blank
KGPAA Mangkunegara X (membungkuk) bersama Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, menandatangani prasasti peresmian Taman Raden Mas Said di Monumen Batu Gilang Nglaroh.(Dok.Prokopim Wonogiri)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Penandatanganan prasasti peresmian Taman Monumen Raden Mas Said, dilakukan di Monumen Batu Gilang di Nglaroh, Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. ”Taman Raden Mas Said lokasinya berada di depan Mapolres Wonogiri,” jelas Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. Peresmiannya ditandai dengan penandatanganan prasasti secara bersama oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno dan KGPAA Mangkunegara X. Taman Raden Mas Said memiliki bangunan inti Tugu Tri Dharma.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, Taman RM Said tersebut menjadi salah satu monumen yang memiliki nilai historis terkait dengan sejarah perjuangan RM Said (Pangeran Sambernyawa). Tempat penandatanganan prasasti di Monumen Batu Gilang Nglaroh, karena tempat ini disamping memiliki nilai sejarah perjuangan Pangeran Sambernyawa, juga menjadi lahirnya Hari Jadi Kabupaten Wonogiri. Karena di Monumen Batu Gilang tersebut, menjadi cikal bakal (awal) berdirinya embrio pemerintahan perdana di Wonogiri.

Dalam sejarahnya, RM Said yang mendapatkan anugerah Pahlawan nasional dari Pemerintah RI, dikenal sebagai pejuang gigih yang mengobarkan Perang Sambernyawan, untuk memerangi ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda. Yakni melalui perang secara jejemblungan (gila-gilan pantang menyerah). Sebelum kemudian, menjadi tokoh pendiri dinasti Mangkunegaran bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.

Disebut sebagai Monumen Batu Gilang, karena di tempat tersebut ada peninggalan batu yang di permukaannya terdapat 5 cekungan. Budayawan Jawa Peraih Anugerah Bintang Budaya Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Parnoto Adiningrat MM, menyatakan, konon lima cekungan pada Batu Gilang itu, dulu dipakai untuk menentukan empat arah mata angin dan satu tengah sebagai inti kiblat, guna memulai serangan ketika Pangeran Sambernyawa melancarkan pertempuran. Yakni dengan berpedoman pada neptu (nilai) hari lengkap dengan pasarannya.

Sebagai cikal bakal lahirnya Hari jadi Kabupaten Wonogiri, ini erat kaitannya dengan Hari Rabu Kliwon Tanggal 3 Rabiulawal (Mulud) Tahun Jimakir Windu Sengara, dengan Candra Sengkala Rasa Retu Ngoyag Jagad (Tahun 1666 dalam Kalender Jawa). Atau Tanggal 19 Mei 1741 Masehi, dengan Surya Sengkala Kahutaman Sumbering Giri Linuwih.

Setelah meninggalkan keraton, karena diperlakukan tidak adil, RM Said ditemani oleh Paman Wiradiwangsa dan Raden Sutawijaya, kemudian menyanggrah (bermukim) di Tanah Perdikan Dusun Nglaroh, Desa Pule, Selogiri, Wonogiri. Langkahnya ini, kemudian disusul oleh 40 orang Punggawa Baku yang merupakan pendukung setia dengan sesebutan Kawan Dasa Jaya.

Bertempat di Monumen Batu Gilang Nglaroh, mereka mengatur strategi perjuangan untuk melancarkan perang. Ini diawali dengan pengangkatan Ki Wiradiwangsa menjadi Patih. Perang Sambernyawan selama 16 tahun, yaitu dari Tahun 1749 sampai 1757, yang berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Salatiga dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran.

Mangkunegaran

KGPAA Mangkunegara X, dalam sambutan pada upacara peresmian Taman Raden Mas Said, menyatakan, Praja Mangkunegaran telah berusia 268 tahun. Dalam sejarahnya, Wonogiri menjadi bagian dari Mangkunegaran. “Mangkunegaran dulu pernah ada di sini (Wonogiri),” tandas KGPAA Mangkunegara X yang dikenal pula dengan Gusti Bhre.

blank
Keluarga Besar Himpunan Kerabat Mankunegaran (HKMN) Selogiri, Wonogiri, pernah menggelar kenduri selamatan di Monumen Batu Gilang Nglaroh.(SB/Bambang Pur)

Wonogiri merupakan tanah yang special dan mempunyai sejarah panjang bagi berdirinya Praja Mangkunegaran. Di Wonogiri, banyak memiliki petilasan Mangkunegaran dan Mataram Islam. Yang keberadaan petilasan-petilasan tersebut, mempunyai nilai historis dan filosofis.

Sejumlah petilasan (peninggalan tempat keramat) bernilai sejarah Mangkunegaran tersebut, diantaranya adalah Monumen Watu Gilang Nglaroh, Makam Raden Ayu Matah Ati (Permaisuri KGPAA Mangkunegara I), Tugu Ireng Monumen Penyimpanan Pusaka Andalan Pangeran Sambernyawa, Pertapaan Sendang Siwani dan Rumah Tiban di Bubakan Kecamatan Girimarto.

Yang keberadaan sejumlah petilasan tersebut, memiliki nilai heroik sejarah perjuangan RM Said. Yang keberadaannya perlu dilestarikan, agar diketahui generasi penerus, dalam mengilhami semangat perjuangan, persatuan dan kesatuan. “Ikatan Wonogiri dengan Mangkunegaran tidak dapat dipisahkan,” tandas Bupati. Yang nilai sejarahnya, senantiasa menyertai masyarakat Wonogiri dalam upaya mewujudkan peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Acara peresmian Taman Raden Mas Said di Monumen Batu Gilang Ngalron tersebut, ada kaitannya dengan acara haul KGPAA Mangkunegara. Berkaitan ini, juga diisi dengan Bakti Sosial (Baksos) penyerahan bantuan dan pemeriksaan kesehatan gratis untuk masyarakat.(Bambang Pur)