SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah menyebut, beberapa titik wilayah di Kota Semarang berpotensi mengalami tanah gerak. Kondisinya memiliki kemiripan geologis dengan wilayah bencana tanah bergerak di Kabupaten Tegal.
Fenomena alam yang dikenal dengan istilah creeping atau rayapan tanah itu memungkinkan terjadi di kawasan perbukitan akibat karakteristik tanah lempung yang tebal.
“Di Semarang itu, sekitar Jalan Dewi Sartika naik sedikit, itu creeping juga. Potensinya rayapan karena tanah lempungnya tebal dan ada kemiringan,” ujar Agus saat dikonfirmasi, belum lama ini.
Selain wilayah Dewi Sartika, Agus menyebutkan kawasan Semarang Barat dan Semarang Selatan menjadi titik yang perlu diwaspadai. Khususnya di area yang memiliki kemiringan tanah.
“Daerah arah Manyaran ke atas, sekitar Kali Pancur, itu juga creeping. Termasuk yang di Gombel, di atas lapangan golf itu juga creeping. Tanahnya clay (lempung),” kata dia.
Agus mengatakan, air hujan yang terserap tanah lempung di wilayah tersebut sulit lepas (impermeable). Ketika air hujan masuk dan tertahan, massa tanah bertambah berat.
Akan tetapi, daya ikat antarbutirnya melemah, sehingga tanah bergerak perlahan mengikuti kemiringan lereng.
“Pecahnya pelan-pelan, tapi lama-lama tergeser. Masyarakat sering tidak sadar. Gerakannya tidak tiba-tiba, tapi dampaknya bisa merusak struktur bangunan secara permanen,” ucapnya.
Hal ini menjadi peringatan untuk Kota Semarang, menyusul investigasi tim ESDM terhadap bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, yang terjadi sejak awal Februari 2026.
“Kalau yang di Tegal itu, hasil investigasi teman-teman memang creeping. Lapisan tanahnya jenis lempung, kemudian kena air dia merayap pelan-pelan,” ungkap Agus.
Agus menjelaskan perbedaan mendasar antara creeping dengan likuifaksi. Jika likuifaksi bisa terjadi di lahan datar karena guncangan struktur, maka creeping mutlak memerlukan adanya kemiringan lereng atau tebing.
Dampak di Tegal sendiri tergolong cukup parah, sebuah jembatan besi besar bergeser fondasinya dan jalanan tidak lagi bisa diakses. Hal inilah yang diharapkan tidak terjadi di pemukiman padat penduduk di Kota Semarang.
Agus mengimbau masyarakat di wilayah rawan seperti Gombel dan Manyaran untuk memperhatikan sistem drainase. Saluran air yang buruk dapat menyebabkan air meresap ke dalam tanah secara berlebihan dan mempercepat proses rayapan.
“Kalau kita tahu ada potensi bencana, ya harus dihindari. Pemicunya salah satunya air dan cara kita membuat saluran drainase yang tidak benar, sehingga air masuk ke dalam tanah dan menambah massa tanah,” katanya. (*)
Diaz A Abidin













