blank
Anak-anak yang diasuh di Sophia Opportunity School sedang mengikuti kegiatan yang rekreatif. Foto: Sophia Opportunity School

Suster Madhuja, SND Principal of Sophia Opportunity School, menuturkan perjalanan sekolah ini dimulai dengan sangat sederhana yang kala itu hanya empat siswa dan satu ruangan kecil yang tersedia. Seiring waktu, ketika jumlah murid bertambah, kegiatan belajar bahkan sempat berlangsung di ruang bawah tanah sebuah bangunan lama.

Meski serba terbatas, semangat untuk melayani tidak pernah pupus. Mereka juga memiliki berbagai kegiatan yang dimana sangat menarik perhatian publik khususnya bagi mereka yang memiliki anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk bersekolah di tempat ini.

blank
Suster Madhuja, SND Principal of Sophia Opportunity School. Foto: Sophia Opportunity School

Kegiatan yang disiapkan antara lain musik, terapi wicara, fisioterapi, terapi okupasi, pendidikan dengan bantuan komputer atau papan pintar, terapi tari dan gerakan, yoga dan latihan persepsi, pelatihan kejuruan, menjahit, olahraga, band, kartu ucapan.

“Kegiatan ekstrakurikuler tersebut membuat para murid merasa sangat senang dan perlahan-lahan dapat menyesuaikan diri untuk mengikuti setiap kegiatan yang tersedia sesuai dengan bakat dan minat mereka masing-masing,“ ujar Mr Racj salah satu guru di Sophia Opportunity School.

Sementara itu Suster Madhuja, menambahkan, dia mengaku sangat bahagia dan bersyukur karena anak-anak yang kami dampingi sangat lucu dan memiliki karakter yang sangat berbeda satu sama lain.

“Tentu saja cara pendampingan pun butuh kesabaran yang sangat tinggi namun kami tetap bersyukur karena mereka mau mengikuti setiap kegiatan yang diberikan kepada mereka. Salah satu kebahagian bagi kami ketika melihat mereka semakin hari semakin tumbuh dan berkembang dari segi apapun,” ujar Sr Madhuja.

Sr Madhuja menyaikini, bahwa pendidikan sejati dimulai dengan kasih sayang. Pengetahuan akademis membangun pikiran, empati, pemahaman, dan cinta membentuk jiwa.

“Setiap anak yang melangkah melalui pintu kami membawa cahaya yang unik dan merupakan hak istimewa serta panggilan kami untuk membantu cahaya itu bersinar lebih terang. Ujar Suster Madhuja, SND yang dikutip dari website Sophia Opportunity School,” tambah Sr Madhuja.

Ketulusan para Suster

Ketulusan para Suster Notre Dame dan para pendampingnya perlahan membuahkan kepercayaan masyarakat. Sophia Opportunity School mulai dikenal sebagai lembaga yang berkomitmen pada rehabilitasi dan pendidikan anak dengan kebutuhan khusus, hingga akhirnya kebutuhan akan gedung yang lebih luas.

Kini, sekolah ini mengampu 190 siswa yang berusia mulai 3 hingga 20 tahun, dengan beragam kondisi seperti disleksia, ADHD, sindrom asperger, down syndrome, serta hambatan intelektual ringan hingga sedang. Setiap anak mendapatkan pendekatan pembelajaran yang individual, personal, dan penuh empati, memungkinkan mereka berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

Suster Wanmin, SND yang berkunjung ke Sophia Opportunity School mendoakan, misi para Suster Notre Dame lewat karya pendidikan di sini makin menebarkan kebaikan Tuhan lewat pelayanan pendidikan khususnya bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Sehingga banyak orang semakin mempercayakan anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak pada umumnya,” ujar Suster Wanmin, SND.

Clarissa Martina