blank
Perempuan pengrajin tenun Sumba yang tetap berusaha mempertahankan tradisi budaya leluhur. Foto: Getlost.id

SUMBA, sebuah pulau besar dalam gugusan kepulauan yang ada di wilayah Nusa Tenggara Timur. Karakter alamnya yang kering namun menyimpan keindahan alam yang penuh eksotika.

Pantai-pantainya yang indah, bukit-bukit savana, dan di tengah alamnya yang kering masih juga ditemukan air terjun yang menyejukkan. Di tengah hempasan zaman dan kemajuan yang yak tertahan, Sumba tetap mempertahankan tradisi leluhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Alam dan budaya menjadi fondasi utama kehidupan warga dalam menjaga keseimbangan hidup dan identitas masyarakat setempat. Pulau Sumba dikenal memiliki bentang alam savana, perbukitan kering, serta pantai-pantai alami yang masih terjaga. Kondisi geografis tersebut membentuk pola hidup masyarakat yang menyatu dengan alam, terutama dalam sektor pertanian, peternakan, dan kerajinan tradisional.

Seorang warga Sumba Timur, Rehabiam Kilimandu (49), seorang petani ladang, menuturkan bahwa adat dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sumba.

“Sejak dulu kami hidup berdampingan dengan alam yang keras. Karena itu, adat dan aturan leluhur menjadi pegangan supaya manusia tidak merusak keseimbangan alam,” ujar Rehabiam saat ditemui di Sumba Timur

Selain kekayaan alam, Sumba juga dikenal sebagai wilayah yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat. Sebagian masyarakat hingga kini masih memegang kepercayaan Marapu, sistem kepercayaan leluhur yang mengatur hubungan antara manusia, alam, dan roh nenek moyang.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam sistem sosial, ritual adat, hingga praktik pertanian tradisional yang dijalankan secara turun-temurun.

blank
Pasola, olahraga berdarah masyarakat Sumba. Mereka naik kuda sembari melempar tombak ke pemain lainnya. Foto: Tangkapan layar youtube

Keterikatan antara manusia dan alam salah satunya tercermin dalam tradisi Pasola, ritual adat sakral yang melibatkan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar lembing kayu. Bagi masyarakat Sumba, Pasola bukan sekadar pertunjukan budaya atau atraksi wisata, melainkan bagian dari upacara adat untuk memohon kesuburan tanah dan kesejahteraan masyarakat.

“Pasola adalah ritual sakral. Darah yang jatuh ke tanah dipercaya sebagai simbol kehidupan dan kesuburan,” jelas Rehabiam.

Di balik kekayaan budaya tersebut, masyarakat Sumba juga menghadapi tantangan alam berupa musim kemarau panjang yang berpengaruh terhadap aktivitas pertanian dan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini mendorong sebagian warga untuk mengembangkan sumber penghasilan alternatif yang tetap berakar pada budaya lokal.

Hal tersebut dirasakan oleh Delfiana (48), seorang penenun tradisional asal Sumba Tengah. Ia mengatakan bahwa aktivitas menenun menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus cara mempertahankan warisan budaya.

“Menenun bukan hanya sumber penghasilan, tapi juga cara kami mempertahankan budaya,” tutur Delfiana.

Kain tenun ikat Sumba merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi dan simbolik tinggi. Proses pembuatannya membutuhkan waktu lama dan ketelitian, mulai dari pemintalan benang, pewarnaan alami, hingga penenunan manual. Setiap motif mengandung makna filosofis tentang kehidupan, status sosial, serta hubungan manusia dengan alam dan leluhur.

Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata mulai berkembang di Pulau Sumba. Keindahan alam dan kekayaan budaya menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Pemerintah daerah mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal agar mampu meningkatkan perekonomian masyarakat tanpa menggerus nilai adat dan kelestarian lingkungan.

Meski demikian, masyarakat berharap pengembangan pariwisata dilakukan secara bijak dan berkelanjutan.

“Kami senang jika Sumba dikenal orang luar, tetapi budaya dan alam harus tetap dijaga. Jangan sampai hilang karena pariwisata,” kata Delfiana.

Pulau Sumba menjadi potret keteguhan masyarakat adat dalam menjaga warisan leluhur di tengah alam yang keras dan arus modernisasi. Bagi masyarakat setempat, tradisi dan alam bukan sekadar identitas budaya, melainkan dasar kehidupan yang harus dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang.

Yohana Djola Djoru-mg