blank
Prof Aminudin (membelakangi kamera), saat memaparkan ilmu Linguistik Forensik, di Kantor Balai Bahasa Jateng. Foto: dok/usm

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Pakar Linguistik Forensik dan Pragmatik, Prof Endang Aminudin Aziz MA PhD mengatakan, ilmu linguistik forensik membedah data bahasa, untuk membuktikan apakah suatu lokusi (perkataan) seseorang, berpotensi melanggar hukum atau tidak.

Hal itu seperti yang dia paparkan dalam kegiatan Dialog Kebahasaan dengan topik ‘Mengenal Linguistik Forensik sebagai Bagian dari Kecakapan Literasi’. Acara yang digelar di Balairung, Balai Bahasa Jawa Tengah, Ungaran, Kabupaten Semarang itu, dilaksanakan Kamis (29/1/2026).

Diskusi yang dimoderatori Kepala Balai Bahasa Jateng, Dwi Laily Sukmawati SPd MHum ini, dihadiri sekitar 100 peserta, yang terdiri dari pegawai Balai Bahasa Jateng, pegawai magang, dan mahasiswa magang.

BACA JUGA: SMP Kesatrian 1 Semarang Sukses Gelar Open House, Diikuti 1.160 Peserta Try Out TKA dan Parenting Pendidikan

Dalam paparannya, Prof Aminudin yang juga sebagai Kepala Perpustakaan Nasional RI itu menyatakan, pemahaman budaya juga merupakan bagian penting dalam berkomunikasi, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

”Memahami Linguistik Forensik merupakan bagian dari literasi,” kata Prof Aminudin yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Periode 2020–2025 itu, dalam penjelasannya.

Ditambahkan dia, masyarakat yang literat menggunakan keterampilan berpikir aras tinggi, untuk mencerna informasi, baik tekstual maupun nontekstual. Kemampuan berpikir aras tinggi itu akan berguna, untuk meningkatkan kualitas hidup.

BACA JUGA: HPN PWI Jateng, Senin 2 Februari Ziarah dan Khataman

”Prinsip tenggang rasa dalam berkomunikasi, dapat menghindari perang bahasa. Seperti pencemaran nama baik, hinaan, dan fitnah, yang berpotensi menjadi masalah hukum,” terang dia.

Sementara itu, dalam pengantar diskusi, Dwi Laily Sukmawati menyatakan, materi Linguistik Forensik yang disampaikan Prof Aminudin, dapat menjadi bekal para ahli bahasa di Balai Bahasa Jateng dan mahasiswa magang, serta dapat meningkatkan wawasan kebahasaan pegawai secara keseluruhan.

”Selain itu, peserta diskusi mendapatkan bekal kecakapan literasi, untuk memilih dan memilah informasi di era digital ini,” tukas Laily.

Riyan