mengatasnamakan agama seharusnya diperiksa lebih dalam: apakah ia benar-benar mendidik, atau sekadar membungkus ambisi? Agama tidak melarang hadiah atau kompetisi, tetapi agama menuntut integritas dalam proses.
Transparansi, akuntabilitas, dan keadilan adalah wujud nyata dari kesalehan sosial. Ramadan bukan sekadar bulan tema keagamaan; ia adalah bulan evaluasi diri. Mungkin pertanyaan paling mendasar adalah “apakah prosesnya selaras dengan nilai yang diajarkan?”
Di sanalah ukuran sesungguhnya dari sebuah kegiatan religius ditentukan—bukan oleh gemerlap pengumuman pemenang, tetapi oleh kejernihan nurani yang menyertainya.
Nia Samsihono, perempuan penyair dan pemerhati masalah bahasa tinggal di Jakarta













