blank
Agung Tri, inisiator Sambatan Roso. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Harmoni kerukunan beragama di Jepara  kembali mengemuka dalam perhelatan “Sambatan Roso # yang digelar Kampung Kranjangan, Troso, Pecangaan, Jepara, Sabtu 29 November 2025. Sambatan Roso  #7 yang mengupas tema Paska Manusia ini dipandu oleh  Agung Tri, pegiat budaya Jepara.

Dalam diskusi ini mengemuka, perlunya  langkah bersama untuk menghadapi terpaan media yang datang bagai air bah dan cenderung merusak moralitas, karakter  dan semangat persatuan kesatuan  masyarakat melalui berbagai platform digital

Diskusi ini menghadirkan empat narasumber dengan perspektif berbeda yaitu  Danang Kristiawan, Pendeta di Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Jepara; Hadi Priyanto, Budayawan, Penulis, dan Pegiat Literasi;  Ali Burhan, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM); serta (4) empat orang perwakilan dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) Jepara. Diskusi dimoderatori oleh Agung Tri.

blank
Narasumber Sambatan Roso bersama moderator. Foto: Dok

​Agung mengawali forum dengan memperkenalkan para narasumber dan menjelaskan relevansi tema Paska Manusia. Tema ini diangkat sebagai penghormatan terhadap  Almarhum Iskak Wijaya. Sebab seluruh narasumber pernah berinteraksi dengan Almarhum Iskak Wijaya, yang semasa hidupnya sangat gigih dalam membangun diskusi lintas agama.

Abdul Nasir (ABI) menyatakan rasa syukurnya karena forum semacam ini masih ada di Jepara, yang menurutnya penting untuk menjaga  dan menghormati keberagaman.  Sementara Hadi Priyanto mengungkapkan tokoh besar Jepara seperti Kartini, Rukmini, Kusumo Utoyo,   dr Cipto Mangunkusumo, dr Gunawan Mangunkusumo yang  jika ditilik dari rekam jejak perjuangan juga berinteraksi dengan tokoh-tokoh pergerakan dari lintas agama. “Karena itu gagasan dan spirit mereka harus terus di bumikan,” tambah Hadi Priyanto

blank
Ali Burhan, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat, Abdul Nasir (ABI), dan  Mukmin Al Jihad (ABI) . Foto: Hadepe

Hadi Priyanto mengusulkan, agar simpul-simpul gerakan kebudayaan di Jepara yang telah tumbuh diberbagai wilayah semakin kokoh, maka perlu dilakukan konsolidasi. ”Ibarat lidi, jika kita bergerak sendiri-sendiri  maka kurang maksimal. Berbeda jika lidi itu kemudian disatukan menjadi  sapu lidi, maka gerakan kebudayaan itu akan semakin kuat utamanya dalam menghadapi terpaan media sosial yang datang bagai air bah dan mencegah munculnya  kemungkinan disharmoni di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya

Untuk mencegah dampak negatif media digital dikalangan pelajar, Hadi mengungkapkan, perlu dilakukan  parenting terhadap orang tua oleh sekolah. Diantaranya literasi digital dan pola asuh anak.

blank
Pendeta Danang Kristiawan. Foto: Hadepe

Dari sisi literasi, Ali Burhan melihat tantangan berupa tingkat minat baca yang rendah. Ia menjelaskan upaya gerilya yang dilakukan Forum TBM untuk meningkatkan minat baca masyarakat tidak dapat  dilakukan secara masif karena berbagai keterbatasan. “Sementara perpustakaan desa yang justru dibiayai dengan dana APBDes terasa belum nampak kontribusinya dalam memperkuat literasi warganya,” ujarnya

​Mukmin M. Jihad (ABI), sesuai keilmuannya di bidang Tafsir Al-Quran, memaparkan bahwa tugas utama manusia hanya satu, yaitu li ya’budun—menjadi abdi atau hamba. Tugas manusia adalah mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan.

blank
Pesertadialog Sambatan Roso # 7. Foto: Dok

​Sedangkan  Danang Kristiawan mengambil pendekatan manusia di era digital. Ia menjelaskan bahwa “digital” berasal dari kata Digitus yang berarti jari, lantas membahas konsep “Manusia Profetik Digital,” yaitu manusia yang secara sadar menggunakan jarinya (di dunia digital). “Karena itu jika tidak dikelola dengan baik ini bisa menimbulkan problem  di tengah – tengah masyarakat,” tuturnya

Danang mengutip perkataan Almarhum Iskak Wijaya tentang ibadah: “Ibadah pengukir adalah dengan mengukir, petani dengan bertani.” Ia menyimpulkan dengan pesan agar tidak membandingkan diri dengan orang lain, melainkan fokus untuk terus melakukan upaya maksimal yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

blank
Hadi Priyanto saat bersama narasumber diaog Sambatan Roso #7

Partisipasi Audiens

​Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Selain narasumber, para audiens (peserta) juga turut berpartisipasi. Kafi dari Pecangaan berpandangan bahwa forum ini penting untuk menciptakan suasana rukun, selain menjadi ruang belajar untuk membangun narasi Kartini sebagai intelektual sekaligus spiritualis.

Senada dengannya, Haris menyampaikan pentingnya terus menjaga cahaya, agar alih-alih dari gelap terbitlah terang, cahaya itu justru terus menyala dan semakin terang dari waktu ke waktu.

Kehadiran generasi muda tampak dominan malam itu. Dua perwakilan Gen Z, Syafrie dan Hadi, berbagi cerita mengenai aktivitas literasi mereka, termasuk komunitas Bookclub Jepara yang rutin mengadakan bedah buku setiap hari Minggu. Syafrie juga menceritakan aktivitas membuat zine mengenai sepak bola (Persijap) dan hobi adventure ke makam tua, air terjun, dan mata air.

Hadi menyampaikan kritiknya tentang akses ke buku yang sulit. Ia bercerita pernah berdiskusi dengan petugas Perpustakaan Daerah (Perpusda). Petugas tersebut menyebutkan bahwa anggaran untuk perpustakaan desa jika dikumpulkan lebih besar daripada Perpusda. Namun, di desanya, Hadi mengaku belum menemukan bagaimana cara mengaksesnya.

Hadepe – Atril