WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Desa Joho di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, termasuk wilayah desa yang tidak memiliki aliran sungai atau alur kali. Meski demikian, bersamaan dengan keramaian warga menyambut malam pergantian Tahun baru 2026, wilayah tersebut dikabarkan digenangi air banjir.
Warga masyarakat Desa Joho, menyatakan, banjir terjadi Rabu sore (31/12/25), bersamaan guyuran hujan deras dengan intensitas cukup lama. Luapan air hujan, menggenangi wilayah Dusun Gandu, Desa Joho, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Yakni menggenangi ruas jalan kampung, pekarangan, lahan pertanian dan pemukiman warga.
Ketinggian genangan air banjir, ada yang relatif dangkal, ada yang setinggi lutut, setinggi paha dan setinggi perut orang dewasa. Banjir dadakan (mendadak) ini berlangsung Pukul 15.30, bersamaan dengan hujan deras yang turun dalam tempo relatif lama. Luapan air banjir, ada yang masuk ke dalam rumah warga.
Dandim 0728 Wonogiri Letkol Inf Rodricho Ivan Pattihahuan melalui Penerangan Kodim (Pendim) Peltu Indra, Kamis (1/1/26), menyatakan, telah menerima laporan bencana banjir yang terjadi di Desa Joho, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri. Tidak ada korban dalam bencana banjir tersebut. Seiring dengan meredanya hujan, genangan air banjir berangsur-angsur surut dalam tempo sekitar 2 jam.
Luweng
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, menyatakan, banjir yang dipicu oleh hujan deras tersebut, menggenangi sekitar 100 rumah warga. Enam rumah diantaranya, terendam agak dalam. ”Tidak menimbulkan korban,” tegas Kepala BPBD Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama.
Kepala Desa (Kades) Joho, Syamrawi, melaporkan, Dusun Dagu yang kebanjiran, berada dalam wilayah cekungan. Sehingga setiap terjadi hujan deras berkepanjangan dengan curah yang tinggi, selalu berdampak memunculkan genangan banjir di Dusun Dagu.
Upaya mengantisipasi banjir di Desa Joho, telah dilakukan sejak Tahun 2021. Diinisiasi oleh para Relawan Prabu dari Kecamatan Pracimantoro, bersama para relawan siaga bencana tingkat desa dengan melibatkan Perangkat Desa setempat. Mereka mencari mulut lubang perut bumi (luweng), diupayakan untuk tetap terbuka dan tidak tersumbat oleh seresah sampah atau tertutup oleh sedimentasi (endapan) lumpur. Tujuannya, agar ketika turun hujan deras, luapan airnya cepat tersedot melalui lubang luweng tersebut, langsung masuk ke perut bumi.
Tapi pada Dusun Dagu, posisi lubang luweng berada pada elevasi yang relatif lebih tinggi dari hamparan dusun. Sehingga, bila turun hujan deras berkepanjangan, masih terjadi genangan air banjir, meski akhirnya berangsur surut.(Bambang Pur)













