JATUBU Distribusikan Ribuan Bibit Pohon di Wonosobo, Bentuk Kepedulian pada Kelestarian Alam
WONOSOBO (SUARABARU.ID) – Yayasan Jagat Tunas Bumi (JATUBU) terus memperkuat komitmen pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana melalui program penanaman serta distribusi 193.000 bibit tanaman di kawasan Telaga Menjer dan wilayah penyangga hutan di Kabupaten Wonosobo.
Program tersebut sekaligus menjadi respons atas meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan di kawasan tersebut. Melalui penanaman pohon secara massal diharapkan kerusakan alam di masa yang akan datang bisa dihindari dan kelestarian lingkungan tetap terjaga.
Kegiatan penanaman dan distribusi bibit ini merupakan bagian dari gerakan reboisasi dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan JATUBU bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), organisasi masyarakat, serta instansi pemerintah dan aparat kewilayahan.
Ketua JATUBU Mantep Abdul Ghoni mengatakan jumlah bibit sebanyak 193.000 bibit tanaman disalurkan untuk memulihkan lahan kritis, memperkuat fungsi resapan air, serta menekan potensi bencana longsor dan banjir di kawasan Telaga Menjer.
”Jenis bibit tanaman yang disalurkan meliputi tanaman buah seperti kopi, durian, alpukat, manggis dan nangka. Sedang tanaman kayu dan kehutanan berupa bibit puspa, damar, beringin, jenitri, kayu manis dan gaharu,” katanya.
Mantep menyatakan bahwa pemilihan jenis tanaman tersebut disesuaikan dengan karakter kawasan serta kebutuhan ekologis dan ekonomi masyarakat sekitar hutan.
“Penghijauan tidak boleh asal tanam. Harus memperkuat ekosistem dan sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat agar kelestarian bisa dijaga bersama,” ujar dia
Program penanaman JATUBU, lanjutnya, dilaksanakan dalam periode September 2025 hingga Februari 2026, mengikuti musim hujan agar tingkat keberhasilan tanam lebih optimal dan pertumbuhan bibit dapat berjalan maksimal.
Penerima Manfaat

”Penerima manfaat di wilayah Wonosobo, total terdapat 31 lembaga. Terdiri dari 25 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), 1 organisasi masyarakat, dan 5 instansi, termasuk unsur TNI dan Polri,” paparnya.
Dikatakan Mantep, lembaga penerima manfaat tersebut tersebar di sejumlah kecamatan sekitar kawasan Telaga Menjer dan hutan penyangga. Antara lain Kejajar, Garung, Kalikajar, Sapuran, Watumalang, Sukoharjo, Kaliwiro, Wadaslintang dan Kepil.
“Distribusi bibit dilakukan secara bertahap. Pada 29 Januari 2026, bibit disalurkan kepada LMDH Tlogo (4.000 bibit), LMDH Pucungwetan (5.000 bibit), LMDH Kalidadap (4.000 bibit), serta Koramil Kaliwiro (8.000 bibit),” ungkapnya.
Distribusi bibit, imbuh dia, dilanjutkan pada 30 Januari 2026 kepada LMDH Kupangan (10.000 bibit), LMDH Kajeksan (5.000 bibit) Sukoharjo dan Komunitas Jurnalis Wonosobo (1.000 bibit)
Di tengah massifnya pembangunan di sekitar Telaga Menjer, dia menilai bahwa kawasan tersebut menghadapi tekanan serius akibat alih fungsi lahan, pembangunan wisata yang tidak terkendali, serta berkurangnya tutupan vegetasi di daerah tangkapan air.
Mantep menegaskan, jika pembangunan tidak diiringi pengendalian yang ketat dan upaya konservasi yang serius, Telaga Menjer berpotensi mengalami penurunan fungsi ekologis yang berdampak pada meningkatnya risiko longsor, sedimentasi, dan krisis air di masa mendatang.
“Penanaman ini bukan sekadar kegiatan simbolik. Ini adalah pengingat bahwa kondisi Telaga Menjer sedang tidak baik-baik saja. Reboisasi harus berjalan seiring dengan penataan ruang dan pengawasan pembangunan agar kerusakan lingkungan tidak terus berulang,” tegasnya.
Menurut Mantep, kolaborasi lintas sektor dan keberpihakan kebijakan terhadap kelestarian lingkungan menjadi kunci agar kawasan Telaga Menjer tetap terjaga sebagai penyangga ekosistem dan sumber kehidupan masyarakat Wonosobo.
Muharno Zarka













