GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Jumlah korban keracunan yang diduga berasal dari menu MBG terus bertambah di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Ratusan santri Pondok Pesantren Miftahul Huda dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program tersebut.
Data terbaru yang dihimpun hingga Sabtu, 9 Januari 2026, pukul 21.30 WIB, mencatat sebanyak 658 orang terdampak dari total 2.904 penerima manfaat MBG di wilayah Gubug.
BACA JUGA : KAI Daop 4 Berlakukan Tarif Khusus KA Relasi Semarang-Cirebon, Mulai Rp80 Ribuan
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan laporan awal yang masuk ke petugas kesehatan.
Program MBG tersebut diketahui disalurkan oleh SPPG Sami Kaya Food yang berlokasi di Jalan Raya Gubug–Kedungjati Kilometer 2, Desa Kwaron, Kecamatan Gubug.
Makanan dari penyedia tersebut didistribusikan ke sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan di kawasan itu.
Sebelumnya, laporan awal menyebutkan sekitar 400 siswa mulai mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG. Para korban merasakan gejala seperti mual, nyeri perut, hingga muntah-muntah dalam waktu berdekatan.
Petugas menduga keterlambatan distribusi makanan menjadi salah satu pemicu munculnya gejala tersebut.
Makanan yang seharusnya diterima sekitar pukul 09.00 WIB baru sampai dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 11.00 WIB.
BACA JUGA : Warga Kediren Bersama Babinsa Randublatung Bangun Jalan Dukuhan Akses Warga
Dampak terparah tercatat di lingkungan SMP dan SMK Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Ngroto. Mayoritas korban berasal dari kalangan santri yang tinggal dan beraktivitas di lingkungan pesantren tersebut.
Pengurus Yayasan Miftahul Huda Ngroto, Fuad Abdillah, menjelaskan bahwa keluhan pertama kali dirasakan para santri pada malam hari setelah mereka menyantap menu MBG yang dibagikan siang hari.
“Pada malam hari, sebagian santri mengeluh sakit perut dan mengalami dehidrasi. Kami berinisiatif membawa mereka ke puskesmas terdekat,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut tidak berhenti pada beberapa santri saja. Keluhan serupa terus muncul dari santri lainnya, sehingga jumlah korban mengalami peningkatan cukup cepat dalam waktu singkat.
Melihat situasi yang berkembang, pihak yayasan segera mengambil langkah darurat dengan membuka pos pelaporan internal bagi santri yang merasakan gejala kesehatan serupa.
“Kami kemudian menyiarkan melalui mushala agar siapa saja yang mengalami keluhan serupa segera melapor,” kata Fuad, kepada wartawan.
BACA JUGA : Universitas Semarang Siap Kerja Sama dengan BBPI Kota Semarang
Pada Sabtu (10/1/2026), laporan sakit datang silih berganti. Santri putra dan putri, serta siswa dari unit pendidikan lain, mulai berdatangan untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Lonjakan jumlah korban membuat pihak yayasan bersama tenaga kesehatan setempat mengaku kewalahan. Petugas medis harus bekerja ekstra untuk melakukan penanganan dan pendataan secara bersamaan.
Berdasarkan pendataan terakhir, korban terbanyak berasal dari SMP Ponpes Miftahul Huda Ngroto dengan jumlah mencapai 251 orang. Sementara itu, SMK Ponpes Miftahul Huda Ngroto mencatat 151 santri putri terdampak.
Selain lingkungan pesantren, kasus dugaan keracunan MBG ini juga menjangkiti sejumlah lembaga pendidikan lain. Beberapa SD, TK, dan PAUD di Desa Ngroto, Glapan, Trisari, dan Penadaran turut melaporkan adanya korban.
Jika diakumulasikan, total korban keracunan MBG di Kecamatan Gubug mencapai 658 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 79 orang harus menjalani perawatan medis lanjutan dan mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan. Hingga Minggu (11/1/2026) dilaporkan sebanyak 40 orang dirawat di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo.
BACA JUGA : Wong-wong Yutun
Selain itu, 11 orang lainnya dirawat di RSUD dr R Soedjati Purwodadi, sementara pasien lain mendapatkan perawatan di sejumlah puskesmas di wilayah Grobogan.
Pihak rumah sakit juga mencatat dua pasien yang memilih pulang atas permintaan sendiri atau APS setelah kondisi mereka dinilai membaik oleh tenaga medis.
Hingga saat ini, dinas kesehatan bersama instansi terkait masih melakukan pendataan lanjutan dan pemantauan kondisi para korban keracunan.
BACA JUGA : Sekda Kota Tegal Pimpin Apel dan Kerja Bakti Bersama Urai Wilayah Terdampak Banjir
Upaya penelusuran penyebab dugaan keracunan MBG di kalangan santri Miftahul Huda Gubug juga terus berjalan.
Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko menjelaskan, pihaknya akan mengirimkan sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan ke Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Tengah pada Senin (12/1/2926).
“Kita kirimkan besok, kemudian kita juga meminta informasi ke Labkes tentang berapa lama waktu untuk menunggu hasilnya,” jelas dr Djatmiko.
Hingga saat ini, kata dr Djatmiko, jumlah pasien yang mendapatkan perawatan, baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas masih dalam kondisi dinamis.
“Jumlahnya masih bergerak,” pungkasnya.
TYA WIDYA













