blank
Narasuber dan moderator acara Suluk Peradaban # 2 yang digelar di Aula Serba Guna Umat Budha Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara Rabu 7 Januari 2026 malam. Foto : Ali Burhan

JEPARA (SUARABARU.ID) – Ada  acara  menarik yang digelar di  Aula Serba Guna Umat Budha Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara Rabu 7 Januari 2026 malam. Yayasan Santren Karya Asta Parashima yang diinisiasi H. Udin telah menggelar  Suluk Peradaban Jepara #2 dengan tema “Membangun Bata-Bata Peradaban Jepara Berbasis Spiritualitas Agama”.

Acara yang dihadiri peserta dari berbagai agama di Jepara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber  diantaranya anggota DPR RI Jamaludin Malik, Gus Farid Abbad dari Kajen, Romo Franky Supriyanto, Pdt Joko Setyo dan pegiat budaya Jepara Hadi Priyanto.

blank
Narasumber dan peserta Suluk Peradaban #2. Foto: Dok Panitia

Acara yang dipandu Muhammad Nurchan ini juga dihadiri  aktivis budaya Jepara  Didin Ardiyansyah dan Wakil Ketua Lesbumi Ali Burhan yang juga Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Kabupaten Jepara.

Desa Blingoh dipilih oleh penyelenggara bukan saja karena  Santren Karya Asta Parashima berada di desa tersebut, tetapi  di tengah pelintasan sejarah Pantura Timur dan tantangan intoleransi global,  desa ini telah menunjukkan teladan harmoni lintas iman yang luar biasa.

blank
H. Udin ( kiri ), inisiator acara Suluk Peradaban #2 bersama peserta. Foto: Hadepe

Apresiasi  terhadap kegiatan ini muncul dari semua narasumber yang hadir. “Ini merupakan ikhtiar bersama merawat budaya dan sekaligus meneguhkan  pemahaman kita bahwa agama bukan sumber konflik,” ujar Jamaludin Malik. Hal senada juga disampaikan Romo Franky Supriyanto. “Dialog lintas iman ini menunjukkan bahwa ada kesadaran akan  penghormatan dan cinta antar pemeluk agama,” ujar Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Jepara ini.

Pdt Joko Setyo dari GITJ Blingoh Betlehem juga memuji kegiatan kebudayaan Suluk Peradaban. “ Ini sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk merawat harmoni yang telah terbangun,” ujarnya

blank
Ali Burhan, Wakil Ketua Lesbumi Jepara saat menyampaikan pemikiran dan gagasannya. Foto: Hadepe

Sementara Hadi Priyanto mengungkapkan lintasan sejarah Jepara yang dibangun dengan harmoni dan kebersamaan   para leluhur.  “Nilai keteladanan itu yang harus kita warisi. Namun ini  tidak mudah di tengah-tengah tantangan  semakin menguatnya pengaruh media sosial,” ujarnya. Karena itu spiritualitas agama harus dinyatakan untuk menjawab persoalan yang ada, tambahnya

Sedangkan Gus Farid  Abbad, dalam menghadapi tantangan budaya global diperlukan energi spiritual yang besar dan kembali ke jati diri kita sebagai suatu bangsa. “Kita lakukan kajian-kajian budaya lintas agama  dan  kemudian mengambil nilai – nilai  yang dapat diberikan kepada masyarakat sebagai inspirasi dalam menghadapi persoalan nyata. Dengan demikian semua orang akan merasakan pancaran berkah, rahmat, dharma dan kasih  Allah,” pungkas  Gus Farid Abbad.

Hadepe