blank
Eyang Narto, sang perawat bumi UKSW. Foto: UKSW

Sebagai seorang dosen bidang Taksonomi Tanaman, Eyang Narto percaya bahwa belajar harus dimulai dari mengenali realitas tanaman itu sendiri. Ia mengajak insan creative minority lainnya untuk menyentuh langsung tanaman, mencium aroma bunga, mengamati helai demi helai daun, agar memahami bahwa ilmu bukan hanya dari buku tetapi dari kehidupan sehari-hari.

Eyang Narto menegaskan, UKSW sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki peranan penting dalam pelestarian jenis flora bahkan fauna, ruang hijau di kampus bisa menjadi contoh dan teladan bagi universitas lainnya di Indonesia.

“Semua spesies pohon dan perdu yang di inventaris di kampus tergolong sekurang-kurangnya dalam empat puluh dua famili dan familia Arecaceae memiliki jumlah jenis terbanyak. Kalau di Indonesia dihuni tidak kurang dari 460 species palm, maka 0,002% nya sudah terwakili di UKSW,” jelasnya dalam buku Kampusku Floraku.

Eyang Narto menekankan bahwa anak muda harus memiliki hubungan nyata dengan tanaman yang ada di sekitar mereka.

“Jangan hanya mengetahui nama tanaman dari internet saja, melainkan juga mengenali bentuk aslinya, warnanya hingga karakteristik ilmiahnya. Kehadiran anak muda memiliki peranan penting untuk melanjutkan gerakan ini hingga lintas generasi,” ujarnya.

Pria berusia 83 tahun ini berharap UKSW memiliki tim khusus yang bertugas mengelola, mencari, menanam, dan merawat berbagai jenis tanaman di kampus ini.

Menanam pohon tidak selalu dari mahasiswa, tetapi juga harus melibatkan alumni dan masyarakat. “Dengan begitu, siapapun yang pernah menanam pohon di kampus ini akan memiliki ikatan emosional, rasa memiliki, dan menghargai lingkungan,” ujarnya.

Dedikasi Eyang Narto merupakan kontribusi kampus dalam mendukung program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita 4 yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan.

Ning S