blank
RSUD Getas Pendowo menjadi salah satu rumah sakit yang menerima rujukan pasien yang mengalami keracunan. Foto: dok Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Dugaan keracunan massal yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG menghebohkan Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, setelah ratusan siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dan tidak masuk sekolah.

Peristiwa dugaan keracunan tersebut mulai terungkap setelah pihak sekolah melaporkan lonjakan ketidakhadiran siswa sehari usai pembagian MBG kepada peserta didik di wilayah setempat.

Dinas Kesehatan Grobogan menerima laporan awal kasus tersebut pada setelah puskesmas setempat mencatat banyak siswa mengeluh sakit secara mendadak, Sabtu (10/1/2026).

BACA JUGA : Perkuat Literasi, PD Forum TBM Jepara Distribusikan Ribuan Buku untuk 42 Taman Baca

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko, membenarkan adanya laporan terkait dugaan keracunan yang dialami siswa dari berbagai jenjang pendidikan di Kecamatan Gubug.

“Kami menerima informasi siswa dari beberapa sekolah tidak masuk karena keluhan kesehatan,” ujar dr Djatmiko saat dikonfirmasi lewat pesan singkat.

Ia menjelaskan, laporan awal diterima dari Puskesmas Gubug 1 dan Puskesmas Gubug 2 yang mencatat adanya peningkatan pasien dengan gejala serupa dalam waktu berdekatan.

Sekolah-sekolah yang terdampak dugaan keracunan tersebut meliputi SD Trisari, SD Glapan, SD Penadaran, serta SMP, SMK, dan SMA Miftahul Huda yang berada di kompleks Pondok Pesantren Ngroto.

Menurut dr Djatmiko, dugaan sementara mengarah pada konsumsi MBG yang dibagikan kepada siswa, yang berasal dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Kuwaron, pada Jumat (9/1/2026).

“Ada laporan awal tiga orang yang mengalami keracunan, kemudian bertambah, bahkan informasi dari Puskesmas mencapai 13-an pasien, untuk jumlahnya belum bisa kita sampaikan karena masih on proses. Informasi dari Puskesmas, yang kami terima terus bertambah yang dirujuk,” jelas dr Djatmiko.

BACA JUGA : Bupati Blora Arief Rohman Dapat Apresiasi Tinggi saat Presentasi Ajaran Samin

Ia menegaskan, petugas kesehatan terus melakukan pendataan dan pemantauan karena jumlah pasien masih berpotensi bertambah.

Gejala yang dialami para siswa relatif seragam, mulai dari diare, muntah, hingga kondisi tubuh lemas setelah mengonsumsi menu nasi kuning, telur, dan abon yang dibagikan sebagai menu MBG tersebut.

Pihak Dinas Kesehatan bersama unsur terkait langsung bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan untuk memastikan kondisi korban tertangani dengan baik.

“Tindakan cepat sudah dilakukan di lapangan dengan koordinasi lintas instansi untuk penanganan dan pendataan korban,” kata dr Djatmiko.

Sementara itu, Camat Gubug Bambang Supriyadi menyampaikan bahwa pihak kecamatan menerima laporan resmi dari puskesmas terkait meningkatnya jumlah siswa yang izin tidak masuk sekolah.

BACA JUGA : Kemenkum Jateng Ajak Pelaku UMKM Daftarkan Merek, Lindungi dari Praktik Peniruan

Menurut Bambang Supriyadi, berdasarkan data dari Koordinator Wilayah Pendidikan, tercatat sekitar 460 orang yang terdiri atas siswa dan guru tidak hadir akibat dugaan gangguan kesehatan tersebut.

Mereka berasal dari SDN Trisari, SDN Glapan, SDN Penadaran, serta ratusan siswa SMP dan SMK Miftahul Huda di Kecamatan Gubug.

Pihak kecamatan terus berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan penanganan berjalan optimal dan mencegah kejadian serupa terulang.

“Penyebab sementara diduga keracunan massal MBG yang dibagikan Jumat dari SPPG Kuwaron,” terang Bambang Supriyadi.

Hingga saat ini, dugaan keracunan MBG di Gubug, Grobogan, masih dalam proses pendalaman oleh pihak terkait, termasuk penelusuran sumber dan pengawasan lanjutan terhadap distribusi MBG di wilayah tersebut.

TYA WIDYA