blank
Para siswa yang harus menjalani perawatan di IGD RSUD dr Loekmonohadi. Foto: Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Puluhan siswa SMA Negeri 2 Kudus harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, Kamis (29/1/2026). Para siswa tersebut diduga mengalami keracunan makanan Menu Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.

Para pelajar dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans secara bergelombang sejak pagi hari. Mereka datang dengan keluhan kesehatan yang hampir serupa.

Dokter jaga IGD RSUD dr Loekmono Hadi Kudus, dr Muhammad Resa Perkasa, menyebutkan para siswa mulai berdatangan sejak pukul 09.30 hingga 10.00 WIB.

“Keluhan yang paling banyak dialami siswa adalah mual, muntah, nyeri perut, serta diare,” jelas dr Resa.

Dugaan Awal Keracunan Makanan

Menurut dr Resa, hingga saat ini penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa masih dalam tahap penelusuran. Namun dugaan awal mengarah pada keracunan makanan.

“Penyebab pastinya belum bisa dipastikan. Saat ini masih dugaan awal keracunan makanan sehingga membutuhkan penanganan lanjutan dan observasi,” ujarnya.

Mayoritas Triase Kuning, Beberapa Masuk Merah

Dalam penanganan di IGD, tim medis terlebih dahulu melakukan triase untuk menentukan tingkat kegawatan pasien. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan sebagian besar siswa masuk kategori kuning, atau kondisi yang masih bisa dipantau.

“Mayoritas masuk kategori kuning, artinya perlu penanganan tetapi tidak dalam kondisi gawat darurat,” terang dr Resa.

Namun, terdapat beberapa siswa yang masuk kategori merah karena mengalami diare berat, bahkan hingga lebih dari sembilan kali dalam sehari.

“Ada beberapa yang masuk merah karena diare cukup parah dan membutuhkan penanganan intensif serta hidrasi,” imbuhnya.

23 Siswa Ditangani, Jumlah Masih Bisa Bertambah

Hingga pukul 10.00 WIB, tercatat 23 siswa SMA Negeri 2 Kudus telah mendapatkan penanganan medis di IGD. Jumlah tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah.

“Total sementara 23 siswa, dan kemungkinan masih ada tambahan pasien yang menyusul,” kata dr Resa.

Seluruh pasien diketahui berasal dari sekolah yang sama. Hingga kini, belum ada siswa yang diputuskan untuk menjalani rawat inap karena masih dalam tahap observasi.

“Jika kondisi memburuk, terutama yang masuk kategori merah, maka rawat inap akan dipertimbangkan,” tegasnya.

SPPG Ambil Sampel MBG, Dikirim ke Laboratorium

Sementara itu, Kepala SPPG Purwosari Kudus, Nasihul Umam, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut.

Ia mengungkapkan, pihaknya menerima laporan adanya siswa SMA 2 Kudus yang mengalami diare pada Kamis pagi. Begitu laporan diterima, pihak SPPG langsung berkoordinasi dengan sekolah dan melakukan pengecekan ke lokasi.

“Kami langsung melakukan evaluasi dan mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium di Semarang,” ungkap Umam.

SPPG Siap Bertanggungjawab

Menurutnya, SPPG Purwosari melayani lebih dari 3.000 siswa di 13 sekolah di wilayah sekitar. Namun hingga saat ini, hanya siswa SMA Negeri 2 Kudus yang dilaporkan mengalami keluhan.

“Untuk sekolah lain aman dan tidak ada laporan keluhan,” pungkasnya.

Terkait menu makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan, menurut Umam adalah Soto Ayam. Dia juga memastikan jadwal makan juga sesuai dengan jam yang dianjurkan.

“Yang jelas, kami juga siap bertanggungjawab atas biaya pengobatan para siswa,”tukasnya.

Ali Bustomi