JEPARA (SUARABARU.ID) – Saat membuka Kelas Pelajar Mengukir Tingkat SD /MI, di Galeri Jepara Wood Carving di Pantai Kartini Jepara Rabu (10/11-2025), Ketua Yayasan Pelestarian Ukir Jepara, Hadi Priyanto menegaskan perlunya memperkenalkan seni ukir sejak usia dini kepada anak-anak saat berada di PAUD dan SD/MI. Sebab pelestarian alamiah melalui keluarga pengukir dan nyantrik di pengukir Jepara semakin jarang dilakukan.
Kelas Pelajar Mengukir Tingkat SD yang akan diselenggarakan dua hari ini diikuti oleh siswa SDN 2 Panggang, SDN 4 Panggang, SDN 5 Panggang, SDN 6 Panggang, SDN 9 Panggang, SDN 1 Kuwasen dan SDN 1 Bandengan.

Hadir dalam pembukaan ini, para guru pembimbing, pengurus Yayasan Pelestari Ukir, Pengurus Paguyuban Pengukir Perempuan RA Kartini, Paguyuban Pengukir Sungging Prabangkara dan para instruktur yang terdiri dari Sutrisna S.Pd, H. Maslim, Ali Afendi S.Sn, Riyanto, Sri Endarwati dan Zuafah. Pembukaan kelas Pelajar Mengukir ini ditandai dengan penyerahan peralatan mengukir kepada peserta secara simbolis.

Lebih jauh Hadi mengungkapkan,pelestarian melalui lembaga pendidikan ini juga tidak mudah sebab menghadapi kendala struktural. Sebab tidak ada lagi ruang pada kurikulum sekolah, termasuk pada muatan lokal. Sebab di Jawa Tengah, muatan lokal sudah ditetapkan adalah bahasa daerah.
“Disamping itu, tidak semua sekolah memiliki guru yang dapat mengajarkan seni ukir serta tidak tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan,” papar Hadi. Hal lain yang membuat seni ukir semakin di tinggalkan pewarisnya adalah kesejehtaran pengukir yang rendah jika dibandingkan dengan tukang kayu dan tukang batu.

Ia menjelaskan, kelas Pelajar Mengukir ini dimaksudkan untuk memperkenalkan seni ukir kepada siswa yang kemudian diharapkan dapat menumbuhkan minat dan keinginan siswa terhadap seni ukir. “Karena itu perlu tindak lanjut dari pelatihan yang hanya dua hari ini,” ungkapnya.
Menurut Hadi, untuk mengurai benang kusut pelestarian seni ukir ini perlu mulai dipikirkan peta jalan yang jelas dan terukur dengan membagi peran dan tanggung jawab para pemangku kepentingan.
Sebelum pelatihan dimulai, Sutrisno, S.Pd. mantan guru ukir SMPN 6 Jepara yang menjadi instruktur kelas Pelajar Mengukir menjelaskan secara rinci proses awal mengukir. Mulai memegang palu, pahat, jenis pahat hingga menatah.
Septiana Wibowo













